CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 49. NAMA IREN TERLINTAS


__ADS_3

Pukul 3 dini hari, Lion berjalan memasuki apartemennya dengan langkah yang gontai. Hari ini tubuhnya lelah, ia belum beristirahat sama sekali sejak pagi. 


Sesampainya di dalam unit apartemennya, Lion menjatuhkan tubuhnya di sofa. Kemudian merogo ponsel yang nada di sakunya lalu mengaktifkan ponselnya, karena sejak tadi Lion sengaja mematikan ponselnya saat bersama Alex.


Saat ponselnya sudah menyala, ada banyak panggilan dari jeremy. Ia lalu menekan id Jeremy kemudian meneleponnya, beberapa saat kemudian Jeremy mengangkatnya.


"Hallo, tuan," jawab Jeremy dengan suara khas bangun tidur.


"Ada apa kau menghubungi ku?"tanya Lion.


"Semalam Ada yang berusaha membakar markas gudang senjata, tuan. Aku dan para pengawal sudah berusaha mengejarnya. Namun ia berhasil kabur." Ucap Jeremy di seberang sana.


" Kau sudah memeriksa semua CCTV yang ada di gudang?"tanya Lion.


"Sudah, Tuan. Menurut ku mereka adalah anak buah Nick. Dari cara berpakaiannya, saya bisa memastikan jika itu Anak buah Nick." Balas Jeremy.


"Sial! Apa belum cukup kemarin aku melenyapnya beberapa anak buahnya! Cari tahu siapa yang berani berurusan dengan ku, hidup ataupun mati bawa mereka kehadapanku."pungkas Lion.


"Baik tuan!"


"Satu lagi. dua Minggu lagi atur acara ulang tahun perusahaan,"

__ADS_1


"Baik, tuan." Balas jeremy lagi.


Setelah panggilan telpon terputus, Lion lalu bangkit dari sofa, berjalan ke arah kulkas dan meneguk sebotol air mineral.


Ia tersenyum miring saat memikirkan semua Rencananya.


"Bersiaplah Alex, dua Minggu lagi." Lirih Lion. Kemudian ia menyimpan gelas yang ia pegang ke atas meja lalu berjalan ke arah kamar mandi.


***


Setelah membersihkan dirinya, Lion merebahkan tubuhnya di kasur lalu berusaha memejamkan mata. Namun bukannya terpejam, ia malah semakin memikirkan Iren. Entah Kenapa wajah wanita itu terus membayangi pikirannya, apakah ia rindu?. Tetapi dengan cepat Lion kembali mengeleng." Tidak. Tidak mungkin aku merindukan wanita itu," gumam Lion. Tadi saat ia di club', Alex sudah menyuruhnya memilih wanita yang akan menemaninya menghangatkan ranjangnya malam ini. Namun, ada hal yang jangal dari sudut hatinya. ia juga tidak tahu, ia hanya tidak berselera dengan wanita ******, padahal biasanya ia rela menyewa sampai jutaan Dollar hanya untuk memuaskannya di ranjang.


"Sial," umpat Lion, saat nama Iren terlintas terus di pikirannya. Ia lalu memiringkan tubuhnya ke samping lalu menjadikan tangannya sebagai tumpuan untuk menyangga kepalanya."Apakah ia masih mencintai iren? atau Iren sudah ia hapus dari dalam hatinya? Entah lah." Batin Lion.


Ia menatap lekat-lekat kalung itu, ada segaris senyum di bibirnya saat menatap kalung itu, ia merindukan mommy nya.


***


Dua Minggu kemudian


" Bagaimana? Apa semuanya sudah siap?" Tanya Lion yang saat berdiri di jendela ruang kerjanya sambil melihat pemandangan dari atas.

__ADS_1


"Sudah, Tuan." Jeremy mengambil sebuah koper kecil dan langsung meletakkannya ke atas meja kerja lion.


"Bagus," balas lion. Lion tersenyum. Lalu melangkah menuju meja kerjanya. Raut menyeramkan masih terbingkai jelas di di wajahnya walaupun saat ini ia sedang tersenyum. Lion merabah permukaan koper itu. Menyuruh Jeremy untuk membukanya.


Saat koper itu terbuka, Lion kembali tersenyum, kemudian mengeluarkan isi dari koper itu. Ia lantas mencobanya.


.


.


.


.


Selamat berpuasa bagi yang menjalankan.


selamat membaca


Terimakasih karena sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak. 🙏😊

__ADS_1


 


 


__ADS_2