
Flashback on
Setelah mendengar semua informasi dari Bastian tentang kematian Albert 5 tahun yang lalu serta informasi tentang anak Albert yang ia titipkan pada sahabatnya. Lion kini berjalan keluar dari gedung tua yang selama ini ia tempati untuk menyekap semua para pengkhianat dan para koruptor perusahaan.
Ia berjalan dengan lemas, tubuhnya terasa hampir ambruk. Nafasnya tercekat, dunianya seketika mengelap seolah nyawanya sudah direnggut paksa dari tubuhnya. Ia berusaha berpegang pada tiang yang ada di depan bangunan tua itu." Kenapa harus Irene, kenapa harus dia?"gumamnya. Air matanya seketika luruh, ini kali kedua Lion menangis, yang pertama saat kematian kedua orang tuanya dan Sekarang, saat ia mengetahui ternyata Irene adalah anak kandung dari Albert, orang yang pernah menjadi dalang atas kematian orang tuanya.
Setelah beberapa lama berdiri di sana, Lion berusaha menguatkan hatinya, ia berjalan ke arah mobilnya, menyalakan mesin dan melaju meninggalkan tempat itu.
Dua jam mengitari kota New York tanpa arah dan tujuan mobil Lion berhenti tepat di depan pagar mausoleum kedua orang tuanya. Ia keluar dari dalam mobil, dan dengan sisa tenaganya ia berjalan masuk kedalam Mausoleum.
Sesampainya ia di depan makam kedua orang tuanya, Lion lalu menekuk kedua kakinya, tangisnya seketika pecah. Hatinya hancur mendapati kenyataan jika perempuan yang selalu menghiasi senyumnya adalah anak dari seorang yang pernah merenggut paksa senyum masa kecilnya.
"Mom, dad," ucapnya lirih, tangannya terulur mengusap Nisan kedua orang tuanya.
Seketika bayangan Daddy serta mommynya terbujur kaku dengan bersimbah darah tergeletak di ruang makan menari-nari di pikirannya.
saat itu usianya baru menginjak 6 tahun, Namun Daddynya pernah berpesan, jika suatu saat kejadian buruk menimpa keluarganya. Lion harus pergi sejauh mungkin, karena setiap saat musuh Daddynya selalu mengintai. dan keesokan harinya saat penguburan jenazah kedua orang tuanya. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan, tangis kedua anak itu pecah saat peti jenaza di masukkan ke lian. hidup sebatang kara tanpa ada sanak saudara membuat Lion harus dewasa sebelum waktunya. Lion mengepalkan tangannya, tatapan benci serta kemarahan terbingkai jelas di wajah.
__ADS_1
"Maafkan aku mom, dad. mungkin saat ini kau sudah bertemu dengan pembunuh itu dad. Namun ada satu hal yang ingin kukatakan."Lion menarik nafas panjang lalu membuangnya."aku sudah menikahi putrinya. Tetapi mommy dan Daddy tidak usah khawatir hidup putrinya sekarang ada di tangan ku. Aku bersumpah di depan nisan kalian, akan aku buat wanita itu membayar semua darah yang mengalir di tubuh Daddy dan mommy." Ucapnya lirih, ia mengepalkan tangannya dengan raut wajah penuh dendam. Ia lalu berdiri dari nisan kedua orang tuanya dan berjalan keluar dari mausoleum dengan Amarah berapi-api.
Flashback end
***
"Mari…..a" teriak Lion, Suarannya mengelegar hingga memenuhi seisi mansion.
Kepala pelayan itu lalu berlari menaiki tangga, saat tiba di lantai atas, seketika langkahnya terhenti saat melihat nyonyanya bersimpuh di lantai.
"Urus wanita itu ! dan satu lagi, jangan pernah biarkan dia menyentuh barang apapun di rumah ini!"
Setelah mengucapkan itu Lion lalu melangkah meninggalkan Irene, tetapi langkahnya terhenti saat irene bersuara.
"Lion, aku tidak tahu menahun tentang masalah pembunuhan itu, lalu di mana letak kesalahan ku?,"
Mendengar itu, Lion lalu memutar tubuhnya, mata keduanya seketika langsung mengunci." Kesalahanmu adalah karena kau terlahir dari darah seorang pembunuh,"pungkas Lion, ia menekan kata pembunuh di akhir ucapannya.
__ADS_1
Tangis Irene kembali luruh, saat melihat tatapan Lion yang tampak asing. Tak ada lagi tatapan hangat, tatapan cinta dari kedua netra biru yang selama ini selalu mengucurinya dengan banyak cinta. saat ini, dimata Lion hanya ada tatapan benci serta jijik saat melihatnya.
Setelah mengucapkan itu, Lion lalu masuk ke ruang kerjanya. Ia meremas rambutnya. Tangannya ia hempasan di atas meja, hingga semua barang yang ada di atas meja berserakan di lantai.
Untuk kesekian kalinya, air matanya kembali menetes, ia tidak dapat memilih antara cinta dan dendam. Jika ia memilih cinta itu berarti ia sudah berkhianat pada kedua orang tuanya dan jika ia memilih dendam itu artinya ia harus mengubur dalam-dalam cintanya.
Lion menyeka air matanya. saat ini, hatinya memberontak namun ia kembali pada egonya ."Lion ingat! bagaimana orang tuamu terbunuh lalu bagaimana dengan air mata Audrey yang kehilangan masa kecil nya," kata itu melintas di pikirannya dan pada akhirnya ia kalah ia harus mengikhlaskan cintanya demi membalas dendam atas apa yang menimpa keluarganya.
Lion berjalan ke arah kulkas, mengambil sebotol Vodka lalu menyesapnya. saat ini Lion butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Namun, saat ia sibuk menyesap vodkanya, matanya tanpa sengaja melihat bingkai foto dirinya dan juga Irene terpampang jelas di dinding ruangan kerjanya. Rahangnya tiba-tiba mengeras, ia kemudian menyimpan botol Vodka yang saat ini ia pegang lalu berjalan untuk mengambil bingkai foto itu.
Setelah ia mengambil bingkai foto itu.
Plak
Dalam hitungan detik ia menghempaskan pigura itu.
Lion menatap nanar fotonya dan juga foto Irene, di foto itu jelas terlihat kebahagiaan keduanya. selama ini, ia tak pernah membayangkan akan berada di posisi ini, akan hidup dengan darah daging seorang pembunuh.
__ADS_1