
Jangan sentuh aku,"Lion mundur selangkah dari posisinya semula."jangan harap aku akan melepaskan mu, sampai kapan pun aku tak akan melepaskan mu, darah Albert mengalir di dalam darahmu, itu artinya kau yang harus membayar semua apa yang telah dia perbuat.
Iren mengangkat wajahnya, lantas menatap wajah Lion dengan tatapan dingin.
"Tapi bukan aku yang melakukannya," teriak Iren. ia lalu berdiri dari posisinya, Namun saat ia hendak berdiri, tubuhnya terlihat tampak oleng, ia berpegangan pada sofa yang ada di kamar itu.
Saat tubuhnya sudah Berdiri sempurna, ia menyeka kedua matanya.
"Ceraikan aku! Sungguh aku sangat menyesal pernah mengenal pria iblis sepertimu! Kau hanya pria pengecut," Iren berucap dengan tatapan dingin.
Plak
Satu tamparan kembali mendarat di pipinya. Irene terjatuh, pelipisnya terbentur mengenai meja, darah segar seketika mengalir, lamat-lamat penglihatan memburam dan pada akhir ia terjatuh dan kesadarannya menghilang.
***
Singapura
"Mom, ada apa?" Tanya Rey saat masuk kedalam kamar dan melihat Nyonya Sonia menangis sambil memeluk foto putrinya.
Ia berjalan mendekat, mendudukkan tubuhnya, setelah itu, ia memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
"Sudahlah mom, Iren sekarang sudah bahagia. Harusnya mommy sekarang bahagia karena putri mommy sudah bahagia dengan pria pilihannya."
Mendengar itu nyonya Sonia semakin mengencangkan tangisannya.
__ADS_1
"Adikmu tidak akan bahagia," pungkas nyonya Sonia.
Rey mengerutkan keningnya. Bukankah setiap sepasang kekasih yang saling mencintai menginginkan pernikahan, lantas kenapa sang adik tidak bahagia dengan pernikahannya.
Mendengar itu, Rey lalu melepaskan pelukannya pada mommynya." Apa maksud mommy mengatakan seperti itu?" Ia menatap nyonya Sonia, seolah meminta penjelasan.
Kemarin saat pernikahan Iren, Rey memang sengaja tidak hadir, ia sengaja berbohong kepada sang mommy jika ia harus terbang ke brasil untuk bertemu dengan klien pentingnya. Nyatanya tidak seperti itu, Rey tidak sanggup jika harus melihat Iren dan Lion mengucapkan janji suci pernikahan di altar. Berbohong jika Rey mengatakan jika ia sudah melupakan Iren. kenyataan tidak seperti itu, Rey masih sangat mencintai sang adik, itu sebabnya ia berbohong kepada kedua orang tuanya jika ia harus terbang ke brasil bertemu dengan klien penting.
Melihat tatapan sang putra, nyonya Sonia perlahan menghapus air matanya. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lalu membuangnya. ia berfikir mungkin sudah saatnya ia menceritakan semuanya pada putranya.
"Maafkan mommy Rey, mommy baru menceritakan semua ini pada mu, sebenarnya Daddy dan mommy sudah sepakat tidak akan mengungkit masalah ini, Daddy dan mommy sudah sepakat akan mengubur rahasia ini selama-lamanya," nyonya Sonia menjeda ucapannya lalu kembali menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskannya." Sebenarnya Iren bukan adik kandung mu." Pungkas nyonya Sonia.
Setelah mengatakan itu Nyonya Sonia tampak heran dengan expresi sang putra, tak ada expresi apapun yang terlihat. Tadi Nyonya Sonia berfikir jika Rey akan kaget dan marah,. Namun nyatanya sang putra tampak biasa saja.
Seketika Nyonya Iren mengeleng," bukan karena itu. Melainkan karena Iren adalah anak Albert." Jawab Nyonya Sonia. Tatapannya menerawang jauh. Ia mengingat saat Alber datang membawa bayi kecil perempuan yang belum genap sehari. Ia memohon pada Mahesa agar mau mengadopsi putrinya. Awalnya tuan Mahesa dan nyonya Sonia menolak karena sepengetahuannya Albert belum pernah menikah, lantas membawa bayi kecil perempuan untuk di adopsi, lalu siapa ibu dari bayi ini. Hal itu yang masih jadi tanda tanya di Pikiran keduanya.
"Mom," suara Rey menyadarkan nyonya Sonia dari lamunannya."lalu masalahnya di mana, mom?"
Nyonya Sonia kembali menatap sang putra kemudian mulai bicara.
"Karena Albert adalah pria yang pernah membunuh kedua orang tua Lion."
Mendengar itu, seketika Rey menghembuskan nafasnya, ia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada sang adik sekarang. Rey mengepalkan tangannya kuat.
"Mom, aku akan ke New York malam ini, aku akan menjemput Iren dan membawanya kembali menjadi putri keluarga Gantari," Rey berucap, keyakinannya sudah bulat untuk menjemput sang adik, ia tidak ingin sesuatu terjadi pada iren. Semua ini murni bukan kesalahan Iren, melainkan kesalahan Albert.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Rey bangkit dari kasur. keluar dari kamar mommynya dan berjalan masuk kedalam kamarnya dengan emosi yang sudah memuncak di kepalanya.
Sesampainya di dalam kamar, ia berjalan ke arah naskah, menarik laci, kemudian mengambil revolver dan memastikan jika ia sudah mengisi senjatanya dengan peluru.
Rey mengambil ponselnya kemudian menghubungi Tom, malam ini ia akan mengajak tom untuk terbang ke Singapura. Ia tidak mungkin berjalan seorang diri, mengingat Lion di jaga oleh banyak bodyguard, setidaknya Rey punya seseorang yang bisa membantunya melawan penjaga yang berjaga di masion Lion.
Rey berjalan keluar kamar, wajahnya terlihat memerah dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Rey," panggil tuan Mahesa yang baru saja masuk ke dalam mansion.
"Kau mau kemana?" Tanya tuan Mahesa.
"Aku akan ke New York, dad. Aku akan menjemput Iren, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya "jawab Rey the point.
"Daddy ikut." Ucap tuan Mahesa. Beberapa hari ini, ia sudah menyuruh anak buahnya mengawasi mansion Lion, namun sampai detik ini, ia belum juga mendapatkan info apa-apa tentang kondisi sang putri. Mansion Lion di jaga Sangat ketat oleh beberapa bodyguard, itu sebabnya orang yang tuan Mahesa suruh untuk memata-matai mansion sangat sulit mendapatkan informasi.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Trimakasih 🙏🙏
__ADS_1