
Rey menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian mulai bercerita." Gadis itu. Tadi saat aku mengajarinya latihan menembak, dari tatapannya, aku merasa, jika ada ketulusan darinya, tapi kau tahu sendiri bukan, aku tidak mungkin mencintai orang lain selain Iren." Ujar Rey.
Tom tersenyum mendengar ucapan Rey."aku sudah mengingatkanmu dari awal, jangan pernah bermain api jika kau takut terbakar, tetapi kau tetap mengikuti hal bodoh yang aku sarankan."tom menatap Rey, kemudian menepuk pundak Rey."berhentilah dan cepat selesaikan semuanya, jangan sampai ada hati yang menjadi korban." Pungkas Tom.
Rey mengangguk." Secepatnya aku akan segera menyelesaikan nya."
SEBULAN KEMUDIAN.
"Apa kau sudah siap," Tanya Rey pada Sera yang saat ini mulai memakai sarung tangannya dan menyelipkan beberapa pisau lipat di rompinya.
Sera tersenyum dan mengangguk," sudah."
Setelah mendengarkan jawaban Sera, Rey mengajak Sera untuk bergabung dengan beberapa pria bertato dan bertubuh besar untuk menjelaskan jalan mana saja yang mereka akan lewati saat berada di mansion lion.
Tak lama terdengar suara ponsel dari dalam saku Rey. Rey beranjak dari tempatnya dan menjauh. setelah itu Rey kemudian merogoh sakunya lalu mengangkat panggilan telepon dari seberang sana.
"Baik, lah," balas Rey ia mematikan ponselnya. Setelah itu, Rey kembali bergabung dengan beberapa anak buahnya.
" Jam 10, kita akan mulai bergerak masuk, sebentar lagi mereka akan meningkatkan mansion menuju ke mausoleum, pastikan kalian semua tetap waspada dan jangan sampai kalian lengah ataupun gagal." Seru Rey pada beberapa anak buahnya.
__ADS_1
Seketika mereka semua mengangguk.
Hari ini adalah hari peringatan kematian orang tua Lion dan Audrey. Setiap perayaan Kematian orang tua mereka, Lion dan Audrey selalu datang ke mousoleum hanya untuk mengirimkan doa, mengobrol dan menyimpan buket bunga di kedua nisan orang tuanya.
***
Pukul 09.45 Rey dan para anak buahnya mulai bergerak memasuki mansion. di pintu belakang, mereka semua berpencar sedangkan Rey dan Sera perlahan masuk ke dalam mension dan bertemu dengan seorang pria tua yang akan membantunya melewati jalan belakang menuju ke sebuah lorong yang tersambung langsung dengan gudang tempat penyimpanan bahan makanan dan dapur.
Setelah Rey dan Sera keluar dari gudang, perlahan Rey berjalan Menuju tangga, dengan posisi terus waspada. Rey terus berjalan dan melangkah menaiki tangga sedangkan Sera terus waspada berjalan di belakang Rey.
Sesampainya di lantai dua, Rey berhenti berjalan, ia memundurkan tubuhnya saat melihat ada dua bodyguard yang berjaga di pintu kamar utama."awkkk," pekik Sera saat menubruk tubuh Rey. Seketika Rey panik saat Sera mengeluarkan suaranya. dengan cepat Rey membekap mulut sera. Mereka berjongkok dan rey menunjuk dua orang yang berjaga di kamar utama.
"Akk," teriak pria itu saat sebuah pisau menancap ke dadanya. Pria itu terjatuh dan langsung tersungkur ke lantai dengan darah segar yang mengalir tanpa henti. Melihat temannya terkapar, bodyguard yang masih berdiri di depan pintu kamar utama berjalan lalu mengangkat senapannya. Baru saja ia akan menembak, tetapi Sera terlebih dulu kembali melempar pisau ke arah bodyguard itu.
Setelah melihat kedua bodyguard itu sudah terkapar, Rey dan sera bangkit, mereka melanjutkan langkahnya menuju pintu utama. Saat mereka sampai di pintu utama, Rey merogoh sakunya dan langsung mengambil kunci duplikat kamar utama kemudian membukanya. Ya, ada seseorang di dalam mansion lion yang membatu Rey membebaskan Iren.
Saat pintu kamar utama terbuka, seketika Rey terdiam, tenggorokannya seolah tercekak. Tangisnya luruh saat melihat pemandangan yang membuat tubuhnya seolah tercabik-cabik.
"Ren," panggil Rey. Namun, tak ada respon dari Iren, ia hanya menatap keluar jendela tanpa menoleh ke arah Rey.
__ADS_1
Rey berjalan mendekat, setelah ia sampai di depan Iren, Iren masih tidak meresponnya, dan masih saja menatap keluar jendela. Rey memeluk tubuh Iren, seketika tangis Rey pecah melihat kondisi sang adik yang diam tanpa merespon apapun, setelah memeluk iren cukup lama, Rey melepaskan pelukannya dan berjongkok tepat di depan Iren, ia menggenggam tangan Iren."ada apa dengan mu, kenapa kau bisa jadi seperti ini." Tanya Rey, ia menatap iba pada kondisi Iren saat ini. Tubuh kurus dan pucat seolah sudah tidak ada kehidupan di sana.
"Rey cepat! Kau Jangan diam saja," ujar Sera saat melihat Rey yang masih berjongkok di depan Iren.
Mendengar ucapan Sera, Rey lalu mengangguk dan langsung mengangkat tubuh Irene ala bridal style.
.
.
.
.
Terimakasih karena sudah mampir.
semoga kalian semua diberi kesehatan.
Jangan lupa
__ADS_1