
"Lion! dengarkan aku! Semua ini bukan kesalahan dia, bahkan dia tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu, dia hanya korban." Audrey terus berusaha menasehati Lion.
"Tidak! Aku tidak akan memaafkan wanita itu, dia harus merasakan apa yang pernah kita Alami, hidup terlunta-lunta, mengais makanan dari tong sampah. Jadi ku harap kau tidak usah ikut campur dengan masalah ini." Lion bangkit dari kursinya." silahkan keluar jika kau hanya ingin membahas wanita itu. keputusanku sudah bulat, aku tidak akan pernah berdamai dengan orang-orang yang pernah ikut andil atas pembunuhan Daddy dan mommy." lion berucap tatapannya lurus ke arah pintu.
"Kau mengusir ku?"
"Tentu saja tidak. aku hanya tidak ingin kau membahas masalah wanita itu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan merubah keputusan ku!" Balas lion.
Audrey bangkit dari kursinya, ia kembali bernafas berat." Baik lah, kalau itu sudah menjadi keputusan mu, aku tidak bisa melarangmu. Tapi pikirkan baik-baik sebelum kau menyesali Semuanya suatu saat nanti. dan ingat! jika penyesalan itu datang, tak ada lagi kesempatan kedua untuk mu. Hal itu juga berlaku pada semua wanita, termasuk aku. Tidak ada kesempatan kedua untuk pria yang tidak pernah menghargai seorang wanita. Aku permisi "pungkas Audrey. Lalu berjalan keluar dari ruang kerja Lion, Tanpa menoleh lagi ke belakang.
Flashback on.
Beberapa hari yang lalu, Nyonya Sonia datang ke Italia untuk menemui Audrey. Tetapi Sebelum bertemu dengan Audrey, Nyonya Sonia sudah menelpon Audrey terlebih dahulu lalu mengajaknya bertemu.
Setelah mengatur jadwal, Audrey akhirnya menyetujui pertemuannya dengan nyonya Sonia. Dan disinilah mereka berdua di cafe Le vesve.
"Selamat siang, nyonya?" Sapa Audrey yang baru saja masuk ke dalam cafe lalu menarik kursi. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di depan Nyonya Sonia lalu tersenyum ke arah Nyonya Sonia.
"Siang Nona, terimakasih karena anda sudah bersedia datang kesini,"balas Nyonya Sonia.
Audrey mengangguk, ia tersenyum," sama-sama, Nyonya."
__ADS_1
Seorang waiter datang membawa dua cangkir coffe untuk mereka berdua. ya, tadi sebelum masuk mereka sudah memesan coffe terlebih dahulu.
"Silahkan diminum nona," ucap Nyonya Sonia, kemudian menyeruput kopi yang ada di depannya.
Audrey mengangguk, lalu meraih coffe yang ada di depannya kemudian meminumnya.
Nyonya Sonia kemudian menatap Audrey. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum ia menyampaikan tujuannya datang ke Italia secara langsung. walaupun ia tidak yakin Audrey akan menolongnya, tetapi ia akan mencobanya terlebih dahulu.
"Nona maafkan atas kelancangan saya, tapi bolehkah saya meminta tolong pada nona?" Ucap nyonya Sonia, bibirnya bergetar saat mengatakan itu.
"Tentu saja boleh Nyonya, apa itu?" Balas Audrey dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
Audrey mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti dengan maksud perkataan wanita di depannya.
"Maksud nyonya apa?' tanya Audrey yang tidak tahu arah pembicaraan nya kemana.
" Tolong anda bujuk Lion, agar ia mau melepaskam putri saya, tolong lepaskan dia, jangan kurung dia. jika ia tidak mencintai putri saya, tolong kembalikan dia pada kami,"lanjut nyonya sonia, ia menyeka air matanya yang mengalir deras di kedua pipinya.
Audrey masih terdiam, ia belum faham dengan maksud perkataan nyonya Sonia.
"Maaf, nyonya. Apa maksud anda berkata seperti itu, bukankah Iren dan juga lion saling mencintai, lantas kenapa anda mengatakan jika lion mengurung putri anda," Audrey menatap iris coklat yang juga menatapnya, seolah Audrey sedang meminta penjelasan kepada kepada nyonya sonia. Selama ini, ia belum tahu apa-apa, karena Lion menyembunyikan semua ini pada Audrey, menurut Lion, biarlah dia yang menyelesaikan semua masalah ini.
__ADS_1
"Lion dan Iren mempunyai masalah besar, Lion sangat marah, ia mengurung Iren di mansionnya. Setelah pernikahan mereka berlangsung, aku tidak pernah lagi tau bagaimana kondisi Iren sekarang. Lion menyembunyikan Iren dari kami semua." Nyonya Sonia berucap. Sebagai seorang ibu yang sudah menjaga serta merawat putrinya dengan sepenuh hati, tentu saja ia merasa hancur jika mengetahui putrinya dalam kondisi tidak baik-baik saja. Iren memang bukan darah daging Mahesa dan juga Sonia, Namun, cintanya tak perlu diragukan, ia sangat mencintai Putrinya.
Audrey diam, saat ini ia sedang mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh nyonya Sonia, ia tidak ingin percaya. Namun, nyatanya memang benar apa yang dikatakan nyonya Sonia.
Nyonya sonia kemudian meraih tangan Audrey yang tergeletak di atas meja,"saya mohon nona, bantu saya untuk membujuk Lion agar mau melepaskan Iren," nyonya somia memohon pada Audrey. Menggenggam tangan Audrey.
Seketika Audrey mengangguk."saya akan berusaha membujuk, Lion. Tapi saya tidak bisa berjanji akan berhasil," pungkas Audrey
"Terimakasih atas bantuannya, Nona," balas nyonya sonia.
Audrey mengangguk kemudian tersenyum.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Audrey pamit untuk pulang, karena ia akan menjemput kedua putrinya di sekolah. hal rutin yang selalu dilakukan Audrey pada kedua putrinya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih. 🙏
__ADS_1