
Setelah sampai di depan ruangan privasi yang dipesan Lion. Jeremy lalu memutar knop dan mendorong pintunya.
" Silahkan masuk, Tuan, nyonya," Jeremy menunduk lalu mempersilahkan keluarga gantari untuk masuk ke dalam ruang tersebut.
"Terima Kasih, Jeremy." Ucap Irene. Lagi-lagi ia berterima kasih pada asisten calon suaminya. Hal biasa yang Irene selalu lakukan jika menyuruh bawahannya di butik.
"Sama-sama nyonya," jawab Jeremy sambil menunduk hormat pada calon Nyonyanya.
Saat melihat keluarga gantari masuk kedalam ruangan. Lion dan Audrey seketika berdiri menyambut calon keluarganya. hanya Lion dan Audrey yang hadir karena kakek Gery sudah tua, ia sudah tidak bisa bepergian jauh. Sedangkan suami Audrey ia terlalu sibuk dan tidak bisa meninggalkan Italia.
"Terimakasih tuan karena bersedia datang menghadiri undangan kami."ucap Lion sopan. Menurutnya keluarga Irene adalah keluarnya juga.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, tuan. Karena anda bersedia meluangkan waktu anda untuk kami,"timpal tuan Mahesa.
__ADS_1
"Silahkan duduk tuan." Ucap Lionel mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Tak lama seorang waiter datang menghidangkan makanan pembuka diatas meja. Terlihat tuan Mahesa dan Lion berbincang-bincang dengan hangat sedangkan Irene, nyonya Sonia berbincang-bincang dengan Audrey.
Setelah menghabiskan makanan pembuka, beberapa waiter datang lagi membawakan makanan utama. Saat makanan utama di hidangkan seorang pria masuk kedalam ruang itu.
"Maaf aku telat," ucapnya saat masuk kedalam ruangan.
Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat orang lain selain keluarganya disana.
"Malam, silahkan duduk, Rey." Ucap Lion. Ini kali kedua mereka bertemu. Dulu Rey pernah bertemu dengan Lion saat berkunjung ke butik Irene saat itu, dan disitulah Rey menemukan kenyataan jika wanita yang dicintainya sudah memiliki seorang kekasih. dan setelah Rey mengetahui hal itu, ia selalu berusaha menekan perasaannya namun lagi-lagi ia kalah, cintanya sungguh besar pada sang adik.
Rey mengangguk lalu menarik kursi yang ada di samping tuan Mahesa. Ia tersenyum kecut mendapati acara ini bukan hanya ada keluarganya. Melainkan ada keluarga Lion disana. Tiba-tiba Rey dihinggapi perasaan tidak enak. Namun segera ia tepis perasaan itu. mungkin ini hanya acara makan malam biasa, Mana mungkin ada yang lain. Ya, ini hanya acara makan malam biasa, kau tidak usah khawatir rey. Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Mereka semua pun menikmati makan malamnya dengan khidmat. Setelah acara makan malam selesai barulah Lion menyampaikan maksudnya mengundang keluarga gantari malam ini.
"Tuan apakah tuan bersedia jika aku menikahi putri tuan?" Ucap Lion didepan tuan Mahesa. Lion memang tipe pria yang selalu the point jika menyampaikan sesuatu.
Sebelum tuan Mahesa menjawab, Rey sudah menjawab duluan.
"Tidak," ucapnya secara refleks.
Semua orang yang ada disana langsung mengernyitkan alisnya, mereka tampak heran dengan apa yang diucapkan Rey barusan.
Rey yang menyadari semua mata menatapnya dengan heran, seketika langsung tersenyum kecut. hatinya tidak rela jika sang adik dimiliki oleh orang lain.
"Maaf, maksudnya boleh," Rey meralat ucapannya barusan dengan perasaan berat, mau tidak mau ia harus meralatnya. ia tak ingin jika sang adik benci terhadapnya. toh mencintai tak harus memiliki.
__ADS_1
Mendengar ucapan Rey, Wajah semua orang yang ada disana tampak lega. Berbeda dengan Rey, tiba-tiba wajahnya menjadi sendu, hatinya hancur, jantungnya terasa ditikam seribu anak panah detik itu juga. Namun ia tak dapat berbuat banyak, pria yang di cintai sang adik bukanlah dirinya melainkan orang lain.