
Lion mondar mandir di dalam kamar yang cukup luas. Sudah 2 jam ia menunggu. Namun, yang ditunggu belum juga sadar.
Ia mendengus beberapa kali, lalu kembali mengusap wajah nya dengan kasar. Ia berjalan ke arah ranjang dan langsung mendudukkan tubuhnya di sana. Lion kemudian meraih tangan Irene dan menggenggamnya. Ia menatap wajah Irene yang belum juga sadar, wajahnya memucat dengan kelopak mata yang masih terpejam.
Melihat itu tangan Lion seketika mengepal." Siapa lagi yang berani bermain-main dengan ku."Lion berucap dengan mata yang memerah menahan emosi.
Ya, beberapa jam yang lalu saat Irene akan dibawa paksa oleh beberapa pria bertubuh besar. Segerombolan pria dengan berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitamnya datang menyelamatkan Irene yang saat itu akan di bawa paksa oleh beberapa pria. Beruntung orang-orang yang Lion suruh untuk mengawasi Irene segera datang dan langsung menyelamatkan Irene dari beberapa pria yang akan membawanya. Salah satu bodyguard itu pun lalu membawa Irene menepi." Anda tidak apa-apa, nona?" Tanya pria itu.
Belum juga Irene menjawab, seketika pandangannya mengabur, rasa pening menjalar ke seluruh bagian kepala, ditambah rasa syok yang menderanya, membuat Ia tumbang dalam hitungan detik.
"Nona, nona," panggil bodyguard itu sambil menepuk-nepuk pipi Irene beberapa kali. Mendapati Irene tidak sadarkan diri, membuat pria itu segera membawa Irene pergi meninggalkan tempat itu. Sementara di tempat itu masih terjadi aksi saling serang antara kedua kelompok.
__ADS_1
***
Mata Irene mengerjap beberapa kali, dahinya mengerut saat aroma terapi menjalar hingga menusuk Sampai ke Indera penciumannya. Samar-samar ia mulai membuka matanya dan melihat isi sekeliling ruangan itu yang terlihat tampak asin baginya, ia seketika menyadari jika ruangan ini bukan kamarnya. Ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu saat Beberapa mobil menghadangnya dengan menodongkan senjata ke arahnya.
Menyadari itu, seketika Irene bangkit, ia meringsek mundur. Tubuhnya gemetar dengan wajah yang semakin memucat. Bayangan-bayangan pria bertubuh kekar dengan senjata di tangannya menari-nari di ingatannya.
Mengingat hal itu, seketika dua bulir bening kembali terjatuh dari kedua matanya. Ia menangis sambil memeluk kedua kakinya yang saat ini bergetar hebat.
Tak lama pintu kamar mandi terdengar terbuka. Tubuh Irene semakin bergetar, ia menenggelamkan wajahnya di kedua bagian lututnya sambil memanjatkan doa-doa.
"Tolong lepaskan aku," Irene berucap dengan tubuh yang semakin bergetar.
__ADS_1
Lion yang berada di sisi ranjang Semakin murka saat melihat Irene terlihat sangat ketakutan. Ia tahu saat ini kekasihnya sedang menghadapi tekanan mental yang sangat kuat.
Lion lantas semakin mendekat dan langsung mendudukkan tubuhnya di sisi Irene. Tangannya tellulur membelai pucuk kepala Irene, tetapi dengan cepat Irena menepisnya.
"Jangan sentuh aku." Irene berucap dengan mata yang masih terpejam.
"Hay, baby. Ini aku," Lion berucap.
Mendengar suara yang tak asing baginya, seketika Irene mengangkat wajah dan menatap ke arah sumber suara. ia menghambur memeluk tubuh Lion yang saat ini duduk di depannya, tangisnya seketika pecah, ia memeluk tubuh Lion dengan sangat erat.
"Aku takut. Hiks...hiks…"Irene semakin menagis di pelukan Leon, ia menyembunyikan kepalanya ke dalam dekapan Leon.
__ADS_1
"Kamu tenang, baby. Ada aku disini, tak ada yang berani menyakitimu selama aku masih berada di sini." Lion berucap dengan membelai rambut panjang Irene yang saat ini tergerai.