
Lion mengeram dan menghempaskan semua barang yang ada di ruangannya, sudah sebulan Iren pergi dan hari ini, ia mendapatkan surat pembatalan pernikahan. Tantu saja emosinya meledak. Rey dan mahesa tidak menyerah sedikitpun, padahal ia sudah menyuruh semua perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan Gantari untuk menarik semua saham Mereka, Alhasil perusahaan Gantari terancam mengalami kebangkrutan. Namun hal itu tidak membuat perusahaan Gantari goyah, Rey terus berusaha mencari suntikan dana. Untung saja rey memiliki bisnis properti yang bisa menopang perusahaan Gantari untuk sementara waktu, sampai gantari mendapatkan suntikan dana dari perusahaan yang akan bekerjasama dengannya.
"Apa-apaan ini!" Geram Lion meremas kertas yang baru saja dibawa jeremy padanya." Siapa yang memberikan ini pada mu?"tanya Lion.
"Seorang kurir, tuan." Jawab jaremy, ia menunduk saat menjawab pertanyaan tuannya.
"Rey, Mahesa! berani sekali kau, apa kau tidak tahu berurusan dengan siapa!" geram Lion. Ia menatap lurus kedepan." Pastika tidak ada perusahaan yang akan bekerjasama lagi dengannya, jika ada yang berani menolak permintaan ku, maka buat perusahaan mereka hancur." Pungkas lion.
"Baik, tuan." Jawab Jeremy sambil menunduk.
"Kau keluar! siapkan dua ****** yang akan melayaniku, cari ****** yang terbaik, jika tidak, nyawamu akan melayang." Seru lion pada Jeremy.
Mendengar ucapan Lion, seketika Jeremy bergidik ngeri." Baik tuan." Balas Jeremy lalu meninggalkan ruangan Lion.
Setelah jeremy keluar. Lion berjalan ke arah kulkas ia mengambil sebotol vodka, dan kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya kemudian menyesap vodkanya.
Saat sibuk menyesap Vodkanya, tiba-tiba nama Iren terlintas di kepalanya. Ia kembali teringat saat perjumpaan mereka beberapa tahun silam." Tuan, bisakah aku mengukur tubuh, anda?" Ucap gadis polos yang di ketahui sedang magang di sebuah butik terkenal di New York.
"Tentu saja tidak. Berani sekali kau ingin menyentuh tubuhku." Balas lion.
Hari itu desainer yang akan mengukur tubuh Lion tidak sempat datang, karena ada salah satu kerabatnya mengalami kecelakaan dan iren yang di tugaskan mengantikannya. Namun, saat Iren sampai di Muller crop. Lion malah menolak untuk di ukur oleh anak magang. Ia berfikir jika anak magang yang mengukur tubuhnya, toksedo yang akan ia kenakan di hari ulangtahun perusahaannya tidak akan Bagus. Alhasil Iren harus extra sabar menghadapi pria garang yang ada di depannya.
" Tapi….tuan, bagaimana dengan toksedonya." Tanya Iren.
"Itu bukan urusanku. aku ingin tiga hari lagi toksedo itu selesai." Sambung Lion.
"Lalu kami harus memakai ukuran apa tuan, jika tuan saja tidak membiarkan aku untuk mengukur tubuh anda."balas Iren. Ia memutar bola matanya, andai pria di depannya bukan klien penting butik tempatnya magang, mana mungkin ia mau mengukurnya. Mungkin sejak tadi Iren sudah pergi.
"Sudah ku katakan, itu bukan urusanku, pikir saja sendiri."pungkas lion.
Mendengar ucapan Lion. Iren membuang wajahnya ke sembarang arah."itu bukan urusanku, itu bukan urusanku, tentu saja urusan mu. Toksedonya kau kan yang akan mengenakannya." Omel Iren dengan suara yang super pelan. Namun hal itu masih tertangkap oleh pendengaran Lion.
"Hey, apa yang baru saja kau ucapkan, coba ulangi." Seru lion.
__ADS_1
Seketika Iren tersenyum kecut, ia mengaruk tengkuknya." Aku tidak mengatakan apa-apa tuan, tadi ada seranga yang terbang jadi aku berbicara dengan serangganya." Elak Iren dengan senyum yang super manis.
Melihat tingkah laku Iren. Lion mengeleng, ia langsung tersenyum. Padahal selama ini ia jarang sekali tersenyum. Tapi gadis polos di depannya mampu membuatnya tersenyum.
"Siapa namamu." Tanya Lion menunjuk Iren.
"Apa tuan tidak melihat ini." Iren memegang tag name yang ada di dadanya. IRENE GANTARI, panggil saja Iren." Ucap Iren pada lion.
Lion mengerutkan keningnya, seperti pernah mendengar nama itu.
"GANTARI?" Ujar lion.
"He,em GANTARI. Memang ada apa dengan nama gantari?"tanya Iren.
"Lupakan saja." Lion mengeleng."Jadi bagaimana cara kau membuatkan ku toksedo.
"Yah, jika tuan berkenan di ukur, aku akan membuatkan toksedo terbaik untuk tuan." Pungkas Iren.
"Kalau aku tidak ingin diukur oleh mu, bagaimana?"
"Hey, tunggu." Panggil Lion.
Seketika Iren tersenyum, saat Lion memanggilnya, ia bersorak gembira. Ternyata untuk membujuk pria di depannya sangatlah mudah.
"Jika kau membuat toksedo yang buruk untuk aku, apa hukuman mu?" tanya Lion.
Seketika Iren membulatkan matanya"Apa-apaan ini, mana mungkin aku ingin di hukum."
"Mau tidak, jika tidak. aku akan memberitahu pada desainer mu jika kau tidak becus dalam melayani costumer." Ancam Lion.
"Ya sudah, terserah tuan saja." Pungkas Iren. Ia lelah berdebat dengan pria di depannya. Yang ada ia akan kalah terus dan membuang-buang Waktunya saja.
***
__ADS_1
Lion berjalan ke arah sofa, di sana sudah ada Iren menunggunya.
"Rentangkan tangan tuan." Seru Iren.
"Apa-apaan kau, kau berani menyuruhku!" Lion menatap tajam ke arah iren.
Iren kembali bernafas panjang. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia lalu merentangkan tangan Lion dan dengan cepat langsung mengukurnya."kan bagini bagus tuan, " ucap Iren saat berhasil mengukur tubuh Lion.
Namun saat Iren akan mengukur lingkar dada Lion, seketika ia merasa gugup, saat berada dalam posisi sedekat ini, hembusan nafas Lion jelas terasa menepa wajahnya. Ia memejamkan mata dan dengan pelang ia menghembuskan nafasnya nya dan kembali mengukur lingkar dada Lion.
Melihat tingkah Iren, ada segaris tipis senyum yang terbingkai di wajah pria yang terkenal dengan kekejamannya.
"Sudah," ujar Iren. Setelah mengukur tubuh Lion, ia mengangkat wajahnya dan langsung bersitatap dengan mata Lion, seketika pandangan mereka terkunci, mereka bertatapan cukup lama hingga terdengar ketukan pintu dari luar. Seketika mereka tersadar. Iren cepat-cepat membuang wajahnya ke arah lain.
"Tuan," panggil jeremy. Menyadarkan Lion dari lamunannya.
"Apa kau tidak bisa mengetuk!"bentak lion, menatap tajam pada Jeremy.
"Tadi aku sudah mengetuk berkali-kali, tetapi tuan tidak menyahut,"balas Jeremy.
"Yah sudah. Ada apa?"
"Wanita yang anda pesan sebentar lagi akan datang, tuan."
"Baiklah, suruh mereka langsung masuk keruangan ku."
"Baik tuan," balas Jeremy dan langsung keluar dari ruangan Lion.
Setelah Jeremy pergi, Lion meremas kepalanya saat tanpa sadar ia memikirkan Iren kembali. padahal ia sudah mati-matian melupakan wanita itu, wanita yang mengalir darah Albert di sana." Ada apa dengan ku, kenapa aku mengingatnya."ujar lion dan kembali menyeruput minumannya.
.
.
__ADS_1
.
Terimakasih karena sudah mampir, Jangan lupa Tinggalkan jejak. maaf telat up, jaringan hilang seharian ini.🙏🙏🙏