
BALI
Semilir angin berhembus, mengerakkan ranting pepohonan yang tumbuh di sebuah rumah sederhana berlantai dua. Sesekali terdengar alunan lagu-lagu kidung dewa dari pura tempat sembahyang penduduk mayoritas lokal di sana.
Siang ini cuaca Bali tampak mendung, sebuah mobil sport berjenis Lamborghini Veneno berhenti tepat di sebuah rumah sederhana yang tampak asri.
Pria dengan stelan jas hitam dengan kacamata yang bertengger di hidungnya turun dari mobil dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya.
Dari dalam rumah, seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki keluar dari dalam rumah berlari sambil merentangkan tangannya. Meminta untuk digendong.
"Daddy." Ucap bocak kecil berjenis kelamin laki-laki berusia sekitar empat tahun itu.
"Jagoan Daddy," pungkas pria itu, meraih tubuh mungil bocah empat tahu itu, kemudian menggendongnya masuk kedalam rumah.
"Mommy mana?" Tanya pria itu saat ia akan duduk disofa.
"Bucik," jawab bocah itu asal, ia sedang fokus melihat paper bag yang di bawah oleh Daddynya.
Pria itu mengangguk-angukkan kepalanya, lalu menyerahkan paper bag yang di bawanya ." Ini untuk Sean."Ucap Rey pada keponakannya..
Bocah itu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya, kemudian meraih paper bag yang dibawah oleh sang Daddy.
"Maaci Daddy." Ia membuka paper bag itu dan langsung melihat isinya.
"Wow," ucap bocah itu sambil membulatkan matanya saat melihat isi paper bag itu yang ternyata sebuah drone.
"Kau suka?" Tanya Rey.
"Cuka Daddy." Sean meraba-raba Drona itu lalu kembali tersenyum ke arah Daddynya.
"Apa kau mau menerbangkan ini bersama Daddy?" Tanya Rey lagi.
Lagi-lagi Sean mengangguk."aku akan menerbangkan dlon ini bercama daddy."lanjut Sean.
__ADS_1
Rey yang melihat kepolosan Sean, lalu mengusap-usap kepala bocah itu dan tersenyum.
Sudah tiga tahun ini Rey bolak balik Singapura dan Bali hanya untuk menjenguk adik dan keponakannya. Tiga tahun lalu setelah Iren di nyatakan sembuh, ia memulai karirnya kembali dan memilih pindah ke Bali. Ia ingin menghapus semua masa lalunya dan memulai kehidupan barunya. Sedangkan butiknya yang di Singapura sudah terjual untuk biaya pengobatan Iren. karena perusahaan Mahesa sempat mengalami kolaps dan ia memulai kembali usahanya atas bantuan teman Rey yang juga seorang pengusaha bernama William.
Flashback.
Lima tahun lalu setelah Iren terbebas dari lion dan kembali ke Singapura, Iren dinyatakan hamil oleh dokter OBGYN yang menanganinya dengan usia kandungan memasuki tiga bulan. Ternyata pada saat Lion terakhir kali menyentuh Iren, Iren dalam kondisi subur, itu sebabnya Iren dinyatakan hamil. dan Maria, Kepala pelayan itu. sebenarnya, Ia sudah mengetahui ini dari awal. namun ia memilih diam, mengingat perlakuan Lion yang tidak mau tahu tentang kondisi Iren.
Dan setelah semua keluarga iren mengetahui kehamilannya, semua keluarganya selalu ada untuk mendukung dan memberinya support di masa kehamilannya. Walaupun dalam kondisi itu, perusahaan Mahesa dinyatakan kolaps dan mahesa tidak memiliki apa-apa lagi, tetapi Mahesa dan Rey terus berusaha mencari tambahan dana untuk pengobatan Iren. Bahkan mansion mewah satu-satunya pun ikut terjual. Beruntung setelah Iren sembuh. Rey kembali bangkit dengan memulai usahanya. ia bertemu dengan Wiliam teman semasa kuliahnya, Wiliam seorang CEO di Perusahaan WL group. Ia membantu Rey menata kembali usahanya yang hancur akibat perbuatan Lion, adik iparnya.
Walaupun demikian. Keluarga iren sudah tidak mempermasalahkan itu semua, ia memilih melupakan semuanya dan tidak menaruh dendam lagi pada lion. Toh yang terpenting sekarang ialah, Iren sudah kembali ke sisi mereka. Sedangkan Sean Zai Muller, buah cinta Lion dan Iren masih disembunyikan identitasnya. Iren maupun Lion, selama ini mereka tidak pernah lagi bertemu ataupun tahu akan kabar Masing-masing. Cinta mereka kandas, seolah lenyap termakan waktu.
Dan bocah kecil itu, yang sering di sapa dengan sebutan Sean, ia hanya tahu jika Rey adalah daddynya. Ia sama sekali tak tahu siapa daddy yang sebenarnya.
Flashback off.
"Nona," panggil Sera yang saat ini masuk membawa gaun pesanan customernya.
Namun tampaknya Iren tak mendengar panggilan Sera, ia hanya fokus dengan sebuah foto di tangannya.
"Ah, iya, ada apa kau keruanganku.." Ucap Iren saat ia sadar dari lamunannya.
"Ini Nona, pesanan costumer, ia meminta kita untuk mengirimkan gaunnya hari ini. Ia tidak sempat datang karena ia ada urusan mendadak." Balas Sera.
" Yah sudah, kau urus pengirimannya hari ini."titah Iren.
" Tapi nona?" Ucap Sera.
"Ada apa lagi, Sera?"tanya Iren.
"Maaf Nona, tapi hari ini pak Santoso sedang cuti. jadi kita tidak mempunyai kurir yang akan mengantar," ujar Sera. Ia menatap Iren menunggu jawaban selanjutnya.
"Yah sudah tidak apa-apa, kau packing barangnya sekarang, sejam lagi, aku yang akan mengantarnya
__ADS_1
sekalian aku akan mampir ke rumah untuk melihat Sean."pungkas Iren.
Sera mengangguk dan keluar dari ruangan Iren.
***
Setelah membelah jalan yang begitu padat, akhirnya minicover yang di kendarai Iren parkir sempurna di sebuah villa mewah yang terletak tidak jauh dari pantai Kuta.
Ia merentangkan kedua tangannya, sambil menguap. Lalu melirik ke arah bangunan mewah di depannya, kemudian keluar dari minicovernya sambil membawa sebuah box yang berisi gaun yang akan di kenakan di acara pertunangan oleh pemilik salah satu resort mewah di bali.
Sesampainya di depan villa. Ia bertemu dengan seorang security. Lantas ingin menitipkan box itu pada seorang security. Tetapi security itu menolak dan mengarahkan Iren untuk membawa langsung box itu masuk dan bertemu pada atasannya.
Iren menghela nafas panjang, dan melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, ia sudah telat dan mungkin saja ia tidak sempat pulang untuk melihat Sean, karena di butik masih banyak pesanan costumer yang belum ia selesaikan.
Iren lalu melangkah masuk ke dalam Villa mencari pemilik gaun yang ia bawah. Namun seorang wanita paru baya menghampirinya.
"Cari siapa nona?" Tanya wanita itu.
"Saya ingin mertemu dengan nona Stefani." Balas iren
"Maaf. Nona Stefani sedang keluar bersama dengan tunangannya." Balas wanita itu.
Iren tersenyum." Tapi bolehkan aku menitikkan gaun ini untuknya ?" Tanya Iren.
"Silahkan Nona, tidak masalah," ujar wanita itu.
"Kalau ada masalah dengan gaunnya, kau boleh menghubungiku." Ujar Iren dan langsung pamit pada wanita itu.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir, semoga kalian semua di beri kesehatan. jangan Lupa tinggalkan jejak. like, Komen.