
"Skakmat, kau kalah lagi," ucap Nick dengan sorot mata tajam menatap sebuah papan persegi empat yang ada di depannya. Ia mulai memindahkan buah catur itu ke beberapa kotak segi empat berwarna hitam dan putih." Nasibmu akan sama seperti koning King ini, Lionel! terjebak dan tidak bisa berjalan lagi," ucapnya dengan senyum jahat yang terbingkai di wajahnya.
"Paman, apakah paman sudah menyiapkan segalanya, dan paman yakin penyerangan kali ini tidak akan gagal?" Tanya Nick yang saat ini tersenyum seolah sebentar lagi akan mendapatkan tender besar.
"Sudah, tuan. Semuanya di jamin aman, anda tidak usah khawatir, aku sudah menyiapkan bom granat yang mampu meledak dan menghancurkan hingga puing-puing kecil yang berserakan"
"Bagus, paman. Paman memang paling bisa di andalkan,"Nick memuji kecerdikan pria tua yang berusia sekitar 55 tahun itu. namun jika dilihat, pria itu masih Tampak segar, pria itu sedang Berdiri tidak jauh dari posisi Tuannya saat ini. Pria itu bernama Bastian, ia di pekerjakan oleh Nick menjadi penasehat sekaligus salah satu tangan kanannya.
"Terimakasih, tuan." Balas pria itu sambil menunduk hormat dan meninggalkan ruangan tuanya.
setelah Bastian keluar. Nick kembali menjalankan buah caturnya tepat saat kuda putih melangkah dua langkah, kuda hitam maju dan posisi kuda putih tidak dapat bergerak," skakmat,"ucap Nick lagi setelah menjalankan kuda hitam miliknya.
***
Setelah kejadian mabuk beberapa hari lalu di apartemen asistennya, kini Rey perlahan berusaha untuk melupakan cintanya pada sang adik, walaupun rasanya begitu sangat sulit. Namun, ia akan terus berusaha untuk melupakannya. Menurutnya cinta itu tak harus memiliki, ia masih bisa mencintai sang adik dalam diam. Walaupun sang adik hanya menganggapnya seorang kakak.
"Akan kau apakan semua foto itu?" Tanya tom yang berdiri di depan meja kerja Rey. Saat ini Rey memasukan foto-foto Irene ke dalam sebuah kardus. Ia akan berusaha melupakan sang adik. Bukan berarti ia tidak menyayangi Irene lagi, namun ia hanya berusaha memberi dinding pembatas pada hatinya.
"Aku akan menyimpannya,"pungkas Rey. Setelah kejadian di rumah tom, mau tidak mau Rey akhirnya menceritakan semuanya pada tom.
Tom lalu berjalan mendekat ke arah Rey."semoga secepatnya kau bisa menemukan wanita yang bisa mengisi ruang di hatimu,"
Rey mengangguk lalu tersenyum." Itu pasti," jawab Rey dan kembali mengepak semua barang-barang yang menyangkut tentang Irene.
Di Tempat lain.
Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan butik yang dijaga dengan beberapa bodyguard di luar area butik. Setelah kejadian bangkai dan pencegatan mobil irene di jalan, kini Lion mulai memperketat pengawasannya
__ADS_1
Jeremy keluar dari dalam mobilnya di ikuti beberapa pelayan dengan mengeluarkan beberapa box dari dalam mobilnya.
"Apa semuanya aman?"tanya Jeremy pada salah satu bodyguard yang sedang berjaga disana.
"Aman tuan,"
"Kalau begitu lanjutkan penjagaan mu, jangan sampai kalian lengah,"
"Baik tuan."ucap bodyguard itu.
Setelah berbicara dengan salah satu bodyguard, kini Jeremy melangkah masuk kedalam butik..
Sesampainya di dalam butik, Irene lalu Berdiri menghampiri Jeremy yang ada di depan pintu.
"Selamat siang, tuan," sapa Irene sopan.
"Oh iya, silahkan masuk Tuan," balas Irene sopan.
Namun saat semua barang yang dibawa pelayan masuk, Irene tercengang karena bukan hanya satu box melainkan banyak box yang di bawa masuk kedalam butik.
"Ini semua untuk apa, tuan?" tanya Irene dengan tatapan bingung.
"Ini semua gaun pernikahan Nyonya, Nyonya bisa memilih gaun mana yang nyonya inginkan,' jawab Jeremy.
"Tuan, bukankah ini terlalu berlebihan," tanya Irene lagi.
"Tentu tidak nyonya. tuan Lion tidak tahu gaun mana yang anda inginkan. Itu sebabnya tuan Lion membeli semua gaun yang ada di toko desainer ternama di Paris, satu lagi nyonya, jangan memanggil saya, tuan. Panggil saja Jeremy."lanjut jeremy sopan.
__ADS_1
Irene Menghela nafas setelah mendengarkan ucapan asisten calon suaminya. Menurutnya gaun ini terlalu banyak sedangkan ia hanya akan memakai 1 atau 2 gaun saja, sedangkan yang saat ini di bawa Jeremy bukan hanya 10 gaun melainkan ada 20 gaun. Padahal untuk gaun sendiri, ia bisa merancang dan membuatnya sendiri.
Akhirnya mau tidak mau ia hanya diam dan mengikuti semua instruksi Jeremy. Jika ia komplain dengan Lion juga percuma, bahkan Lion akan mengirimkan lebih banyak lagi. Itulah Lionel Muller. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk kekasihnya. Walaupun selama ini Irene tak meminta apapun, Lion akan mengirimkan barang-barang apapun pada kekasih.
"Terimakasih tuan," ucap Irene setelah semua kardus sudah tersusun rapi di butiknya.
"Sama-sama nyonya. Tolong panggil saya Jeremy bukan tuan," balas jeremy.
Seketika Irene terkekeh mendengar ucapan Jeremy.
"Maaf, maaf, Jeremy, aku lupa." Balas Irene, Jeremy yang saat itu melihat Irene tertawa langsung tersenyum.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia lalu meraih ponselnya dan membaca notifikasi yang masuk.
"Jangan menatap Irena ataupun tersenyum seperti tadi jika kau masih sayang dengan nyawamu,"isi pesan dari ponsel Jeremy. Setelah membaca itu ia hanya bisa mengulas senyumnya. Ia sangat tahu jika atasannya tak suka jika barang kepunyaannya dimiliki orang lain, sekalipun itu asistennya sendiri.
"Kalau begitu saya permisi nyonya, jika ada yang anda butuhkan, tidak usah segan-segan untuk menghubungi saya."lanjut Jeremy.
"Terimakasih, Jeremy."ucapnya sambil menunjuk hormat.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih.🙏