
Setelah Lion mendonorkan darahnya, ia kembali ke ruang operasi dan langsung mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sana. sedangkan Sean, bocah kecil itu sedang ditidurkan di ruangan yang sudah disewa lion untuk tempat beristirahat putranya.
Tak lama, pintu ruangan operasi terbuka. Seorang dokter keluar." Bagaimana kondisi pasien, dok." Tanya Lion. Sesaat setelah ia berdiri.
Dokter itu menghela nafas berat." Operasinya berjalan lancar, Namun, saat ini, pasien masih dalam pengaruh obat bius. Jika lima jam kedepan pasien belum juga sadar, berarti….pasien dalam keadaan koma." Mendengar ucapan dokter itu, lion langsung mencengkram kerah kemeja dokter itu.
"Apa maksud mu?" Seru lion semakin mempererat cengkramannya. Dengan tatapan nyalang, ia menatap Dokter itu. Ia Seolah tidak terima dengan ucapan dokter berusan.
"Tenang, tuan." Seorang suster berusaha melepas cengkraman tangan Lion dari snelin putih yang dikenakan Dokter.
Dari arah belakang, muncul Rey yang baru saja keluar dari Toilet." Ada apa ini?" Tanya Lion.
Tak ada yang menjawab. Lion malah memutar tubuhnya, mengepalkan tangannya, hingga terlihat buku-buku tangannya memutih. Tak lama ia langsung menghantam kotak kaca yang menempel di dinding Rumah sakit. Darah mengalir keluar dari jari jemarinya.
__ADS_1
Melihat itu, Rey lalu memegang punggung Lion kemudian menahan tangan pria itu." Ada apa sebenarnya? Kau jangan bodoh." Rey berucap saat Lion akan memukul kotak kaca itu.
Lion tampak gusar, ia menarik tangannya yang saat ini dicekal oleh Rey dan mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu. Ia masih belum menjawab pertanyaan Rey. Pikirannya saat ini sedang kalut. Hatinya benar-benar hancur jika ia harus kehilangan Iren, ia belum meminta maaf pada wanita itu.
Melihat kondisi lion, Rey mendudukkan tubuhnya di samping musuh bebuyutannya itu. Tiba-tiba Rey mengadakan kepalanya ke atas menatap langit-langit rumah sakit." Jika Kau berpikir hanya kau yang merasa hancur, hanya kau yang merasa sedih, kau salah. aku juga merasakan hal yang sama dengan mu. Namun bedanya aku masih bisa mengontrol itu semua memendam semuanya dan berdoa agar Iren segara Sadar."
Lion menatap ke samping. Di mana Rey yang saat ini menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap langit-langit rumah sakit.
"Apa kau masih mencintainya?" Tiba-tiba lion melontarkan pertanyaan yang sudah tentu ia tahu jawabannya.
Lion ikut merebahkan kepalanya lalu kembali bersuara." Jika kau mencintainya, mengapa kau tak menikahinya saja."
Rey terdiam cukup lama." Dia tidak mencintaiku. ada pria lain yang sudah mengisi hatinya. Ia hanya menganggapku kakak dan sampai kapanpun status ku tidak akan berubah."
__ADS_1
Mendengar itu, lion langsung menegangkan duduknya dan langsung menatap Rey." Siapa pria itu? Cepat katakan padaku."
Rey kembali tersenyum dan langsung berdiri dari kursinya." Kau cari tahu sendiri, mengapa aku bersusah payah memberitahu mu." Ia menoleh sekilas pada lion dan langsung berjalan meninggalkan Lion yang masih terpaku di tempatnya.
"Cih." Lion berdecak
***
Malam semakin larut. Mobil-mobil di kota New York terlihat masih sibuk, terbukti dari banyaknya mobil melaju dari arah berlawanan. Pria dengan kemeja hitamnya dan lengan dilipat sebatas siku berdiri di depan jendela sambil menatap jalanan yang dipenuhi gemerlap lampu jalan. Sudah hampir lima jam pria itu menunggu. Namun tampilannya masih belum berubah. Hanya saja tangan kanannya terlihat di perban. Ia menatap kembali jam yang ada di pergelangan tangannya. Sisa 20 menit lagi, itu artinya 20 menit lagi pria itu akan tahu jika ibu dari putranya akan sadar atau tidak.
Lion berjalan ke arah brankar. Mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada disana. Perlahan tangannya menggenggam tangan iren. Seketika pikirannya mengembara. Ia Mengingat saat ia membuat Iren merintih kesakitan dan memohon untuk di lepaskan.
Tanpa sadar, Cairan bening keluar dari kedua sudut matanya, ia menangis tergugu sambil menunduk. Penyesalan yang saat ini ia rasakan adalah akibat karena dia terlalu mementingkan egonya dan mengabaikan cintanya.
__ADS_1
Ujung Jemari lentik itu mulai bergerak. membuat kesadaran pria tampan yang saat ini sedang menunduk mengangkat wajahnya. Sudut bibirnya terangkat, seutas senyum jelas terlihat di sana. Ia segera bangkit dari duduknya kemudian menghapus sisa jejak air mata yang masih menempel di wajahnya lalu menekan tombol emergency.