
Lion memandangi punggung Audrey yang berjalan keluar dari ruang kerjanya lalu hilang di balik pintu, Lion menghela nafas kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang, ia menegadakan kepalanya ke atas lalu memejamkan mata.
Apakah benar yang dikatakan Audrey, jika ia akan menyesal suatu saat nanti jika ia tetap pada keinginannya untuk tetap membalas dendam?
Sekelebat kata-kata Audrey terus terngiang di kepalanya. Dengan cepat ia menggeleng lalu membuka matanya. " Tidak mungkin! aku tidak mungkin menyesal, aku tidak mencintainya lagi, wanita itu anak pembunuh, karena Albert Lah yang membuat aku dan Audrey kehilangan Daddy dan mommy." Gumam Lion. Ia kembali menekan egonya, walaupun sebenarnya hatinya berkata lain, namun karena dendamnya ia mengubur dalam-dalam cintanya. Ia semakin menekan Egonya agar terus membenci Iren.
Lion lalu bangkit dari kursi putarnya, ia berjalan ke arah kulkas, mengambil wine dengan kadar 90 persen. Ia minum wine agar ia melupakan semuanya untuk sementara. Setelah menghabiskan sebotol wine, Lion Tampaknya sudah mabuk, ia terlihat meracau tidak karuan, ia keluar dari ruang kerjanya berjalan ke arah kamar utama. Apalagi kalau bukan menuntaskan hasratnya pada wanita yang ia sekap di dalam sana.
Setelah sampai di depan kamar utama, Lion membuka kunci kemudian memutar knop pintu lalu pintu terbuka.
Iren yang berdiri di jendela sambil memandang keluar seketika terperanjat kaget, saat melihat Lion masuk kedalam kamar dengan sorot mata seolah ingin memangsa, ras panik seketika menderanya. ia menatap Lion dengan perasaan was-was yang semakin membelenggu jiwanya. sudah hampir sebulan ia dikurung di tempat ini, kadang ia merasa gelisah, ingin menjauh, ingin pergi tetapi ia tak punya banyak tenaga, karena pada akhirnya ia kembali akan tertangkap.
__ADS_1
"Jangan mendekat," Iren beringsut mundur. Wajahnya terlihat memucat saat Lion berjalan semakin mendekat. Kian hari psikisnya semakin terganggu, ia seolah terbelenggu dalam sebuah mimpi panjang yang susah untuk kembali kekenyataan. Tiap hari ia terus dihantui rasa ketakutan, penyiksaan yang selalu di lakukan lion membuatnya mengalami tekanan mental yang kuat.
"Kau menolakku lagi? Hemm?" Ucap Lion dengan sorot mata tajam, rahangnya seketika mengeras, tangannya mengepal kuat. Ia lalu mengambil cambuk yang ada di dinding kamar itu, dan langsung berjalan mendekat ke arah iren.
Plat, plat, plat.
Beberapa kali cambukan itu mendarat di tubuh ringkin yang saat ini meringkuk sambil memeluk kedua kakinya. Ia terus meringis seolah meminta agar cambukan itu di hentikan. Tapi pria yang ada di depannya seolah tidak peduli dengan teriakan dan juga rintihan wanita itu. Ia terus menangis memasrahkan Nasibnya pada Tuhan. entah sampai kapan ia akan mendapatkan siksaan seperti ini. Luka cambukan yang setiap saat selalu ia terima membekas di tubuhnya bahkan suara decitannya selalu terngiang-giang di kepalanya. Ia menangis dalam diam, sesekali ia menyebutkan nama mommynya, meminta pertolongan namun sepertinya sia-sia tak ada satupun orang yang mau menolongnya. Siksaan yang selalu ia terima membuatnya rindu akan kasih sayang yang selama ini nyonya sonia berikan padanya.
"Sudah ku katakan, kau jangan sekali-kali menolak ku! Aku benci di tolak! Sudah ku katakan Tubuhmu ini milikku, aku berhak melakukan apapun termasuk membunuhmu." Lion berucap, ia melempar tali cambukannya ke sembarang arah lalu keluar dari dalam kamar.
Di depan kamar Lion bertemu dengan Maria yang baru saja menyeka air matanya.
__ADS_1
"Urus wanita itu! panggilkan dokter Dave untuk mengobati lukanya." Setelah mengatakan itu, Lion lalu pergi meninggalkan Maria yang masih berdiri di sana.
Saat Lion pergi, lutut Maria seketika melemas. Ia menangis tergugu. Tadi ia sempat mendengar decitan demi decitan cambukan dari dalam kamar yang terdengar jelas di telinganya. hatinya perih mendengar itu semua, rasa iba setiap saat menyelip di salah satu sudut hatinya, ia selalu ingin menolong iren untuk kabur dari tempat ini. Namun bagaimana caranya, ia hanya seorang pelayan, membantu Iren adalah hal yang mustahil. Ia tidak ingin mati terbunuh, anaknya masih kecil-kecil, mereka masih membutuhkan biaya pendidikannya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Trimakasih 🙏
__ADS_1