
Pria itu melepas pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Stefani sambil menatap wajah Stefani kemudian menghapus sisa jejak air mata yang masih menempel di pipi Stefani.
"Maafkan aku," ucap Lionel. Ya, pria yang akan bertunangan dengan Stefani Willson adalah Lionel muller. Beberapa tahun belakangan, Lion sangat terpuruk. Ia menjadi pria yang lebih arogan dari sebelumnya. Setiap malam ia hanya menghabiskan waktunya di club' malam dan akan kembali pulang ke mansion saat waktu menjelang dini hari. dan hal itu tak luput dari perhatian audrey. Dan dua tahun lalu, pada saat perayaan acara ulang tahun perusahaan Audrey di Italia, Audrey sengaja menjodohkan Lionel dan juga Stefani. Sudah berulang kali Lionel menolak. Namun Audrey tetap memaksa, hingga akhirnya Lionel lelah dan menerima Stefani menjadi kekasihnya. Stefani adalah putri tunggal dari tuan Willson, pemilik SW crop, perusahaan yang bergerak di bidang chipset yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan eletronik terbesar di dunia.
Stefani kembali mengangguk.
"Aku akan berusaha membuka hati ku, dan akan memulai semuanya." Lanjut Lionel. Nyatanya sampai detik ini Lionel memang belum mencintai Stefani. Stefani pun tahu akan hal itu. Namun ia sudah terlanjur melabuhkan hatinya pada sosok pria di depannya. Sebisa mungkin ia menutup mata dan telinganya, kemudian meyakinan hatinya tentang cinta yang selama ini ia perjuangkan.
"Aku akan menunggu mu." Balas Stefani. Kemudian memeluk tubuh Lionel. Lionel memejamkan mata saat Stefani memeluk Tubuhnya, rasanya memang berbeda seperti saat Iren memeluknya dulu. Lama terdiam perlahan tangan Lionel terangkat untuk membalas pelukan Stefani.
***
Iren merentangkan kedua tangannya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Hari ini pekerjaannya memang benar - benar banyak. Ia harus menyelesaikan semua desain pesanan costumernya dengan waktu singkat.
Tak lama seseorang mengetuk dari luar ruang. Lalu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Apa aku mengganggumu?" Suara Barito dari arah pintu, Membuat Iren mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
Iren tersenyum kemudian berdiri dari kursinya.
"Tidak sama sekali, Wil." Balas iren berjalan ke arah pintu menyambut kedatangan William.
Sesampainya Iren di pintu, William tersenyum lalu memberikan sebuket bunga pada iren.
" Ini untuk mu." ujar William. Tadi sebelum ke butik, Wiliam pergi ke toko bunga terlebih dahulu untuk membeli bunga untuk iren, ini hal yang selalu Wili lakukan tiap kali berkunjung ke butik.
Iren tersenyum dan langsung menerima buket bunga pemberian Willi." Terimakasih Wil," pungkas Iren kemudian mencium wangi bunga mawar yang sangat segar di penciumannya, ia tersenyum dan kembali menatap Wiliam, Iren kemudian mengajak William Untuk duduk di sofa yang ada diruangannya..
"Silahkan duduk Wil." Ucap Iren.
Wili mengangguk dan langsung berjalan ke arah sofa. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggal yang ada di sana. Kemudian mulai mengutarakan niatnya datang ke butik.
" Apa besok kau sibuk?" Tanya Willi.
Iren mengeleng," sepertinya tidak. Memang ada apa?" Balas iren.
"Aku mendapatkan undangan dari rekan kerjaku. Putrinya bertunangan. Apa kau bisa menemaniku?Tanya William.
Iren tampan berpikir. Wili menatap dengan penuh harapan agar Iren mau menemaninya.
Tak lama Iren mengangguk, tentu aku akan menemanimu." Jawab Iren. Iren sebenarnya memiliki banyak sekali pekerjaan. Namun mengingat Wiliam lah yang sepenuhnya punya andil membantu perusahaan keluarganya bangkit. Itu sebabnya Iren tidak akan pernah menolak.
__ADS_1
Wili tersenyum bahagia. Baik, aku akan menjemputmu besok malam." Seru Wili dan langsung berpamitan pada iren. Ia berdiri dan langsung berjalan menuju pintu. Namun langkahnya terhenti. Kemudian berbalik ke arah iren." Jangan lupa kau harus membawa Sean." Titah Wili dan keluar dari ruangan Iren tanpa menunggu jawaban dari Iren. Menurut Wili, salah satu cara untuk mengambil hati Iren ialah mendekati putranya Sean terlebih dahulu.
Setelah kepergian Wili, Iren bangkit dari sofa mengambil buket bunga pemberian Willi kemudian menaruhnya di atas meja. Lalu keluar dari ruangannya sambil membawa desain hasil rancangannya untuk di bawa ke ruang produksi.
***
Ke esokan harinya, Iren memandang tubuhnya yang saat ini di balut dengan gaun malam dengan rambut di Cepol ke atas dengan beberapa helai rambut menjuntai ke bawah. Terlihat sesekali Iren memperaiki riasan di tubuhnya.
"Kau cantik sekali mommy." Ujar Sean yang baru saja masuk ke dalam kamarnya barsama Sera.
Iren berbalik dan tersenyum ke arah putranya. Saat Sean sudah sampai di depannya, Iren menekuk kedua kakinya, hingga saat ini posisi mereka sejajar.
"Kau sangat pintar memuji mommy." Ujar Iren lalu mengecup pipi Sean sekilas.
"Mommy jangan menciumku," protes Sean.
"Kenapa?" tanya Iren
Sean lalu membisikkan sesuatu di telinga mommy.
"Ada aunty Sera."ucapnya polos.
"Ada apa nona?" Tanya Sera menimpali.
Dengan cepat Sean mengeleng, memberi isyarat agar mommy tidak memberitahukan apapun pada Sera.
Iren terkikik melihat expresi yang keluar dari wajah iren.
"Ada apa nona? Kau jangan menyembunyikan apapun dari ku." Ujar Sera mengerucutkan bibirnya.
Iren menatap Sera, kemudian mengalihkan tatapannya pada Sean." Beri tahu ngak yah….."lanjut iren sambil terkikik.
" Jangan mommy!"seru Sean memohon pada mommy.
tak lama terdengar seseorang mengetuk dari luar, mereka bertiga lalu menoleh ke arah pintu.
"Ada apa, mbak?" Tanya Iren.
"Tuan Wili sudah datang, Nyonya."balas pengasuh Sean.
"Baik, mbak. Aku akan turun sebentar lagi." Pungkas Iren dan langsung merapikan toksedo yang saat ini di kenakan oleh Sean.
__ADS_1
"Kau tampan sekali," ujar Iren kembali tersenyum pada putranya.
" Trimakasih mommy." Balas Sean lalu mencium pipi Iren sekilas.
Iren lalu bangkit dan berjalan ke arah meja rias.
"Nona, apa aku perlu ikut?" Tanya Sera ia mengikuti langkah Iren Menuju ke meja rias. Pasalnya ia sangat khawatir jika Sera bepergian sendiri apalagi di malam hari. Tuan Mahesa sudah mewanti-wanti dirinya untuk selalu menjaga Iren.
Iren berbalik "Kau tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja. Lagi pula kau banyak mengajariku bela diri, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. aku akan melawan siapa pun yang akan menyakitiku." Seru Iren dan kembali menata riasan yang saat ini ia gunakan.
"Ayo mommy." Ujar Sean saat melihat mommy berjalan mendekat.
Iren mengangguk dan langsung meraih tangan Sean.
Sesampainya Iren di lantai bawah. Seketika Wili terdiam, saat ini ia terpaku melihat penampilan Iren yang bagitu memukau.
"Wil," panggil Iren saat melihat Wili diam mematung. Saat ini Wili sedang menikmati kecantikan yang terpancar diwajah iren yang berdiri di depannya.
Seketika Wili tersadar," maaf ."ujar Wili, ia terlihat salah tingkah saat kedapatan terus memperhatikan wajah iren.
Sera yang Berdiri tidak jauh dari mereka, tampak terkikik saat melihat tingkah pengusaha sukses yang terkenal dingin pada wanita.
"Kita jalan sekarang?" Tanya Wili.
Iren mengangguk. iya."
Setelah mendapatkan Jawa dari Iren, tanpa disuruh, Wili lalu mengendong tubuh mungil Sean menuju ke mobilnya.
Iren yang masih berdiri disana seketika tersenyum saat melihat Wili mengendong putranya.
.
.
.
.
Trimakasih yang masih setia untuk membaca karya receh author. semoga kalian semua diberi kesehatan. jangan lupa tinggalkan jejak. maaf kemarin ngak sempat up, author sibuk banget, banyak kerjaan.🙏🙏🙏
__ADS_1