
Irene meringis, tetapi nampaknya Lion belum juga puas. Air matanya kembali mengalir tak kala Lion semakin mempercepat gerakannya, entah sudah berapa lama Lion melakukannya, namun sepertinya pria itu belum juga puas.
"Aaahhkk," Iren kambali meringis, ia mencengkram kuat sprei, saat Lion kembali mempercepat gerakannya, saat ini Lion memperlakukannya dengan sangat kasar, padahal ini pertama kali Iren melakukannya. Aroma amis bercampur keringat menyatu di tubuh keduanya.
Momen malam pertama Yang Iren impikan akan indah, nyatanya hanya menorehkan luka di hatinya.
Setelah puas, Lion kembali bangkit dari tubuh Iren, ia kembali tersenyum devil, saat melihat tubuh polos Iren tergeletak tak berdaya di atas kasur, ia lantas mengambil ikat pinggang yang ada di lantai.
Plak, plak.
Lion mencambuk tubuh polos Iren yang sudah tak bertenaga.
Air mata kembali lolos membasahi Kedua pipinya, tangis kepiluan kembali terdengar. Hari ini bukan hanya luka batin yang ia terima melainkan luka fisik pun ia dapatkan dari pria yang selama 5 tahun selalu mengucurinya dengan banyak Cinta.
Setelah puas, Lion lalu melempar sabuk itu ke sembarang arah, kemudian berjalan ke arah kamar mandi, ia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum ia keluar dari kamar utama.
Saat terdengar pintu kamar mandi tertutup, dengan perlahan Iren menarik selimut yang tergeletak di lantai. seluruh tubuhnya terasa remuk ditambah bekas cambukan yang terasa sangat perih.
***
Setelah membersihkan seluruh tubuhnya, Lion keluar dari dalam kamar dan meninggalkan Iren di dalam kamar sendiri, tadi sebelum ia keluar, ia sempat menoleh ke arah ranjang, sayup-sayup ia menangkap suara wanita sedang meringis. dan Lion dapat memastikan bahwa yang meringis adalah Iren. Ia kembali tersenyum devil saat mendengar rintihan Iren di balik selimut.
"Urus dia," ucap Lion, saat ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Maria di tangga.
"Baik, tuan," jawab Maria, ia menunduk lalu melangkah menuju kamar utama.
__ADS_1
Sesampainya di kamar utama, Maria mengetuk lalu membuka kunci kamar utama. Ya, Lion mengunci kamar yang saat ini ditempati oleh iren, ia tidak ingin jika Iren kabur ataupun keluar dari kamar itu.
Dengan perlahan Marian berjalan ke arah ranjang," nyonya, nyonya," panggil Maria yang berdiri di sisi ranjang.
Namun tak ada pergerakan dari Iren. Maria lalu menyentuh ujung selimut dan mulai menyibakkan.
Matanya seketika membulat, saat melihat tubuh Iren yang penuh dengan bekas cambukan. Tiba-tiba air matanya menetes, walaupun ia baru mengenal Iren, tapi ia yakin, jika wanita ini, adalah wanita baik, mungkin hanya kesalahan masa lalu yang membuat hidupnya tragis seperti sesaat ini.
Perlahan Maria menyentuh punggung Iren," nyonya, mari saya bantu untuk membersihkan diri." Ucapnya sambil menatap iba pada nyonya.
Lamat-lamat Iren mulai membuka matanya, bibirnya tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang nampak cantik di salah satu pipinya saat matanya menangkap sosok Maria yang sekarang berdiri tidak jauh darinya.
"Ada apa, Maria?" Iren berucap dengan pelan, namun masih bisa ditangkap oleh pendengaran maria.
"Saya kesini atas perintah tuan lion, beliau menyuruh saya untuk membantu anda membersihkan diri nyonya."
"Kalau begitu, saya permisi ke toilet dulu nyonya," pamit maria. lagi-lagi Iren mengangguk.
Maria kemudian berjalan ke toilet untuk menyiapkan air hangat serta cairan antiseptik untuk membersihkan luka di tubuh Iren.
Tak lama Maria keluar dari dalam toilet, Namun wajahnya seketika langsung memucat saat mendapati ranjang yang tadi di tempati Iren kosong. Ia kemudian menoleh ke arah pintu, dan benar saja, Iren pasti keluar, karena pintu dalam kondisi terbuka, padahal tadi Maria sudah menutup lalu menguncinya, mungkin saja karena Maria lupa mencabut kunci yang ada di pintu.
Dengan cepat Maria berlari keluar, ia berharap Irene masih ada di sekitar mansion. Tidak mungkin ia pergi jauh dalam kondisi luka seperti itu.
***
__ADS_1
Irene menekuk kedua kakinya, tubuhnya bergetar hebat. Saat ini iren bersembunyi di belakang lemari tua yang terdapat di gudang belakang mansion. Tadi saat Maria masuk ke dalam toilet untuk menyiapkan air hangat. Iren bangkit dari kasur, awalnya ia hanya berniat untuk bersandar di ranjang, namun niatnya berubah tak kalah ia melihat kunci yang bergelantung di pintu.
Iren perlahan bangkit dari kasur, memakai pakaiannya dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia langsung berlari keluar dari kamar utama. Beruntung saat ia keluar, mension tampak sepi, mungkin sebagian pelayan dan penjaga sedang beristirahat di belakang, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Saat mendapati mansion tampak sepi, Iren mempercepat langkahnya, ia berjalan dengan sedikit berlari mencari jalan keluar menuju pintu belakang mansion. Dan sialnya, saat ia berlari ke belakang, bukannya pintu belakang yang ia dapat, melainkan jalan buntu yang mengarah ke gudang.
"Tuan, tuan!," teriak Maria berlari keluar menuju tangga.
"Ada apa?," tanya salah satu pelayan yang baru saja keluar dari dapur.
"Nyonya,"Maria gelagapan.
"Iya, ada apa dengan Nyonya. Kalo bicara yang jelas," gerutu Elis.
"Nyonya tidak ada di kamarnya, padahal tadi aku sudah mengunci kamarnya," jawab Maria. Kedua orang itu seketika panik.
"Cepat cari nyonya, dan panggil semua pelayan agar mereka berpencar mencari nyonya. habislah kita kalau Nyonya sampai kabur,"Maria sedikit mendorong tubuh Elis agar memanggil semua pelayan.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih. jangan lupa tinggalkan jejak.
Like, komen, vote dan beri hadiah.🙏