CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 81. KEMBALI DUDUK BERSAMA


__ADS_3

Lion dan Iren kini sudah berada di sebuah Ruang privasi yang ada di sebuah restoran tidak jauh dari butik milik Iren. Mereka berdua masih terdiam dengan posisi duduk saling berhadapan. Lima tahun telah berlalu, ini kali pertama mereka dipertemukan kembali setelah penyekapan yang dilakukan lion setelah pemberkatan pernikahan mereka. Selama itu pula tak ada lagi cinta, semuanya menguar bersama dengan dendam Lion yang begitu membara.


"Bicaralah." Ucap Noureen setelah mereka terdiam cukup lama. Sesekali terlihat Iren membuang nafasnya. Tentu saja dengan pelan, ia tidak ingin membuat Lion curiga dengan expresinya yang saat ini terlihat sangat tidak nyaman. Namun, bukan Lion namanya jika ia tidak tahu tentang kondisi Iren saat ini.


"Apa benar dia putra ku?" Tanya Lion. Ia menatap wajah iren kemudian beralih menatap Sean yang saat ini sedang duduk tenang sambil menikmati puding yang telah Iren pesan terlebih dahulu.


Iren mengangguk pelan." Benar dia putra mu." Balas iren.


Seketika mata Lion berkaca-kaca. Ia memejamkan matanya kemudian menegadakan kepalanya ke atas lalu kembali menatap Iren dengan tersenyum miris, bibirnya terlihat bergetar.


"Sudah lima tahun kau menyembunyikan ini dariku dan tak berniat memberi tahuku tentang keberadaan putra ku." Todong lion.


Dengan cepat Iren menggeleng.'' Tidak, itu semua tidak benar. Kau salah paham. aku tidak berniat menyembunyikan ini semua dari mu. Lima tahun yang lalu setelah Rey membawaku keluar dari mansion mu. Aku di rawat di institute mental of Singapore selama kurun waktu dua tahun. Saat itu Aku menjadi orang yang tak mengenali diri ku sendiri. Aku divonis mengalami gangguan mental yang cukup parah di kehamilan ku yang menginjak ke 8 Minggu. Aku menghabiskan waktu kehamilan ku sendiri di rumah sakit. Hari demi hari aku lalui seperti orang linglung. dan tiba saat persalinan ku, aku melahirkan putra pertama ku di rumah sakit. Namun dalam kondisi yang sama. Hingga pihak rumah sakit menghubungi Daddy dan mommy untuk segera menjemput Sean di rumah sakit. Hari demi hari berlalu, hingga tepat dua tahun aku terpenjara di rumah sakit, akhirnya pihak rumah sakit mengatakan jika aku sembuh dari gangguan mental." Iren terdiam, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu kembali bercerita. "Setelah aku kembali. aku mendapati seorang balita kecil yang langsung berlari ke arah ku dengan memanggil ku." Mommy." Mendengar panggilan itu, Aku seolah mendapat kekuatan untuk menata hidupku kembali terlepas dari surat pembatalan pernikahan kita yang daddy layangkan tanpa sepengetahuan ku." Sambung Iren. Ia menyeka kedua matanya yang saat ini berair.


Sedangkan Lion. Ia terdiam cukup lama, entah apa yang pria itu pikirkan sekarang. Apa ia menyesal? atau merasa bersalah? Entahlah.


Setelah lama terdiam, Lion menengadahkan kepalanya ke atas, ia tidak ingin terlihat lemah didepan Iren. Tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ada penyesalan yang ia rasakan.

__ADS_1


Lion kembali menatap Iren." Apa kau lelah mengurus Sean seorang diri?"


Mendengar perkataan Lion. Sontak membuat Iren tersenyum." Tidak sama sekali, aku bahagia dengan kehadiran dia. Dia malaikat kecil yang memberi senyum indah di setiap hari ku." Ujar Iren dengan menatap sang putra.


Lion tersenyum kecut mendengar perkataan Iren. Setelah lima tahun terpisah ini kali pertama mereka kembali duduk dan berbincang seperti dulu. Namun saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu, dulu terlihat jelas cinta di mata Iren untuk Lion. Namun saat ini ia memandang Lion dengan tatapan datar.


"Bolehkah aku menggendongnya.'" pinta Lion.


Iren tersenyum dan langsung mengangguk."silahkan." pungkas Iren.


"Hay, boy." Lion menatap putranya, ada rasa haru yang menyeruak di dalam dadanya kala menatap bocah yang merupakan darah dagingnya yang baru beberapa jam lalu ia ketahui.


mendengar seseorang menyapanya. Sean mendongak." ada apa, uncle." jawab Sean sambil fokus menyuapkan puding masuk ke dalam mulutnya


Lion kembali tersenyum miris, bahkan putranya sendiri tidak mengenali daddynya.


"bolehkah, uncle menggendong mu." tanya Lion.

__ADS_1


Sean mengeleng." No." tolak bocah itu.


"kenapa?" tanya Lion. ia menekuk setengah badan.


"apa uncle tidak melihat ku." ujar bocah itu menolak di gendong. saat ini tangannya belepotan dengan puding. tidak mungkin ia mau di gendong, ia tidak ingin mengotori jas yang di kenakan Lion saat ini.


walaupun Sean baru menginjak usia 4 tahun. tetapi Iren sudah mengajarinya banyak hal. itu sebabnya di usianya yang menginjak 4 tahun Sean termasuk anak yang cerdas.


Lion tersenyum kemudian mengusap kepala putranya dan kembali duduk tepat di depan Iren.


"apa kau tidak keberatan jika aku mengunjunginya." ujar lion.


Iren tersenyum dan kembali mengangguk." asal kau tidak melakukan hal lebih selain mengunjunginya."


mendengar perkataan Iren. Lion merasa hatinya tercubit. ia seolah tidak memiliki andil dalam kehidupan putranya. pria tampan, arogan serta berkuasa kini seperti debu yang tak ada nilainya.


 

__ADS_1


__ADS_2