
Saat pintu terbuka Lion masuk ke dalam ruang perawatan Iren. Hatinya mendadak nyeri saat melihat pemandangan di depannya. Dimana Wili sedang menyuapi Iren.
"Sudah cukup, aku sudah kenyang." Tolak Iren saat Wili ingin menyuapinya lagi. Pria tampan itu masih saja terus menunggu Iren di sana. Tanpa berniat meninggalkannya walau sedetik.
"Mommy." Panggil Sean. Bocah itu terlihat tersenyum bahagia saat bisa bertemu dengan mommynya Kembali.
Iren dan Wili seketika menoleh dan tersenyum pada Sean.
Setelah Lion sampai di dekat brangkar. ia langsung mendudukkan tubuh kecil Sean di sisi brangkar sambil memegangnya.
"Mommy." Lirih Sean saat melihat mommynya memakai selang infus di tangannya.
Melihat tatapan sendu Sean. Iren langsung mengerti. Ia tersenyum." Mommy baik-baik saja." Ucap Iren. ia sedikit meringis saat tanpa sengaja ia mengeser posisinya.
"Hati-hati." Seru lion dan Wili Secara bersamaan. Seketika mata mereka saling melemparkan tatapan tajam.
__ADS_1
Iren yang mengerti tatapan keduanya kemudian berucap."aku baik-baik saja." Bisakah kalian pulang, aku ingin beristirahat. Lagi pula ada Sera di sini." Ucap Iren. Ia sengaja mengusir kedua pria ini, ia tidak ingin membuat keributan di rumah sakit.
"Dia saja yang pulang, aku masih ingin menemani putraku di sini."seru lion sambil mengusap kepala putranya.
Wili menyunggingkan senyumnya. Saat mendengar ucapan Lion yang ingin berlama-lama di rumah sakit. Pria tampan itu sangat tahu sikap licik lion, ia mengerti bagaimana sepak terjang pria di depannya.
"Iren, kalau begitu aku pamit. Nanti aku akan datang lagi." Seru Wili.
Iren tersenyum dan mengangguk." Terima kasih. Aku akan menunggu mu."balas Iren.
Lion buru-buru menggeleng saat pikiran itu terus mengganggu pikirannya." Kau tidak usah ke sini. Aku dan yang lain bisa menjaganya." Pinta Lion. Namun Wili tidak menanggapinya, ia hanya tersenyum dan pamit pada iren. Namun sebelum berlalu lion menahannya.
"Kau Tunggu aku di luar, ada yang perlu kita bicarakan!"pungkas lion.
Setelah Wili keluar, Dan menitipkan Sean pada Sera. Lionel lalu meminta izin pada iren. Dan sekarang mereka sudah berada di taman rumah sakit, ia duduk di garden bench bersama dengan Wili.
__ADS_1
"Apa kau mencintainya?" Tanya Lion, tiba-tiba ia melontarkan pertanyaan pada Wili yang saat ini sedang duduk di sampingnya dengan jarak setengah meter.
Wili menoleh pada lion dan kembali menatap lurus ke depan." Tantu. Tentu aku mencintainya, sudah lama sekali aku mendekatinya, tetapi ia selalu mencari cara menghindar dari ku. Namun walau begitu, aku tetap mendekatinya, aku yakin suatu saat nanti, dia akan membuka hatinya pada ku." Ujar Wili . Ia tersenyum setelah mengucapkan itu.
Ya, sudah beberapa tahun terakhir Wili mendekati Iren, Namun respon Iren tetap datar walaupun Wili terus mendekatinya dan memberi perhatian padanya.
Lion tersenyum kecut mendengar apa yang di ucapkan wili. Dan sekarang, ia merutuki dirinya sendiri. Ia pernah memiliki hati perempuan itu, Namun karena ke egoisnya ia menyia-nyiakan cinta itu.
Lion menghembuskan nafas kasar." Kita sama, sama-sama mencintainya. Namun aku lebih beruntung darimu, aku pernah mendapatkan cintanya dan bahkan kami memiliki Sean. Tetapi……"
"Tetapi apa? Apa kau menyesali apa yang pernah kau perbuat?"tanya Wili.
Seketika Lion mengangguk. Ia menoleh pada Wili." Mari kita bersaing mendapatkan Iren, jika dia memilih mu aku akan rela melepaskannya untuk mu, tetapi jika ia memilih ku, kau harus siap kehilangan dia." Lion berucap.
Wili menoleh." Jadi bagaimana dengan tunanganmu?"
__ADS_1
"Dari awal aku memang tidak menyukainya. di hatiku hanya ada Iren, Namun aku terlambat menyadari itu semua. Aku akan berusaha berbicara pada kedua orang tua Stefani dan meyakinkan mereka jika aku tidak mencintai putrinya, mungkin di luar sana ia akan mendapatkan pria yang mencintainya.