CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 67. MENCARI MARIA


__ADS_3

Lama menangis sambil memandangi kondisi putrinya, Sonia langsung ambruk di sisi brankar. 


"Mom," panggil Rey dan mahesa secara bersamaan. Mereka lalu menghampiri sonia. menepuk-nepuk pipi Sonia. Namun tak ada respon dari Sonia. 


"Tom, panggilkan dokter."seru Rey pada asistennya. Mendengar ucapan Rey, Tom lalu bangkit dan keluar dari dalam kamar. Sedangkan Rey dan tuan Mahesa memindahkan Sonia ke kamar yang sebelumnya sudah di sewa oleh Rey.


Tak lama Tom datang dengan beberapa suster serta  seorang pria bersneli putih masuk ke dalam kamar yang ada di sebelah ruang perawatan Iren.


Pria itu lalu berjalan ke arah brankar dan langsung memeriksa kondisi Sonia.


"Bagaimana kondisinya, dok." Tanya Rey yang saat ini berada di samping mommynya.


"Tidak ada yang perlu di khawatir , beliau pingsan karena Tekanan darah beliau meningkat, mungkin karena faktor stress. Tolong kesehatannya dijaga, jangan sampai nyonya banyak pikiran." Ujar pria itu, kemudian pamit keluar dari kamar yang disewa Rey.


Pukul 7 pagi, Sonia mengerjab, tak lama ia langsung membuka matanya. Saat matanya terbuka, ia langsung melihat ke arah samping di mana Sera sedang duduk menungguinya


"Di mana Iren?"ucap Sonia saat matanya sudah terbuka, ia menatap Sera yang duduk di samping brankar sambil menunggunya sejak tadi.


"Nona Iren di kamarnya nyonya," balas Sera tersenyum. Ia kemudian bangkit dari kursinya."apa nyonya membutuhkan sesuatu?" Tanya Sera.


Namun Sonia mengeleng." Aku hanya ingin bertemu Iren."

__ADS_1


"Nyonya istirahat saja dulu, jangan bergerak. Nyonya belum sepenuhnya pulih, nanti setelah Nyonya pulih aku akan mengantarmu ke tempat  iren." Ucap Sera. Namun lagi-lagi Nyonya Sonia mengeleng." Antarkan aku pada putri ku. Atau aku yang akan pergi sendiri." Ancam Sonia.


Sera menghembuskan nafas  panjang, sungguh wanita di depannya ini sangat keras kepala. Sera kemudian bangkit dari kursinya dan langsung berjalan mengambil kursi roda dan membawanya ke sisi brankar.


"Ayo Nyonya. Hati-hati," ujar Sera saat membantu Sonia turun dari brankar dan langsung membantunya duduk di kursi roda kemudian mendorongnya menuju ruang perawatan iren.


***


Nyonya Sonia mengenggam tangan Iren sambil menatap wajah putrinya, Terlihat sesekali ia menyeka air matanya. Ia tidak pernah membayangkan hal buruk ini akan terjadi pada putrinya mengingat Lion dulu sangat mencintai iren.


Tak lama, Iren mengerjap lalu membuka mata, saat matanya terbuka ia langsung mencari Maria, ia seolah tak mengenali mommynya lagi.


"Di mana Maria,"teriak Iren saat menyadari tidak ada Maria disisinya. Dua hari ini iren terdiam karena ia sudah di suntikkan obat penenang oleh dokter yang menanganinya saat di mansion lion, itu sebabnya selama dua hari ini iren sama sekali tak bereaksi. Dan pagi ini setelah obat penenang itu hilang fungsinya Iren akan kembali histeris.


Sonia yang melihat putrinya seperti ini, tidak kuasa menahan air matanya, hatinya benar-benar sangat hancur, melihat kondisi putrinya yang seperti ini, Nyonya Sonia kembali menepuk - nepuk dadanya, seketika rasa sesak memenuhi seluruh dadanya, tangisnya pecah, ia menagis tergugu melihat kondisi putrinya. walaupun ia bukan ibu kandung Iren, tapi sejak bayi nyonya sonialah yang merawat Iren layaknya darah dagingnya sendiri. 


"Iren, ini mommy sayang," nyonya Sonia hendak memeluk tubuh Iren tapi dengan cepat Iren menepisnya.


"Di mana Maria, Maria kau dimana!" Teriak Iren.


Rey yang mendengar teriakan Iren segera masuk ke dalam kamar." Ada apa mom?" Tanya Rey.

__ADS_1


Sonia tidak membalas, ia hanya kembali menatap Iren yang menekuk kedua kakinya sambil ketakutan. Rey yang melihat Iren ketakutan, hendak menghampiri adiknya, berniat untuk menenangkan iren. Namun Iren berteriak histeris seolah ia dalam keadaan bahaya.


"Jangan mendekat," ia menunjuk Rey dengan sorot mata ketakutan.


"Ini aku, Rey." ujar Rey sambil memegang dadanya.


Iren mengeleng seolah ia tak mengenali siapa-siapa. Di kepalanya hanya ada nama Maria. Kepala pelayan yang selalu memenuhi seluruh kebutuhannya.


Tak lama terdengar pintu terbuka, muncullah wajah Diandra masuk kedalam kamar.


"Nona Iren." Panggil Diandra sambil meraih tangan Iren kemudian menepuk-nepuknya." Kau tidak usah takut, ada aku, ia lalu memeluk tubuh Iren dan mengusap pucuk kepala Iren seolah memberi perlindungan padanya." Kau tidak usah takut ada kami disini." Sambung Diandra.


Terlihat anggun kecil dari kepala Iren. Diandra tersenyum. Kemudian membantu Iren menyandarkan tubuhnya agar ia lebih rileks.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, semoga kalian semua diberi kesehatan. nanti malam nyusul satu bab lagi.


Selamat menjalankan ibadah puasa.


__ADS_2