
Setelah mobil yang dikendarai Rey menjauh, syera membaca kartu nama yang ada di tangannya.
"Reynolds gantari," ucapnya di ikuti senyum, lalu kembali melangkah pulang kerumahnya.
***
Ketika fajar mulai menyingsing, Iren terbangun dengan keringat mengucur di dahinya. Ia menyudutkan dirinya di sisi ranjang dengan tubuh terbungkus rapat oleh selimut, bibirnya bergetar seiring air mata berlinang. Tangannya mengcengram kuat-kuat selimut yang menutupi tubuhnya saat bayang-bayang penyiksaan terbayang di ingatannya.
"Mommy," hanya kata itu yang terus terucap di bibirnya, tak kalah rasa takut itu kembali datang menderanya.
Maria yang baru saja masuk ke dalam kamar, kembali menatap iba pada iren, wanita malang di depannya ini bagaikan cangkang kosong yang jiwanya terpisah dari raganya.
Maria berjalan mendekat, lalu mengusap kepala Iren.
"Nyonya sarapan, yah?" Tanya Maria.
Iren hanya mengangguk menangapi ucapan Maria. Namun, pikirannya entah kemana. Beberapa Minggu terakhir ini banyak perubahan yang terjadi pada iren. Bukannya membaik tetapi kondisinya Semakin menurun.
Maria beberapa kali melaporkan hal ini pada lion. Namun tak ada tanggapan dari pria itu, ia malah terlihat biasa-biasa saja tanpa beban pikiran. Maria juga sempat melaporkan hal ini pada Jeremy. asisten itu ikut merasa iba pada kondisi Iren, tetapi ia juga sama seperti Maria, tidak bisa berbuat banyak. Yang memegang kendali hanya Lion, ia akan mulai bekerja saat Lion menyuruhnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan anggukan dari Iren, perlahan Marian mulai menyendokkan sereal itu masuk ke dalam mulut Iren. Iren hanya terdiam, menatap lurus kedepan. Namun, setiap suapan yang diberikan maria, wanita itu tidak pernah menolak.
"Maria," panggil Iren. Ini kali pertamanya ia kembali bersuara.
"Iya, Nyonya?" Jawab Iren.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Maria.
"Apa, nyonya?"balas Maria lagi.
"Aku ingin meminta sebuah lilin, aku ingin berdoa," lanjut iren.
Setelah mengambil lilin, Maria lalu memberikan lilin itu pada iren.
Irene menerimanya dan mulai mendudukkan tubuhnya pada kursi roda yang ada di kamar itu.
Maria mendorong kursi itu mendekat kearah jendela. Mengambil lilin lalu menaruhnya di depannya Iren kemudian menyalakannya.
Iren mengepalkan kedua tangannya tepat di depan dada lalu mulai berdo'a.
__ADS_1
Iren memang mengalami tekanan mental yang sangat kuat, namun ia tak pernah sekali pun melupakan siapa Tuhannya.
Maria menuduk. kemudian tangisnya mulai luruh saat mendengar setiap doa yang keluar dari mulut Iren. Sekarang Iren sedang mendoakan janinnya yang harus gugur sebelum berkembang, penyesalan itu selalu ada karena ia mengetahuinya setelah janin itu gugur, walaupun saat ini ia sangat membenci Lion, Namun janin itu tidak berdosa.
Tak lama, terdengar suara derap langkah dari luar. Membuat Maria tersadar. dengan cepat ia menyeka air matanya, sebelum ada yang melihatnya. Iren yang nampak begitu ketakutan saat mendengar derap langkah dari luar, seketika Tubuhnya Terlihat bergetar. tubuhnya dengan cepat merespon. Maria lalu mendekap wanita malang itu, lalu mulai mengusap kepala Iren dengan lembut, membuat wanita itu agak sedikit tenang.
"nyonya tidak usah takut, aku disini," ucap Maria saat Iren semakin mempererat pelukannya.
dengan pelang Iren mengangguk, namun wajahnya terlihat sangat ketakutan.
pintu terbuka. Maria bernafas lega saat melihat ternyata Elis yang datang ke kamar itu.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak.😊
__ADS_1