
Tom menyembur air yang baru saja ia minum. Lalu berbalik ke arah Rey.
"Ah, itu bukan alasan yang logis, pasti ada sesuatu. Tidak mungkin hanya karena berurusan dengan orang kaya lantas ia menolak untuk membantu mu,"ujar Tom.
"Entah lah, aku juga sudah mengikutinya beberapa hari ini, Namun ia masih enggan untuk menolongku, padahal aku ingin membayarnya sepuluh kali lipat. Tetapi ia tetap kekeh dan tidak ingin membantu ku."pungkas Rey.
Tiba-tiba muncul ide gila Tom. Bagaimana kalau kau mempacarinya saja. Setelah dia membantumu, kau tinggalkan dia." Ucap Tom.
Dengan refleks Rey memukul kepala tom. "Kau memang selalu membuat ku kesal," ujar Rey. Ia mendengus kesal pada asistennya itu. Tom memang selalu asal bicara.
"Kan itu cuma saran, mau didengar atau tidak itu terserah kau." Balas Tom
"Cepat jalan! tidak usah banyak bicara! kepala ku pusing mendengar ocehanmu. Cepat jalan! atau gajimu aku potong!." Pungkas Rey. Setelah mengucapkan itu, ia menyadarkan tubuhnya ke belakang lalu memejamkan mata. Otaknya sudah buntuh, ia sudah tidak memiliki cara untuk membebaskan sang adik.
***
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dengan menggunakan udara, akhirnya Lion menginjakkan kakinya di Kanada, lebih tepatnya di kota Toronto.
Lion menyewa sebuah unit apartemen yang tidak jauh dari Geraldine crop, perusahaan milik Alex yang saat ini di pegang oleh putranya Andrean.
Lion kemudian melangkah memasuki unit apartemennya setelah menekan kode PIN digital door lock. Sesampainya di dalam kamar Lion membuang tubuhnya ke kasur. Hingga saat ini ia tidur dengan posisi tengkurap. Walaupun perjalanan tidak memakan waktu yang cukup lama. Namun tubuhnya terasa sangat lelah ia butuh beristirahat selama beberapa menit sebelum ia menyusun kembali Rencana untuk menghabisi Alex.
Beberapa menit kemudian, Lion bangkit dari kasur, dan berjalan ke kamar mandi. Setelah membersihkan seluruh tubuhnya. Ia keluar dan langsung berjalan menuju meja kerjanya. Saat ini, ia akan akan menyusun rencana agar bisa bertemu dengan Alex.
Setelah ia sampai, Lion mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya lalu membuka lebtop. ia akan mencari tahu tentang Andrean terlebih dahulu dan kegiatan apa saja yang perusahaannya sering adakah setiap Minggu.
Lion fokus membaca-baca riwayat tetang Andrean, seketika pikirannya kembali berputar beberapa tahun silam, bukankah pria ini yang pernah bekerja sama dengan perusahaan milik suami Audrey dan perusahaan suami Audrey mengalami kerugian yang cukup besar akibat perusahaan andrean. Untuk saja Lion dapat menopang perusahaan milik suami Audrey kalau tidak mungkin perusahaan suami Audrey sudah bangkrut sejak dulu.
Keesokan harinya. Lion berdiri di depan meja kerjanya yang ada di apartemennya di Toronto. sambil melihat-lihat revolver canggih yang ada di depannya.
Ia memilih salah satunya, kemudian mengisi penuh peluru. Setelah itu, ia mencoba memegang senjatanya sambil sesekali mencoba mengarahkan senjatanya kedepan. kemudian ia kembali tersenyum puas, akhirnya selangkah lagi dendamnya akan terbalas.
__ADS_1
"Alex, bersiaplah. aku tak akan pernah mengampuni mu." lirih Lion dan langsung memasukkan senjatanya kedalam saku jasnya. kemudian melangkah keluar dari unit apartemennya.
.
.
.
.
Terimakasih karena sudah mampir🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak.
***
__ADS_1