
Lion berjalan masuk ke dalam mansion, tubuhnya sangat lelah, hari ini ia baru saja menghadiri beberapa rapat penting dengan beberapa pemegang saham perusahaan.
Setelah sampai di ruangan kerjanya, ia langsung mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sana, ia menggerak-gerakkan lehernya, kemudian memegang tengkuknya karena Rasa pegal yang menderanya.
Ia kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di ruang kerjanya. Ia butuh menyegarkan tubuhnya dengan berendam sebentar.
Sesampainya di kamar mandi, ia lalu mengisi bathtub kemudian menuangkan beberapa aroma terapi. Ia membuka pakaiannya dan langsung turun ke bathtub.
Setelah tubuhnya merasa rileks, Lion menyandarkan kepalanya ke belakang sambil memejamkan mata, menikmati sapuan air yang ada di bathtub.
Hampir 45 menit berendam , Lion seketika Membuka matanya, ada perasaan tidak nyaman yang ia rasakan saat membuka matanya. dia tertidur dan sempat bermimpi, di mimpinya ia melihat jelas bagaimana ibunya bersimbah darah dengan meminta tolong padanya. rahangnya sekatika mengeras, ia bangkit dari bathtub, Membilas tubuhnya dan langsung memakai jubah mandi. Ia berjalan keluar kamar mandi lalu mengambil sebotol Vodka yang ada di kulkas. Ia menyesapnya vodka itu sambil duduk di atas meja kerjanya. Pikirannya kembali menerawang jauh di mana ia hidup sebatang kara bersama dengan Audrey.
Tiba-tiba ia tersenyum devil. Lion Keluar dari ruang kerjanya, lalu berjalan menuju kamar utama. Sesampainya di kamar utama, tanpa mengetuk ia lalu membuka pintu kamar itu.
Lion kembali tersenyum devil saat melihat Iren yang sedang tertidur di ranjang. Ia lalu mendekat dan menarik tangan Iren. Iren yang awalnya sedang tidur langsung terperanjat kaget karena seseorang telah menarik paksa tangannya.
"Hey, bangun ," ujar Lion setelah menarik paksa tangan Iren.
Saat kesadarannya sudah terkumpul semua, ia melihat Lion yang sudah berdiri di depannya dengan tatapan jahat seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Iren perlahan mundur, menarik selimut yang tepat berada di kakinya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Iren, tubuhnya bergetar hebat saat menatap Lion.
"Aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya ingin bermain-main denganmu sebentar," ucapnya dengan menyungingkan senyum menghina. Ia Lalu membuka jubah mandinya hingga Lion tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Ia berjalan mendekat, naik ke ranjang. kemudian menarik selimut yang menjadi alat pertahanan Iren. Iren mencengkram selimut itu, tetapi tenaganya kalah kuat, hingga selimut itu sudah berpindah ke lantai.
__ADS_1
"Kau jangan mendekat, aku tidak ingin disentuh oleh pria jahat seperti mu!" Hina Iren. Iret terlihat ketakutan dengan menyeret tubuhnya mundur, ingin rasanya ia berlari menjauh dari pria ini, tetapi ia tak tahu caranya, pintu kamar ini terkunci, sorot mata Iren dipenuhi teror seolah Lion adalah pria yang paling jahat.
Bukannya Mundur, Lion malah semakin mendekat, memperlihatkan senyum devil yang sangat menjijikkan.
"Ku bilang, jangan mendekat, aku tidak sudi disentuh pria jahat sepertimu." Iren kembali berucap, air mata kembali luruh, tubuhnya bergetar hebat, ia merasa dadanya sesak seolah pasokan oksigen di tubuhnya menipis.
Lion maju. Mencengkram kuat rahang Iren menggunakan kedua jarinya.
"Kau tidak usah memberontak, tubuhmu ini milikku!" Lion berucap tepat di depan wajah Iren, membuat hembusan nafasnya sangat terasa begitu jelas. Iren lantas memejamkan mata merasakan deru nafas suaminya, deru nafas yang dulu selalu membuatnya rindu.
Tak lama Iren tersadar, Iren langsung mendorong tubuh Lion," jangan sentuh aku!" Iren berucap. menatap Lion dengan sorot mata ketakutan. ia menekuk kedua kakinya lalu memeluknya dengan kedua tangannya.
Lion tertawa mendengar penolakan dari Iren.
"lepaskan aku bajingan,"Iren memberontak, tangannya memukul-mukul, mencakar tubuh Lion yang saat ini berusaha merengkuh Tubuhnya.
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Iren. Pipinya memerah, meninggalkan bekas lebam di area yang terkena tamparan.
Air matanya semakin mengalir deras, entah apa yang harus diperbuat, ia lelah, benar-benar sangat lelah. Sejak kecil ia di kucuri banyak cinta dari orang-orang terdekatnya bahkan orang tuanya tak pernah melakukan kekerasan padanya. lantas sekarang ia mendapatkan kekerasan dari pria yang berstatus sebagai suaminya.
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Iren. Air matanya semakin luruh. Lion menarik paksa kain yang menutupi tubuh Iren secara brutal.
Hembusan angin malam serta pencahayaan dari rembulan yang masuk tanpa permisi di sela-sela jendela menjadi saksi bisu betapa kejam perlakuan Lion terhadap wanita yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Iren merintih semakin merintih saat Lion semakin mempercepat gerakannya. Iren hanya dapat merintih, kedua tangannya di ikat paksa oleh Lion. Tak lama Lion mengeram dengan suara hampir memenuhi seluruh isi ruangan.
__ADS_1
Setelah puas, Lion membuang tubuhnya tepat di samping Iren, menetralkan nafas yang saat ini naik turun akibat penyatuan barusan. Lion tersenyum puas melihat tubuh Iren di penuhi luka lebam.
Air mata kepedihan semakin luruh di kedua pipinya, bukan kenikmatan yang Iren rasakan saat mereka melakukan penyatuan, ia merasa di rendahkan oleh pria yang berstatus suaminya itu.
***
"Apa semuanya sudah siap?"tanya Rey yang baru saja masuk ke dalam gudang kosong.
"Sudah tuan,"jawab orang itu lalu membawa Rey masuk kedalam ruangan. di dalam ruangan sudah ada beberapa bodyguard yang merubah penampilan mereka dengan berpakaian yang menyerupai pakaian yang di pakai para pengawal Lion.
"Bagus," puji Rey saat melihat hasil kerja orang suruhannya.
" Terimakasih tuan," balas orang itu..
.
.
.
. Jangan lupa Tinggalkan jejak.😘😘😘😘
__ADS_1