
Setelah keluar dari apartemennya, Lion masuk ke dalam mobilnya dan langsung menjalankan mobilnya Menuju Geraldine crop.
Sesampainya di Geraldine crop, ia berjalan ke arah meja resepsionis.
"Selamat pagi, tuan. Apa ada yang bisa kami bantu?," tanya wanita yang bertugas di meja resepsionis.
"Pagi, Aku ada janji dengan CEO perusahaan ini," ujar Lion.
"Baik, tuan. tunggu sebentar, ya." Ujar resepsionis itu, kemudian menyambungkan telepon interkomnya pada sekretaris Andrean." Maaf nama tuan siapa?" Tanya resepsionis itu.
"Lionel Muller," balas lion.
Setelah sambungan telepon resepsionis itu terputus, ia lalu melihat ke arah Lion." Silahkan, tuan. Anda sudah di tunggu di lantai 27."
"Baik," balas lion. Ia lalu berjalan ke arah lift dan naik ke lantai tertinggi gedung Geraldine crop.
Setelah sampai di lantai tertinggi Geraldine crop, ia lalu berjalan ke arah meja sekretaris. Namun langkahnya terhenti saat terdengar seseorang memanggilnya.
"Tuan Lion," panggil Andrean
Lion pun berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya, ternyata itu Andrean. Tadi saat Lion bertanya ke meja resepsionis, ternyata Andrean turun ke lantai dasar untuk mengantar sang istri ke parkiran. dan saat Lion masuk ke dalam lift, ternyata Andrean berusaha mengejarnya. Namun lift nya sudah tertutup. Jadi ia tetap menggunakan lift khusus petinggi perusahaan dan pada saat Lion Sampai di atas, ia pun keluar dari lift dan secara bersamaan itu juga lift khusus petinggi perusahaan terbuka. Itu sebabnya saat Lion hendak melangkah ke meja sekretaris, Andrean sudah lebih dulu memanggilnya.
__ADS_1
Lion tersenyum, dan melangkah mendekat ke arah Andrean yang barusan keluar dari lift.
"Apa kabar, tuan?" Tanya Lion. Saat menjabat tangan Andrean.
"Baik, tuan. Anda sendiri?"
"Seperti yang anda lihat," ujar Andrea sambil merentangkan tangannya dan terkekeh.
Lion mengangguk dan tersenyum.
"Mari, tuan." Ajak Andrean.
Mereka pun melangkah.menuju ke ruangan Andrean. Namun sebelum masuk, Andrean menyuruh sekretarisnya membuat dua cangkir kopi. Setelah itu ia pun masuk dan di ikuti Lion di belakangnya.
"Silahkan duduk tuan."ucap Andrean
"Trimakasih, tuan.'balas Lion dan langsung duduk di sofa tunggal yang ada di seberang sofa Andrean.
"Bagaimana kabar keluarga, anda?"tanya Andrean.
"Baik, semuanya baik. Anda sendiri?"
__ADS_1
"Baik. Istriku akan melahirkan anak ke dua kami sekitar 2 bulan lagi." Ujar Andrean.
Lion mengangguk." Selamat, tuan. Semoga persalinannya Lancar," balas lion. Ia terpaksa berbasa-basi dengan Andrean. sebenarnya Lion bukan tipe orang yang suka berbicara hal yang tidak penting diluar urusan kantor. Tapi demi menarik simpati dan kedekatannya dengan Andrean, terpaksa ia harus berpura-pura.
"Bagaimana dengan istri anda, tuan? Bukankah Anda baru saja menikah?" Tiba-tiba Andrean bertanya hal yang tidak pernah Lion pikirkan sama sekali.
"Istri ku…. ba-ik tuan." Balas lion. Ia tampak kikuk saat Andrean bertanya tentang istri. Pasalnya selama kejadian itu, Lion tidak pernah lagi ingin tahu tentang kondisi Iren dan apapun yang menyangkut Iren.
"Apakah anda mengajaknya juga ke Kanada?"lanjut Andrean.
"Tidak, tuan. Istriku sedang kurang enak badan. Itu sebabnya aku tidak mengajaknya."elak Lion.
"Sayang sekali, andai dia bisa ikut, pasti akan seru saat perayaan ulang tahun pernikahan ku nanti" Andrean tersenyum saat mengatakan itu.
"Lain kali, tuan. Aku akan mengajaknya ke Kanada."pungkas lion. Ia tersenyum namun di dalam hati, ia Sedang mengutuk Andrean karena pria di depannya ini terlalu banyak bicara.
Tak lama pintu terbuka, sekretaris Andrean membawa dua cangkir kopi dan menyimpannya di atas meja sofa yang saat ini di duduki keduanya.
.
.
__ADS_1
. Jangan lupa Tinggalkan jejak. terimakasih.🙏