
Bagaimana? Apa kau sudah baikan?"tanya Wili saat melihat Iren sudah menghabiskan air putih yang baru saja diberikan olehnya.
Iren mengangguk. Terimakasih, Will."
Saat ini tubuh Iren secara refleks bergetar hebat, rasa traumanya kembali muncul, Hal biasa yang selama lima tahun ini terjadi padanya jika Iren merasa ketakutan ataupun panik.
Wili tersenyum menanggapi, ia lalu menyimpan gelas kosong yang ada di atas meja. Dan duduk di samping Iren, ia meraih tangan Iren kemudian menggenggamnya.
"Maafkan aku Will, aku sudah merusak acaramu." Pungkas Iren.
Wili mengeleng lalu menaruh telunjuknya di bibir Iren." Ussss, kau tidak boleh berbicara seperti itu, aku senang kau mau menemani ku ke pesta malam ini." Ujar Wili.
Seketika pipi Iren bersemu merah saat mendengar ucapan Wili. Namun cepat-cepat ia membuang wajahnya ke arah lain. Sebelum Wili melihat wajahnya yang saat ini sudah seperti kepiting rebus.
Setelah Iren merasa baikan, ia meminta izin pada Wili untuk ke toilet.
"Will, aku titip Sean, yah." Seru Iren.
__ADS_1
Wili mengaguk." mau aku temani?"
"Tidak usah Will, biar aku sendiri saja. Kau tunggu di sini bersama Sean." Pungkas Iren.
"Boy, mommy ke toilet dulu, yah. Jangan ke mana-mana, ok. Jangan menyusahkan uncle Wil, ok." Ujar Iren menekuk kedua kakinya di depan Sean.
Bocah kecil itupun mengangguk patuh."jangan lama-lama, mommy." Pinta Sean.
Iren mengangguk kemudian mengusap-usap kepala Sean. Lalu berjalan ke arah toilet.
Tepat saat ia berbelok, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Ia menoleh kebelakang, tak ada siapapun kecuali para pelayan dan OB yang ada disana. Iren menggeleng kemudian, dan melangkah kembali ke toilet tepat saat saat ia masuk ke dalam toilet, tiba-tiba pintu terkunci dari luar, Iren ingin berteriak tapi mulutnya sudah lebih dulu di bekap oleh seseorang dari belakang.
"Deg. Seketika jantung Iren Seolah berhenti berdetak. Ia mengenali suara maskulin yang berbisik di telinganya. Seketika tubuhnya bergetar hebat, penglihatannya mulai memburam. Namun sekuat tenaga ia berusaha kuat, berusaha melawan rasa syok yang baru saja datang menghampirinya.
Pria tampan dengan setelan jas mewah. Mendorong tubuh Iren hingga terhimpit ke dinding.
"Ka….ka.u." ucap Iren terbata.
__ADS_1
"Iya, Aku. Apa kau kaget? Ternyata kau masih mengenali suami mu ini. Senang berjumpa lagi dengan mu."balas lion. Ia berbicara tepat di depan wajah iren memangkas jarak antara mereka.
Iren memejamkan mata, tangisnya seketika luruh tanpa bisa ia tahan. Kedua tangannya saling meremas, menahan rasa trauma yang ia rasakan.
Lion membelai pipi Iren menggunakan tangan dan berhenti di pundak. "AKu mengira kau wanita yang sulit untuk ditaklukkan, tapi ternyata... kau adalah wanita murahan!. Setelah kau lepas dari ku, kau langsung menikah dengan pria lain dan sekarang…...kau sudah memiliki putra." Ujar Lionel. ia tersenyum mengejek iren. kemudian ia meremas pundak iren begitu kuat. Hingga Iren Meringis. Setelah mengucapkan itu, Lion lalu ******* kasar bibir Iren, Iren berusaha menghindar dengan mendorong tubuh Lion, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong tubuh Lion. Ia memejamkan matanya dan mengingat semua perlakuan Lion padanya hingga ia berakhir di rawat di institute of mental health, Singapura. selama kurung waktu dua tahun.
Iren memejamkan matanya, berusaha tenang. Kemudian mengambil sesuatu di balik gaunnya.
Ia menodongkan pistol tepat di perut Lion. Lion melepas lumatanya dan melihat ke arah bawah. Hingga mereka saling menodongkan pistol ke perut Masing-masing.
"Aku tidak pernah takut dengan mu, Jangan Coba-coba menyentuhku ataupun mengancam ku!"
Lion menarik parallel pistolnya Hendak mematik senjatanya ke tubuh Iren. Emosinya saat ini benar-benar memuncak. Namun ia menghentikan gerakannya saat Iren bersuara." Lakukan apa yang kau inginkan. Kita akan mati bersama karena aku yang akan lebih dulu menarik pelatuk."
.
.
__ADS_1
.