CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 73. PERTEMUAN PERTAMA


__ADS_3

Mobil Rolls-Royce milik Willi terparkir sempurna di area khusus parkiran mobil di hotel Capella Ubud, bali. Hotel mewah yang terkenal terletak di hutan lebat dekat dengan candi gunung Kawi.


Setelah memarkir mobilnya, Wili membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya, kemudian berlari mengitari mobilnya untuk membuka pintu untuk iren.


"Terimakasih," ucap Iren saat Wili membuka pintu mobilnya, ia lalu tersenyum pada Willi, menampilkan wajah teduh serta senyum manis yang dapat meluluhlantakkan siapa saja pria yang melihatnya.


Wili tersenyum menanggapi, Ada desir hangat yang ia rasakan saat Iren tersenyum padanya. Wili adalah pengusaha sukses asal Amerika, pemilik pabrik handphone berkelas di dunia  yang dapat menguasai pasar mewah dunia.


Melihat Iren yang kesusahan membuka sabuk pengamannya, Wili lalu membungkuk dan langsung membantu Iren melepaskan sabuk pengamannya. Setelah sabuk pengamannya terbuka Wili mengangkat wajahnya yang semula menunduk, seketika tatapan mereka beradu, hembusan nafas mereka terasa begitu dekat menerpa wajah keduanya, hingga Wili perlahan mendekat wajahnya pada wajah iren Hendak mencium Iren. Namun baru saja bibir mereka bersentuhan. Suara bocah kecil mengagetkan mereka.


"Uncle apa kita sudah sampai?" Tanya bocah kecil yang baru saja membuka matanya. Pasalnya sepanjang perjalanan Sean tertidur di kursi khusus balita. Seketika mata Iren membulat, ia langsung reflek mendorong dada Wili lalu membuang mukanya ke arah lain.


Wili tersenyum kecut saat Iren berhasil mendorong tubuhnya.


"Maaf," ucap Iren gugup. Ia langsung mengalihkan tatapannya ke arah Sean.


"Tidak masalah, aku yang seharusnya meminta maaf padamu." Balas Wili kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Sean.


"Iya, sayang."kita sudah sampai, apa kau mau keluar sekarang?"


Sean mengangguk." Iya uncle.


Wili keluar dari mobilnya tanpa menoleh ke arah iren. Saat ini keduanya merasa canggung. Hampir saja Sean melihat mereka berciuman. Untuk saja dengan cepat Iren mendorong tubuhnya.


Wili membuka pintu belakang, kemudian membuka sabuk pengaman Sean yang ada di kursi. Lalu mengendong bocah itu keluar dari mobil.


"Terimakasih uncle." Ucap Sean saat Wili mengendong tubuhnya.


"No, no, no. Kau jangan memanggil uncle dengan sebutan uncle lagi. Panggil dengan sebutan daddy." Titah Wili.

__ADS_1


Iren yang ada di dalam mobil seketika membulatkan matanya.


"Ok Daddy."ujar Sean, ia memeluk Wili dengan begitu eratnya. Iren yang masih duduk di kursi depan seketika menoleh ke belakang.


Rasa haru seketika menghantam dadanya saat melihat kedekatan Sean dengan willi. Beberapa waktu yang lalu Sean Tampak protes tiap kali Iren mengajaknya ke taman bermain. Sean selalu protes, mengapa anak-anak yang lain bisa bermain dengan daddy dan mommynya sedang ia hanya ditemani mommy dan juga pengasuhnya. Sedangkan Rey yang Sean kenal sebagai daddynya hanya berkunjung ke Bali paling lama dua hari, itupun Rey harus mencuri-curi waktunya karena jadwalnya begitu padat.


***


Mereka bertiga berjalan memasuki resort. Wili mengendong Sean dan tangan satunya mengenggam tangan Iren. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia


Di pintu masuk terlihat tuan Wilson menyapa Wili dan juga Iren. Mereka berbincang-bincang ringan. Sean yang merasa bosan di gendong oleh Wili meminta untuk di turunkan. Awalnya Sean hanya jalan berputar-putar mengitari area tempat tersebut. Namun pandangannya beralih saat ia melihat sebuah miniatur kapal yang terpajang tidak jauh dari tempatnya berlari.


Sean menoleh ke arah Wili dan juga Iren. Namun keduanya malah asik mengobrol. Akhirnya Sean memutuskan untuk berjalan mendekat ke arah miniatur. Langkahnya terhenti saat ia menabrak kaki seseorang. Sean terpental jatuh kelantai.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya pria itu. Ia menekuk kedua kakinya dan langsung membantu Sean bangkit dari posisinya.


Seketika pria itu terdiam, jantung pria itu berdenyut kencang saat iris matanya menatap mata Sean yang tersenyum ke arahnya. Ada perasaan aneh yang ia rasakan saat menatap bocah kecil itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Lion.


Belum Sean menjawab, Wili sudah berdiri di Belakang Lion. " Daddy," panggil Sean berlari ke arah Wili.


Wili menangkap tubuh mungil Sean." Kau tidak apa-apa? Daddy mencari mu kemana-mana, mommy sangat khawatir." Ujar Wili.


"Maaf dad," balas Sean. Matanya terlihat berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa." Lanjut Wili mengelus rambut Sean dan berjalan meninggalkan tempat itu.


Lion menoleh ke belakang, kemudian berdiri. Ia terdiam sejenak saat melihat Sean dan juga Wili. Entah perasaan apa yang saat ini ia rasakan. Tiba-tiba dadanya seolah dihantam beribu panah saat melihat Sean dan juga Willi. Saat ini Lion benar-benar merasa aneh, padahal ini kali pertama berjumpa dengan bocah itu, namun ada hal aneh yang ia rasakan pada bocah itu. Dadanya terasa sesak entah apa penyebabnya. Bahkan saat Sean dan juga Wili sudah terlihat menjauh Lion masih tidak bergeming. Ia masih terus menatap punggung Wili.

__ADS_1


"Honay apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Stefani.


Lion menoleh dan tersenyum menyambut Stefani." Aku baru saja menemui rekan kerja ku."


" Heem." Stefani mengangguk dan langsung meraih tangan Lion. 


"Ayo, acaranya akan segera di mulai." Seru Stefani mengajak Lion  Menuju ke panggung pertunangan mereka.


***


"Kau dari mana saja, mommy khawatir mencari mu." Seru Iren  saat menghampiri Wili dan juga Sean yang berjalan ke arahnya.


Iren mengambil Sean dari gendongan Wili, kemudian memeluk putra semata wayangnya begitu erat. Ada perasaan khawatir yang ia rasakan saat tadi ia sempat kehilangan Sean. Ia pernah kehilangan seseorang yang ia cintai dalam hidupnya dan saat ini ia tidak ingin kehilangan lagi.


.


.


.


.


Lanjut satu bab lagi....


semoga belum bosan sama cerita receh author...


*selamat menjalankan ibadah puasa*🙏😊


 

__ADS_1


__ADS_2