
Ayo, nyonya, saya antar ke kamar anda,"ucap Maria. Saat ini Irene masih terus terisak dengan posisi masih bersimpuh di lantai.
Irene mengeleng."aku akan pergi dari tempat ini, aku rasa, aku sudah tidak di butuhkan di sini."balas Iren. Hatinya benar-benar remuk, jantungnya seolah berhenti berputar saat mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut lion. perlahan ia Mulai menyeka air matanya, memejamkan mata lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah ia dapat menguasai dirinya, ia bangkit dan berjalan ke arah tangga.
"Nyonya, ku mohon, berhenti nyonya. Jangan buat tuan marah," teriak Maria, ia berusaha mencegah Iren agar tidak keluar dari mansion. Namun Irene tidak memperdulikan panggilan Maria. Menurutnya keluar dari mansion ini adalah keputusan paling baik, dari pada ia harus melihat tatapan benci dari pria yang paling ia cintai.
Maria yang melihat Irene tetap kekeh untuk pergi, ia lalu berbalik dan berlari ke arah ruang kerja Lion. Menurutnya hanya Lion yang bisa menghentikan Iren untuk keluar dari mansion ini.
"Tuan,"panggil Maria, ia mengetuk agak cukup keras agar Lion mendengarnya
Pintu seketika terbuka.
"Ada apa?"tanya Lion dengan membentak. Wajahnya sudah terlihat memerah, entah sudah berapa banyak Vodka yang sudah ia minum.
"Nyo.nya Irene tu...an,"Maria gelagapan sambil menunjuk ke arah tangga.
"Ada apa dengan wanita itu?"
"Nyonya Irene akan pergi dari mansion tu..an,"pungkas Maria. Saat ini Maria sudah terlihat sangat panik. Pasalnya tadi Lion menyuruhnya agar mengantar Irene masuk ke dalam kamar.
"Apa!" Teriak Lion dengan menatap tajam ke arah Maria.
"Nyo..nya Iren, tuan," Maria menunjuk ke arah tangga.
__ADS_1
Lion lalu berjalan Menuju tangga. Kobaran kemarahan semakin terlihat di matanya, saat melihat irene sudah berada di pintu utama.
"Jangan biarkan wanita itu keluar," suara Barito Lion terdengar hingga memenuhi mansion. Semua orang yang ada di sana seketika berbalik ke arah sumber suara.
"Jangan biarkan wanita itu keluar," lanjut lion, ia kemudian berjalan menuruni tangga lalu mendekat ke arah iren
Plak, Irene tersungkur ke lantai saat Satu tamparan mendarat di pipinya. Tangisnya kembali luruh, ia memegangi pipinya yang tampak sedikit robek.
"Jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini." Lion menatap Irene dengan tatapan benci.
Irene membalas tatapan tajam Lion, ia kemudian berdiri menatap netra yang dulu selalu menatapnya dengan penuh cinta,"untuk apa aku di sini jika aku sudah tidak dibutuhkan,"
"Siapa yang tidak membutuhkan mu," Lion mencekram tangan Iren dengan sangat kuat." Kau akan jadi mainan ku," pungkas Lion. Ia tersenyum devil setelah mengucapkan itu. Di Matanya sudah tidak ada tatapan hangat maupun cinta, di sana hanya ada dendam dan dendam.
Ia menarik paksa tangan Iren menaiki tangga, sesekali Iren tampak terlihat meringis saat kakinya tersandung anak tangga. Langkahnya tidak selebar langkah Lion, itu sebabnya saat ia menaiki tangga kakinya sering kali terbetur oleh ujung anak tangga.
"Lion lepas, sakit," Irene berucap, ia memegangi tangan Lion yang saat ini sedang meremas kuat rambutnya.
Melihat Iren merintih, Lion lalu tersenyum puas.
"Apa kau mau aku melepaskan mu?"
Secepat kilat Iren mengangguk.
__ADS_1
"Tapi sayang, tidak semudah itu, ada tumbalnya," Lion berucap dengan senyum mengejek."kau mau tau apa tumbalnya.
Irene mengangguk pasti.
"Aku akan membuat perusahaan orang tua angkat mu hancur, lalu membuat mereka, orang yang kau sayangi terlunta-lunta di jalan seperti apa yang pernah aku rasa Kan saat itu.
Secepat kilat Iren mengeleng." Ku mohon jangan lakukan itu, " ucap Irene, saat ini tangannya ia satunya di depan wajah kemudian bersujud memohon agar Lion tidak membuat perusahaan tuan Mahesa hancur, masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan tuan Mahesa.
"bagus, makanya kau harus menurut,"
Lion lalu menyesap wine yang ada di tangannya menangkup kedua pipi Irene mengunakan kedua jarinya lalu memaksa Irene meminum wine yang saat ini ia pegang.
"minum, bodoh!"Lion berucap saat irene tersendat minuman itu.
"ku mohon hentikan, rasanya pahit," Irene kembali memohon. namun lagi-lagi Lion tidak peduli, saat ini, ia merasa sangat puas atas apa yang ia lakukan .
setelah botol wine yang ada di tangannya habis, ia lalu membuka seluruh kain yang melekat di tubuhnya, kemudian ia menarik paksa kain yang saat ini menutupi tubuh Iren.
Lion lalu menarik rambut Iren agak keras hingga Irene merintih kesakitan. ia lalu mengarahkan miliknya pada Mulut Iren, sesekali ia menarik paksa rambut Iren agar Iren semakin memperdalam permainannya. Namun sesekali Irene tersendat ketika lahar panas itu tertumpah di dalam mulut Irene..
.
.
__ADS_1
.
Like, komen, vote, berhadiah. Trimakasih.🙏🙏🙏