
Iren berdiri tepat di depan Lionel dan Sean yang saat ini sedang berpelukan. Lion menengadahkan kepalanya setelah suara decitan peluru yang baru saja terdengar memekik di telinganya.
"Mommy." Panggil Sean melepaskan diri dari pelukan lion dan menghampiri Iren.
Iren hanya mampu tersenyum, dan sepersekian detik kemudian, Iren tersungkur jatuh ke bawah.
"Iren." Teriak Lion dan Rey secara bersamaan.
Kedua orang itu terlihat bangkit dan menghampiri Iren secara bersamaan. Namun Lion lebih dulu menghampiri Iren karena posisi mereka yang sangat dekat.
"Iren, bangun." Lion menepuk-nepuk pipi Iren, agar kesadaran wanita itu tetap terjaga. Lion merabah punggung Iren yang terus mengeluarkan darah. Ia kemudian bangkit hendak menggendong iren masuk ke dalam mobil, namun di halangi oleh Rey.
"Cukup Rey! ini bukan waktunya kita berdebat." Lion membawa Iren masuk ke dalam kabin penumpang, diikuti oleh supir pribadi Lion.
__ADS_1
" Aunty." Panggil Sean di tengah tangisannya. Saat ini, Sera dan juga Rey melajukan mobilnya mengikuti mobil lion Menuju ke rumah sakit.
"Tidak apa-apa, sayang." Sera terus menepuk punggung Bocah empat tahun itu. Sean belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mommynya, karena Lion lebih dulu mendekap bocah itu.
Waktu terasa begitu lambat berputar, rasa cemas begitu mendominasi di wajah Tampan dengan rahan yang sedikit mengeras, tatapannya telihat sendu menatap wanita yang saat ini di deakapnya erat." Iren bertahan, kau pasti kuat." Lion berucap setelah melihat kesadaran Iren semakin menghilang.
Darah mengelir terus dari punggung Iren, Entah apa yang harus ia perbuat saat ini. Ia bukan tenaga medis yang harus bertindak semaunya. Jika Iren adalah seorang pria, sudah ia pastikan akan mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Tetapi, Iren adalah seorang wanita. Untuk pria seperti Lion saja merasakan sakit yang luar biasa saat mengeluarkan peluru di punggungnya, apalagi Iren yang seorang wanita.
***
Lion keluar dari mobilnya tanpa menunggu tenaga medis membawa brankar untuknya. Ia berlari masuk ke dalam ruang UGD dengan menggendong tubuh Iren yang saat ini mulai memucat akibat terlalu banyak darah yang keluar.
Setelah Lion meletakkan tubuh Iren di Brankar, seorang perawat menyuruhnya keluar. Namun nampaknya pria itu begitu keras kepala, ia menatap tajam ke arah semua tenaga medis yang ada di dalam ruangan dokter." aku tetap akan di sini! Akan ku pastikan jika kalian menanganinya dengan baik. Jika terjadi sesuatu dengannya akan ku hancurkan rumah sakit ini!" Ujar lion. Ia menatap tajam pada semua orang yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Melihat tatapan tajam Lion, tentu saja semua tenaga medis yang ada di sana langsung menciut. dokter itu begitu sangat mengenal lion, siapa yang tidak mengenal Lionel Muller seorang pengusaha sukses. Dokter itu juga sudah beberapa kali menangani lion saat Lion terkena peluru.
Setelah tim Dokter memeriksa kondisi Iren dan memastikan seberapa dalam peluru yang menancap di punggung iren, dokter memutuskan akan melakukan tindakan operasi.
"Bagaimana, dok." Tanya Lion yang Berdiri tidak jauh dari brankar Iren. Pria bersneli putih itu menghela nafas berat." Pasien harus segera dioperasi, tuan. namun…." Dokter itu terdiam, agak ragu menyampaikan kemungkinan terburuknya." Pasien banyak kehilangan darah…. kemungkinan besar untuk selamat hanya 50 persen."
Seketika rahang Lion mengeras saat mendengar ucapan dokter itu. Ia menarik kerah kemeja yang dikenakan dokter itu." Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus selamat." Ujar lion tepat di depan wajah dokter itu.
Dokter itu mengangguk." Ba..ik...tuan. kami akan berusaha semampu kami." Dokter itu terlihat gugup saat mengucapkan itu.
"Cepat lakukan yang terbaik untuknya!" Semua tim medis segera mengangguk dan mempersiapkan semuanya peralatan yang mereka butuhkan sebelum mendorong brankar Iren menuju ke ruang operasi.
__ADS_1