CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 83. MOUSOLEUM OPA DAN OMA


__ADS_3

Angin berhembus kian kencang. Menerpa dedaunan yang kering di antara ranting pohon yang mulai berjatuhan.


"Apa kau suka?" Tanya Lionel pada putranya.


Sean mengangguk." Cuka, Daddy." Jawab Sean yang sedang fokus dengan coklat di tangannya. Tadi, saat Sean berada di mansion lion, ia menangis mencari Iren. sudah berulang kali bocah itu mencari mommynya. Namun, Lion terus memberikan alasan. Hingga akhirnya terpikir ide untuk membawa Sean untuk mengunjungi mausoleum kedua orang tuanya.


" Apa kau mau lagi?" Lion memberikan dua batang coklat pada bocah empat tahun itu.


Sean memandang dua batang coklat itu dengan mata berbinar. Mata bulatnya mengerjab ia seolah ingin mengambil Coklat itu. Tetapi Sean tersadar akan pesan mommynya yang melarangnya mengkonsumsi coklat berlebihan.


"No, daddy. Mommy larang." Bocah itu menggeleng dan kembali menggigit sisa coklat yang ada di tangannya.


Lion tersenyum mendengar penolakan putranya, tangannya terulur membelai kepala Sean kemudian mengecupnya sekilas lalu membawa bocah itu untuk duduk di pangkuannya. Jujur saja sebenarnya lion juga tidak tega memisahkan Sean dan juga Iren. Namun keinginan untuk memiliki Sean sangatlah besar. Meminta Sean secara baik-baik itu hal mustahil, tidak mungkin Iren akan memberikan Sean padanya, itu sebabnya ia mengambil Sean secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Iren.


Saat sibuk berbicara dengan putranya, ponsel lion tiba-tiba berdering. Lion merogoh sakunya  melihat id si penelepon, ternyata panggilan itu dari Stefani, tunangannya. Lion menghela nafas malas, kemudian mematikan ponselnya.


" Kok tidak diangkat, dad."tanya Sean. bocah kecil ini sangat kritis, ia akan protes jika melihat sesuatu yang salah. 


"Tidak apa-apa, sayang."balas lionel dan kembali membelai pucuk kepala putranya. 

__ADS_1


Beberapa hari ini, Stefani tidak henti-hentinya menghubunginya. Setelah acara pertunangan mereka. Stefani lebih protektif. Sebenarnya lion sangat malas jika terus-menerus harus mendengarkan ocehan Stefani. Wanita itu selalu saja mengganggunya, itu sebabnya Lion mematikan panggilan dari Stefani.


***


"Lion, kemana putraku!"teriak Iren dari luar mansion. Dua jam yang lalu Iren sudah tiba di New York. Namun ia harus menunggu jet yang dikendarai Rey tiba di New York. Kemarin saat Iren menghubungi Rey, mereka sepakat bertemu di New York karena akan banyak memakan Waktu jika Rey menyusul iren ke Indonesia.


Tak lama muncul beberapa mobil saling berjejeran masuk ke dalam mansion dan Iren bisa memastikan jika itu mobil Lion. 


Melihat beberapa mobil yang masuk ke dalam Mansion. Rey, Iren dan Sera segera berlari masuk mengikuti mobil lion sebelum pagar besi mansionnya tertutup kembali.


"Kembalikan Sean," Iren berjalan mendekat ke arah mobil Lion, setelah melihat Lion keluar dari mobil dengan menggendong Sean yang sedang tertidur pulas.


Melihat Iren  menodongkan pistol ke arah Lion, beberapa pengawal bergerak maju. Namun langkah mereka terhenti saat melihat lion menaikan satu tangannya pertanda menghentikan gerakan mereka.


Mendengar perkataan Lion, darah Rey seketika mendidih ia berjalan maju." Stop Rey."ujar Iren. Ia akan menyelesaikan masalahnya pada lion terlebih dahulu. 


Lion menidurkan Sean di dalam kabin penumpang mobilnya kemudian keluar.


"Kembalikan Sean brengsek."Iren maju dan menampar pipi Lion, entah angin apa yang membuatnya sangat berani.

__ADS_1


Lion menyunggingkan senyumnya sambil memegang pipinya Yang baru saja di tampar Iren. rasa panas menjalar di rongga pipinya. Ia lalu maju ke arah iren, mendekatkan wajahnya kemudian berucap." Berani sekali, kau." Lion menjambak rambut Iren kemudian berbisik di telinga Iren." Aku tidak akan pernah memberikan Sean padamu, dia putraku, kau sudah menyembunyikannya selama empat tahun dari ku dan saat ini, giliranku yang akan mengasuhnya.


Melihat Lion menjambak rambut Iren, kemarahan Rey semakin memuncak, ia maju ke arah Lion dan memberikan sebuah bogem tepat di wajah Lion. Lion tersungkur.


Bukannya membalas, lion malah tersenyum lalu bangkit dari duduknya." Aku tidak akan memberikan Sean pada kalian, pulanglah. Nanti kita akan bertemu di pengadilan. Pengadilan yang akan menentukan, apakah  Sean akan bersama kalian atau Sean akan bersama ku." Pungkas lion.


Mendengar ucapan Lion, darah Rey seketika berdesir. Ia maju ke arah Lion dan melayangkan sebuah bogem tepat di wajah Lion, namun dengan cepat Lion menahan tangan Rey dan membalas memberi bogem tepat di wajah Rey.


Mereka terlibat perkelahian. Namun tak ada satu orangpun yang bisa menghentikan mereka. Saat Lion lengah , tiba-tiba Rey mengambil sebuah revorver dari saku jasnya. Ia menarik paralelnya." Cepat kembalikan Sean, jika tidak satu peluru menancap di kepalamu."


Lion tersenyum mendengar ucapan Rey." Kau tidak lebih pintar dari ku." Ternyata sejak tadi Lion sudah lebih dulu menancapkan pistol di pinggang Rey, namun pria itu tidak menyadari semuanya.


"Mommy," teriak Sean dari arah belakang. Bocah itu terlihat tertawa menampakkan deretan gigi putihnya saat melihat mommynya. Sean baru saja bangun. Saat ia bangkit dari berbaringnya, ia langsung menatap keluar jendela dan melihat Iren ada di sana. Ia lantas keluar dan langsung berlari ke arah Irene. Melihat itu, lion dengan cepat Berdiri ingin mengambil Sean. Tetapi dengan refleks Rey menarik pelatuk ingin menembak lion. Mata Iren membulat melihat arah senjata Rey dengan cepat Irene berlari dan…..dorrr.


.


.


.

__ADS_1


Maaf telat up, beberapa hari ini, author sibuk bantu adik untuk daftar ke universitas. InsyaAllah setelah ini author akan rajin up.🙏


 


__ADS_2