
Pukul delapan malam Iren baru saja tiba di kediamannya, ia tersenyum kala melihat mobil yang sangat ia kenal sedang terparkir di halaman rumahnya.
"Ayo, Sera ." ajak Iren saat ia akan keluar dari mobilnya.
Sera terlihat tampak ragu, hal biasa yang Sera lakukan saat Rey berkunjung ke Bali, ia akan menghindar dan memilih tidur di butik, dengan alasan ia memiliki banyak pekerjaan.
Beberapa tahun lalu,setelah Rey jujur dan menceritakan semua perasaannya pada Sera, Sera perlahan menjauh. awalnya Sera sudah memutuskan mengundurkan diri dan memilih kembali bekerja seperti dulu. Namun Iren melarangnya berhenti bekerja, karena ia akan mengajak Sera membuka sebuah butik di Bali.
"Ayo," ajak Iren yang berdiri di luar pintu mobilnya sambil memasukkan sedikit kepalanya.
Sera tersadar." Iya nona," Sera keluar dari mobil dan mengikuti langkah Iren Memasuki rumahnya.
"Mbak, kapan tuan datang?" Tanya Iren saat melihat pengasuh Sean sedang membereskan mainan Sean yang Tampak berantakan di ruang tengah. Sepertinya Sean habis bermain dengan Rey.
"Tadi siang, nyonya." Jawab pengasuh Sean.
Iren mengangguk setelah mendengar jawaban dari pengasuh Sean. Dan ia langsung pamit pada Sera dan juga pengasuh Sean untuk naik ke kamarnya.
Setelah Sera sampai di lantai dua, ia menoleh ke kamar Sean dan melihat pintu kamarnya terbuka sedikit. Iren berjalan mendekat dan mengintip. Senyumnya merekah di bibirnya, saat melihat Sean tidur dengan posisi memeluk tubuh Rey. Mereka terlihat seperti sepasang anak dan daddy.
"Terimakasih, Rey." Gumam Iren. Dan menutup pintu kamar Sean dan langsung berjalan ke kamarnya.
Beberapa tahun silam, Rey sudah mengungkapkan perasaannya pada iren, dan berniat menjadi ayah dari Sean. Namun Iren menolak. Ia berkata jika Rey adalah kakaknya dan sampai kapanpun ia akan menganggap Rey sebagai kakak kandungnya, walaupun ia tidak memiliki pertalian darah dengan Rey.
Mendengar itu, tentu saja Rey kecewa. Namun ia berusaha menerima semua keputusan Iren dan menyimpan rapat-rapat cintanya.
Setelah Iren sampai di kamarnya, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang seharian ini sibuk dengan banyaknya pesanan dari semua costumernya.
Hampir 30 menit Iren di dalam kamar mandi, ia keluar dengan mengenakan pakaian santai dengan rambut di Cepol ke atas.
Ia lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, lalu mengambil smartphone yang ada di atas nakas.
Ia memeriksa pemasukannya bulan ini.
"Puji Tuhan." Bibirnya tersenyum kala melihat isi saldo di rekeningnya.
Perlahan ia berniat mengganti semua uang yang sudah mommynya gunakan untuk pengobatannya dulu. Terkadang ia merasa bersalah dengan kolepsnya perusahaan mahesa. Iren merasa jika ialah penyebab kolapsnya gantari crop.
Setelah melihat isi saldonya, Iren kembali menyimpan ponselnya di atas Nakas. Kemudian membaringkan tubuhnya dengan posisi menyamping dengan tangan yang menjadi tumpuannya. Ia berusaha memejamkan matanya namun pikirannya melayang entah kemana. Tadi setelah keluar dari villa, saat Iren hendak masuk ke dalam mini covernya, tanpa sengaja ia melihat punggung pria yang hampir sama persis dengan punggung Lionel, Mantan kekasihnya berjalan di sekitar Area vila. Namun buru-buru ia menggeleng, ia meyakinkan dirinya jika Lionel tidak mungkin ada di Bali. Lama terdiam menatap punggung itu, Iren lalu berbalik dan langsung masuk ke dalam mini covernya lalu meninggalkan area villa.
Iren menghembuskan nafas berat. Sudah hampir lima tahun setelah kejadian itu, tetapi ia kerap kali teringat akan kenangannya bersama Lion, padahal ia sudah mati-matian untuk melupakan Lion. Namun tiap kali melihat wajah putranya, Iren kembali memikirkan Lionel. Wajah Sean mengingatkan Iren tentang lionel Muller, pria yang begitu mencintainya.
Lama larut dalam pikirannya, akhirnya mata Iren mulai terpejam.
***
__ADS_1
Pukul 6 pagi, seorang bocah kecil masuk kedalam kamar iren.
"Good morning, mommy." Ucapnya sambil membelai wajah mommynya..Iren mengerjap beberapa kali saat merasakan tangan mungil memegang pipinya, seketika matanya langsung terbuka sempurna.
"Morning too, sayang." Balas iren tersenyum saat mendapati putranya berbaring di sampingnya. Ia lalu mengelus-elus lembut pipi putranya.
"Daddy mana?" Tanya Iren
"Coilet, mommy." Ucapnya singkat.
"Sean sudah sarapan, belum?" Lanjut iren.
Bocah kecil itu mengeleng." Aku ingin sarapan bersama mommy dan Daddy."ucapnya polos
Iren tersenyum."ok kita sarapan bersama, tapi mommy mandi dulu yah."
Sean mengangguk." Ok mommy."
Setelah membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk ke butik. Kini Iren berjalan ke arah sofa.
"Ayo, sarapan."aja Iren pada putranya sambil mengulurkan tangannya, saat ini Sean duduk di sofa sambil menunggunya selesai bersiap.
Sean mengangguk." Ayo, mommy." Jawabnya lalu meraih tangan mommy. Dan langsung berjalan turun ke bawah.
Setelah Iren dan juga Sean sampai di meja makan. Rey langsung menyapanya.
"Pagi, Rey." Balas iren tersenyum. Ia menarik kursi untuk Sean lalu mengambilnya sereal.
"Stop, mommy."protes Sean saat Iren hendak menyuapinya.
"Lho, kenapa?"tanya Iren.
"Biar Sean saja yang makan, mommy tidak usah menyuapi Sean, Sean kan sudah tinggi." Ucapnya dengan lantang
Rey yang ada di kursi utama, langsung berdiri dan mengusap-usap rambut bocah itu.
"Putra Daddy sudah pintar."ujar Rey tersenyum gemas.
Sean tersenyum mendengar pujian Daddynya.
Iren yang duduk di kursi samping Sean ikut tersenyum melihat ocehan putranya.
Setelah Sean sarapan, Iren menyuruh penjaga sean untuk membawa Sean bermain di halaman belakang. Kemudian Iren melanjutkan sarapannya.
"Gimana, ren?" Tanya Rey.
__ADS_1
"Apanya?" Balas iren Santai.
"Wiliam." Ujar Rey.
"Orangnya baik."lanjut iren, ia terlihat menjawab dengan santai.
"Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Rey lagi.
"Tidak."jawaban Iren singkat.
"Kenapa?"tanya Rey lagi.
"Sudah Rey. Aku tidak tertarik untuk membicarakan dia. Ada baiknya kau yang mencari pendamping hidup." Potong Iren.
Ck, Rey berdecak kesal.
"Kenapa?"tanya Iren tersenyum sambil menyuapkan sendok masuk ke mulutnya." Sepertinya Sera menyukaimu."lanjut iren.
"Sudahlah, aku tidak berselera untuk membahas masalah itu. Aku sudah kenyang." Ujar Rey menaruh sendok dan langsung meminum air putihnya kemudian melap mulutnya menggunakan serbet.
"Aku ke depan dulu," pungkasnya. Seharian ini, ia akan bermain bersama Sean sebelum ia kembali ke Singapura.
***
Di tempat lain
"Honay." Panggil Stefani menghampiri tunangannya yang saat ini berdiri di tepi pantai. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Sudah hampir 4 jam ia berdiri di sana dan tak beranjak sedikit pun dari tempatnya.
Pria itu menoleh sekilas dan kembali menatap lurus kedepan. Saat tak mendapatkan respon dari kekasihnya, Stefani mengerucutkan bibirnya dan langsung bergelayut manja di lengan kekar kekasih.
"Sampai kapan kau seperti ini." Ujar Stefani, ia sepertinya sudah tidak tahan dengan sikap dingin kekasihnya. Sudah hampir dua tahun mereka menjalin hubungan. Namun pria itu selalu bersikap dingin padanya. Tak sekalipun Stefani mendapatkan perhatian dari pria itu.
"Kita akan bertunangan beberapa hari lagi, tapi sikapmu tidak berubah sedikitpun. Sampai kapan? Hah?" Ujar Stefani, ia menangis sesegukan dan berlari menuju villa. Namun langkahnya terhenti saat tubuh pria kekar itu memeluk tubuhnya.
"Maafkan aku." Ujar pria itu. Ia memeluk Stefani dan mengusap kepala wanita itu sambil membenamkan beberapa kecupan di sana.
Stefani mengangguk kecil.
.
.
Trimakasih yang masih setia membaca. ini up-nya udah panjang banget. author lagi sibuk beberes rumah + ngecat rumah dinas author, jadi ngak sempat up banyak. kan bentar lagi lebaran.😁
jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1
selamat menjalankan ibadah puasa.