
Bagaimana dok." Tanya Rey yang bangkit dari duduknya saat melihat seorang dokter keluar dari ruangan pemeriksaan.
Dokter itu menggeleng." Nyonya Iren terkena tekanan mental yang parah, mungkin akan sangat sulit sekali untuk di sembuhkan. Kecuali dia sendiri yang ingin menyembuhkan dirinya. karena ini termasuk penyakit yang serius, penyakit ini menyangkut dengan alam bawa sadarnya, alam bawa sadarnya menolak untuk sadar." Ucap dokter itu. Ia lalu menepuk pundak Rey." Tuan tidak usah khawatir, kami akan berusaha menyembuhkan nona Iren, setelah ini, akan ada seorang psikiater yang datang. Saya harap tuan harus selalu berada di sisinya. Bantu dia untuk keluar dari masalah ini," sambung dokter itu, lalu meninggalkan Rey yang masih berdiri di depan ruang perawatan Iren sambil memandang dari luar jendela kamar. Rey kembali menangis tergugu denganย menyandarkan kepalanya di dinding dengan tangannya yang menjadi penyangga saat melihat kondisi Iren yang sangat memprihatikan. Berbeda saat terakhir kali mereka bertemu. Tubuh yang indah, wajah yang cantik serta lesung pipi di salah satu pipinya, semua itu seolah sirna. Hari ini, ia hanya melihat wajah yang pucat tanpa polesan makeup serta tubuh yang sangat kurus.
Setelah puas menangis, Rey mengusap wajahnya dan melangkah Memasuki ruang perawatan Iren.
Sesampainya ia di sisi brankar, Rey menarik kursi dan duduk tepat di samping brankar. Ia mengenggam tangan Iren dan mengusap punggung tangan Iren. Hatinya kembali berdenyut nyeri saat melihat tangan Iren yang sangat kurus. Tangisnya kembali luruh tanpa bisa Rey tahan. Rey bangkit dari kursinya, ia menyusuri setiap inci wajah sang adik. "Apa yang terjadi dengan mu, kenapa kau bisa menjadi seperti ini." Rey kembali menagis dengan tubuh yang terguncang sangat keras, ia kemudian membekap mulutnya agar tangisnya tak terdengar. Ia menangis dengan kepala yang ia sandarkan di besi brankar." Ren maaf kan aku, karena aku tidak bisa melindungimu di masa-masa sulitmu." Lirih Rey, tangisnya kembali pecah tanpa bisa ia tahan.
Dibalik pintu Tom dan juga Sera dapat melihat pemandangan yang menyayat hati mereka. Tadi tom juga sempat kaget saat melihat kondisi Iren yang sangat memprihatikan. Berbeda saat mereka terakhir kali bertemu. Gadis yang cantik, yang menjadi puja banyak lelaki berubah drastis hanya dalam hitungan bulan. Entah apa yang dilakukan lion padanya sampai Iren bisa berubah menjadi seperti ini.
__ADS_1
"Apa kau juga dekat dengan Iren?" Tanya Sera, ia menoleh ke arah tom.
"Aku tidak begitu dekat dengannya, kami hanya bertemu jika Iren datang ke perusahaan untuk menemui Rey. Lagi pula dia begitu sibuk di butiknya, mungkin jika dia ada waktu, di baru akan berkunjung ke perusahaan."sambung Tom.
"Bukankah dia seorang desainer yang baru-baru ini sedang naik daun?" Tanya Sera lagi.
Tom mengangguk." Ya, dia adalah desainer, pemenang lomba fashion week di Paris kemarin." Jawab Tom. Ia lalu mengajak Sera untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang perawatan.
Tadi, Saat mereka sampai di rumah sakit, Rey menyuruh Sera untuk mengantar Tom untuk memeriksa lukanya, sedang ia ke ruang IGD untuk membawa Iren. tadi setelah mereka sampai di rumah sakit, Iren sempat mengalami kejang, itu sebabnya Rey langsung melarikannya ke IGD, berbeda dengan Tom ia harus melewati proses penjahitan karena luka bekas peluruh yang bersarang di tangannya.
__ADS_1
.
.
.
Terimakasih karena sudah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak walaupun hanya komen. semoga kalian semua diberi kesehatan.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.๐๐