CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 14. LAMARAN


__ADS_3

Setelah kepergian Tom, Rey kembali Fokus dengan berkas yang dibawah tom barusan. Ia menelisik isi berkas yang ada di tangannya akan tetapi ia tidak dapat fokus pada berkasnya.


"Akkhhh...aku kenapa sampai tidak bisa fokus begini,". Rey meremas kepalanya. Pikirannya sedang kalut. Entah apa penyebabnya, ia pun tak tahu, padahal 4 jam lagi ia ada meeting dengan Mr Li.


Tak lama ponselnya berbunyi. Ia lalu mengambil ponselnya yang ada diatas meja. Ia melihat id si penelepon.


"Irene," gumamnya. Ia mengernyitkan alisnya tidak biasanya sang adik menghubunginya di saat jam kantor begini.


"Iya, ren. Ada apa?"


"Rey kau ada waktu tidak Nanti malam?"


"Jam berapa?"


"Sekitar pukul tujuh malam, bisa tidak?


"Sepertinya bisa, akan aku usahakan. Memangnya ada acara apa?


"Kau datang saja ke restoran odette nanti malam, pukul tujuh. Aku, Daddy dan mommy menunggu mu di sana. Jangan sampai tidak datang, aku menunggu mu."


"Tapi jawab dulu, ada acara apa?


"Pokoknya kau datang saja. Tak usah banyak tanya."

__ADS_1


Sebelum Rey kembali berucap Irene sudah mematikan sambungan teleponnya terlebih dahulu. 


"Tunggu dulu ren, jangan dimati….kan…


Tut...tu..Tut..


Rey mengeleng kepala saat sambungan teleponnya mati.


"Kebiasaan," gumamnya. Ia lalu kembali menyimpan ponselnya ke atas meja.


***


Pukul lima sore dimension keluarga Gantari


"Bagus, anak mommy hari ini Terlihat sangat cantik."Jawab nyonya Sonia, nyonya Sonia berdiri berjalan menghampiri putrinya."apapun yang kau kenakan, pasti akan terlihat cantik." lanjut nyonya sonia. Nyonya Sonia kembali memandangi putrinya lalu membelai punggung Irene yang nampak terbuka di belahan bagian belakangnya . Ia tersenyum saat mengingat Albert datang ke rumahnya membawa bayi merah yang sepertinya belum genap sehari. Tak terasa sudah selama dua puluh delapan tahun ini ia merawat gadis di depannya. Selama ini ia tak pernah membedakan Rey ataupun Irene, ia selalu menganggap keduanya adalah anak kandungnya walaupun nyatanya Irene hanyalah anak angkatnya.


"Mom, ada apa?" Tanya Irene saat melihat nyonya sonia yang nampak memikirkan sesuatu


Mendengar perkataan putrinya, Nyonya sonia seketika langsung menggeleng." Tidak apa-apa, mommy hanya mengingat saat kau masih kecil dan sekarang kau sudah sebesar ini." Ucap nyonya Sonia tersenyum. Ia lalu memeluk putrinya.


"Mommy menyayangimu," ucap nyonya Sonia saat memeluk tubuh putrinya.


"Irene juga menyanyi mommy."jawab Irene. Ia membalas pelukan sang mommy.

__ADS_1


Lama berpelukan nyonya Sonia melepas pelukannya. ia menangkup kedua wajah Irene, menghapus air mata yang mengenang di kedua mata putrinya."kau jangan menangis lagi, nanti putri mommy tidak terlihat cantik di depan calon mantu mommy, senyum dong."


Mendengar ucapan sang mommy seketika Irene tersenyum. 


"Terima Kasih mom," Irena menatap wajah Nyonya sonia yang nampak terlihat tulus.


"Sama-sama," jawab Nyonya sonia dan kembali tersenyum.


***


Pukul 6 sore keluar gantari sampai di restoran yang sudah di persiapkan oleh Leon sebelumnya.


saat masuk kedalam restoran seorang waiter menyapanya.


"selamat siang tuan, Nyonya. ada yang bisa kami bantu?"ucap seorang waiter dengan memakai kemeja putih lengkap dengan rompi hitamnya.


belum mereka menjawab, Jeremy sudah lebih dulu berlari menghampiri Irene dan juga keluarganya.


"Mari nyonya, tuan Lion sudah menunggu anda didalam," pungkas Jeremy mempersilahkan calon Nyonya untuk masuk.


" Ya, Terimakasih Jeremy," jawab Irene dan mengikuti langkah Jeremy untuk masuk kesebuah ruangan privasi yang sudah dipesan oleh Lion.


 

__ADS_1


__ADS_2