CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 11. CEMAS


__ADS_3

Kau serius?"Irene tampak belum percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Iya, aku serius, mari kita menikah. Kita akan mengucapkan janji suci pernikahan di altar dan disaksikan oleh Tuhan."pungkas Lionel.


Irene masih diam, ia tampak mencerna apa yang baru saja diucapkan Lionel barusan.


"Kenapa? Apa kau tidak mempercayaiku?" Ucap Lion. Ia menangkup kedua pipi Irene lantas memandang mata bulat yang kini memerah akibat terlalu banyak menangis.


Dengan cepat Irene menggeleng." Bukan begitu, hanya saja kau memberitahuku secara dadakan. Kita belum  pernah membicarakan ini sebelumnya." 


Lionel tersenyum, tangannya terangkat menghapus sisa jejak air mata yang masih mengenang di pelupuk mata Irene," apa bedanya merencanakan sebelumnya dengan merencanakan secara dadakan. Toh semua itu sama saja menurut ku, sama-sama mengucapkan janji suci pernikahan di Altar Gereja Dan disaksikan oleh tuhan."


Mendengar perkataan Lionel berusan, seketika senyum Irene mengembang. Senyumnya yang indah serta bibir yang merah dan wajah yang terlihat berbinar, menandakan jika wanita itu bahagia mendengar ucapan kekasihnya barusan.


"Will you marry me?" Lion berucap dengan menggenggam kedua tangan Irene.

__ADS_1


Mendengar ucapan Lionel seketika Irene mengangguk,"yes i do."


Lion tersenyum mendengar Jawaban Irene, ia kemudian mencium kedua punggung tangan Irene dan langsung membawanya ke dalam dekapannya.


"Terimakasih karena kau bersedia menikah dengan ku," pungkas Lion. Tangannya terangkat mengusap-usap kepala Irene.


Irene mengangguk tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagia di wajahnya.


"Besok aku akan mengajakmu mengunjungi makam ke dua orang tuaku, setelah itu kita ke Italia bertemu dengan kak Audrey dan juga Kakek Gary yang selama ini mengurus ku. setelah itu aku akan datang kerumahmu bertemu dengan kedua orang tua mu." Lanjut Lionel.


***


Irene memutar tubuhnya beberapa kali, Sudah pukul satu dini hari. namun, matanya belum juga bisa terpejam. Sedangkan Lion yang berada di samping sudah tertidur dengan sangat pulasnya. Terbukti dari suara dengkurannya yang menandakan jika pria itu sudah berada di alam bawa sadarnya.


Irene mendengus beberapa kali memikirkan apa yang akan ia lakukan saat bertamu dengan Audrey, kakak dari pria yang sangat ia cintai. apakah Audrey sama dengan adiknya? sombong, angkuh dan juga arogan apa malah sebaliknya?. selama menjalin hubungan dengan Lion, ini kali pertama Lion mengajak Irene untuk bertemu dengan keluarganya. mungkin karena Audrey tidak menetap di New York. Audrey sendiri saat ini menetap di Italia bersama suaminya yang bernama Mark dan kedua putrinya Katie dan katrine. suami Audrey sendiri memang berasal dari negara Italia, mereka mempunyai perusahaan pembuatan brangkas yang sangat terkenal di dunia. Audrey jarang ke New York kecuali perayaan Kematian ke dua orang tuanya.

__ADS_1


lelah berpikir, akhirnya Irene memutar tubuhnya menghadap ke arah Lion dan langsung memutuskan untuk memejamkan matanya.


keesokan harinya


Irene mengerjap beberapa kali saat sinar matahari masuk tanpa permisi kedalam kamarnya hingga menganggu tidurnya pagi ini.


"morning," sapa Lion yang saat ini masih betah di dalam selimut sambil memeluk tubuh Irene dengan mata yang masih terpejam.


"morning too,"Iirih Irene dengan suara parao hampir tak terdengar.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih, jangan lupa like, komen dan juga vote beri hadiah.


 


__ADS_2