CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA

CINTA & DENDAM SEORANG BOS MAFIA
BAB 42. MATI RASA


__ADS_3

"Apa semua berkasnya sudah siap?" Tanya Lion.


Jeremy mengangguk." Sudah, tuan."


"Bagus. Kau siapkan surat pengajuan kontrak kerjasama dengan perusahaannya, aku akan terbang ke Kanada nanti malam, Pastikan semuanya sudah selesai sebelum aku berangkat." 


"Baik, tuan." balas jeremy yang saat ini berada di kursinya sambil memeriksa beberapa berkas yang akan di bawa Lion ke kanada.


Lion melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah beberapa Minggu, ia belum menemui Iren. Ia tersenyum, ada rasa rindu yang terselip di hatinya saat tak bermain-main dengan wanita itu.


Akhirnya ia memutuskan pulang, ia ingin bermain-main dengan Iren sebelum ia berangkat ke kanada.


***


Lion masuk ke dalam mansionnya setelah Jeremy memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan," ucap Maria saat menuruni anak tangga.


Lion tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar utama.


Setelah Lion sampai di kamar utama, ia masuk kedalam kamar. Matanya langsung melihat ke arah jendela. Hal yang selalu dilakukan Iren setiap harinya. Yaitu, memandang keluar jendela. Sudah lama sekali ia terkunci di bangunan mewah ini. Bukan bangunan mewah, lebih tepatnya penjara mewah suaminya.


Setiap hari ia memandang keluar, berharap ia bisa terbebas dan menikmati hidupnya kembali seperti semula. Namun, menurutnya hal itu mustahil, Lion tak akan pernah melepaskannya. Bahkan cinta yang mereka bangun dia hancurkan dengan sekejap mata.


Lion melangkah mendekat ke arah Iren, lalu memegang pundaknya. Seketika Iren refleks, ia berbalik dan melihat Lion yang saat ini berdiri di depannya, Iren beringsut mundur tanpa mengucapkan sepatah kata pun seperti biasa. biasanya ia sering membentak pria di depannya. Namun, hari ini ia diam sambil menatap Lion dengan tatapan kosong.


Lion mengerutkan keningnya saat Iren tidak memberontak.


"Apa yang kau lakukan!" Bentak Lion. Ia memejamkan matanya saat merasakan kenikmatan yang baru saja di berikan oleh Iren.


Namun Iren tak mengindai panggilannya, ia masih diam dan tak merespon ucapan Lion, dan masih melanjutkan apa yang ia kerjakan di bawah sana.

__ADS_1


"Aku bertanya? apa yang kau lakukan?!" Bentak Lion.


Namun lagi-lagi Iren tak merespon. 


Membuat Lion geram. Ia menatap tajam ke arah iren dan langsung mengcengram kedua pundak iren dengan cukup keras.


Walaupun rasanya begitu sakit, Iren tidak meringis. Karena menurutnya. jika ia meringis, hal itu yang akan membuat Lion senang. Jadi ia berusaha menahan sakitnya ketimbang harus memperlihatkan kesaktiannya pada lion.


Dan benar saja, Lion merasa geram saat Iren tak memberontak. padahal jika Iren memberontak ataupun meringis kesakitan, hal itu yang akan membuatnya puas. Namun, berbeda dengan hari ini, iren sepertinya lelah untuk terus memberontak dan akhirnya ia pasrah dengan semua yang ia alami. Ia hanya berharap suatu saat nanti ia bisa terbebas dari tempat ini.


melihat Iren yang masih tak merespon, ia berjalan mengambil cambuk yang ada di dinding, kemudian kembali mencambuk tumbuh Iren. Namun Iren masih terus tidak merespon ataupun menangis. saat ini ia seperti cangkang kosong, yang sudah mati Rasa.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak.🙏


__ADS_2