CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 87. CEMBURU


__ADS_3

Lion masih setia menggenggam tangan Iren, seolah dia tidak ingin melepas atau pun berjauhan dengan perempuan itu, walau sedetik. Sejak tadi, saat Iren sadar, Perempuan itu terus saja berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Lion. Namun, usahanya sepertinya sia-sia karena pria itu semakin mengeratkan genggamannya. Tadi, setelah dokter masuk ke dalam ruangan perawatan Iren, dokter itu mengatakan jika kondisi Iren saat ini sudah berangsur membaik. Bahagia tentu lion sangat bahagia mendengar ucapan dokter. Lion Tak hentinya mengucap rasa syukur dengan penuh suka cita.


"Apa kau ingin sesuatu?" Lion berdiri dari kursinya dan menatap Iren yang saat ini masih terdiam.


Iren mengeleng." Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin kau keluar dari ruangan ku." 


Lion terdiam mendengar ucapan Iren barusan. Entah mengapa seketika hatinya berdenyut nyeri mendengar penolakan dari Iren barusan. Tetapi ia berusaha tidak peduli, ia tetap berada di sana hingga seseorang masuk ke dalam ruangan perawatannya.

__ADS_1


Mata Iren dan lion seketika menoleh, Melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Iren.


"Apa kau sudah baikan?" Pria itu masuk ke dalam ruangan perawatan Iren, meletakkan sebuah buket bunga di atas nakas kemudian tersenyum.


Iren terdiam cukup lama, kemudian mengangguk." Aku sudah baikan. Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?" Tantu saja Iren sangat kaget dengan kehadiran Wili secara tiba-tiba di rumah sakit. Siapa yang memberitahu pria itu jika ia berada di sini.


Iren kembali mengangguk." Seperti yang kau lihat sekarang. Aku sudah jauh lebih baik." Iren berusaha bangkit dari tidurnya. Namun dengan cepat Wili menahannya." Kau jangan terlalu banyak bergerak." Wili menahan tubuh iren dan langsung menekan remot yang ada di pagar pengaman tempat tidur yang ada di brankar hingga panel besi penyangga terangkat ke atas. Wili menaruh bantal di belakang Iren, agar Iren dapat dengan nyaman bersandar. Namun saat Wili menaruh bantal di punggung iren, tanpa sengaja tatapan mereka saling mengunci. Iren dan Wili bertatapan cukup lama. Hingga terdengar seseorang berdehem.

__ADS_1


" Hmmm, apa kalian sudah puas bertatapan?" Suara lion tiba-tiba menyadarkan keduanya. Hingga membuat Wili dan Iren terlihat salah tingkah dan membuang tatapannya ke arah lain.


Tak lama, setelah Iren menetralkan perasaannya, ia kemudian menoleh pada Wili." Wili kenalkan. Tuan Lionel Muller." Ujar Iren ia berusaha mencairkan suasana agar Lion dan Wili tidak saling terdiam. Beberapa menit yang lalu Iren  melihat jika mereka saling bertatapan. Entah apa yang dipikirkan ke duanya. Yang jelas Iren hanya tidak ingin ada ke salah pahaman di Antara mereka.


Wili bangkit dari kursinya dan langsung mengulurkan tangannya. Begitupun dengan Lion, ia ikut bangkit dan membalas uluran tangan Wili. Tak ada pembicaraan di antara keduanya. Mereka bertatapan cukup lama dan saling mengeratkan genggaman tangan keduanya, seolah mereka mempunyai Dendam pribadi.


Setelah melepaskan uluran tangan keduanya. Lion membuang wajahkan ke arah lain. Hatinya saat ini benar-benar panas, ia ingin menghajar Wili secara membabi buta. Tetapi urung ia lakukan, mengingat Iren ada disana. Entah mengapa saat Wili masuk ke dalam kamar perawatan Iren, lion teringat akan ucapan Rey yang mengatakan jika sudah ada pria yang mengisi hati Iren. Tentu saja Lion menebak jika Wililah yang ada di hati Iren. Lion menggertakkan giginya dan langsung bangkit dari kursinya. Ia tidak ingin emosinya memuncak dan dapat membuat Iren semakin membencinya.

__ADS_1


"Iren, aku keluar dulu, aku ingin melihat, Sean." Lion berucap dengan tersenyum dan langsung keluar dari kamar perawatan Iren tanpa menoleh pada Wili.


__ADS_2