
"Pak. Bapak gapapa kan ?" tanya Fitra yang khawatir dengan keadaan Aileen sekarang setelah pulang dati perusahaan Sahid.
"Ga tau lah Fit. Kayanya saya mau batalin kerjasama itu. Saya ga perduli jika harus menanggung kerugian sebesar itu. Dati pada saya harus berurusan sama gadis itu !" Sahut Aileen sambil terus fokus menyetir.
"Hmm.. Pak, apa gadis itu ga tau kalo bapak udah menikah ?" Tanya Fitra yang penasaran.
"Bahkan setiap saya posting foto istri saya, dia selalu ikut komentar Fit. Tapi entahlah dimana fikiran gadis itu ?" Fitra yang mendengarkan hanya manggut manggut.
"Yang jelas saya udah ga mau lagi berurusan sama dia. Saya harap kamu bisa urus berkas pembatalan ini. Masalah kerugian saya yang tanggung, dan dengan secepatnya saya akan cari investor lain untuk menggantikan perusahaan Sahid !"
"Apa nona tau dan kenal sama gadis ini pak ?"
"Ya, istri saya tau bahkan lebih dari tau. Bisa dibilang mereka kaya musuhan gitu. Cuma sayangnya gadis tadi ga tau siapa yang jadi istri saya. Kalo dia tau ada dua kemungkinan yang terjadi !" Jelas Aileen.
"Apa tuh pak ?" Tanya Fitra lagi yang semakin penasaran.
"Pertama. Gadis itu ga akan gangguin saya karena dia tau siapa istri saya yang sebenarnya. Yang kedua, bisa aja gadis itu semakin mengganggu kehidupan istri saya ga hanya dikampus Fit. Dan kamu, kamu pasti bisa menilai sendiri gimana dia tadi !"
"Bapak benar. Kemungkinan pertama kayanya mustahil buat gadis kaya gitu. Kecuali kita tukar posisi gadis itu yang jadi istri bapak, dan nona yang jadi gadis itu. Saya rasa sekarang bapak bisa tenang tanpa harus stress kaya gini !" Sahut Fitra terkekeh dengan ucapan terakhirnya.
"jadi kamu kira saya ini stress Fit ?" Tanya Aileen yang menatap sinis pada Fitra.
"Bukan saya loh, tapi bapak yang menegaskan ucapan saya !" Fitra semakin terkekeh dengan ucapannya.
Aileen hanya tersenyum mendengar tawa Fitra yang baginya bis mencairkan suasana disaat seperti ini.
Namanya Fitra Hanindya. Wanita berusia 24 tahun ini sudah lama bekerja di perusahaan Gavrien, yang sebelumnya menjadi sekretaris tuan Gavrien papa Aileen. Ia memang seorang yang gampang berbaur dengan siapapun, bahkan dengan atasannya sekalipun ia selalu bersikap barbar seperti ini. Tidak ada kecanggungan dalam dirinya, bahkan dengan Aileen atau tuan Gavrien sekalipun ia akan tetap seperti ini.
"Untungnya kamu yang dipilih papa sebagai sekretaris ya Fit. Lumayan kan ada hiburan !" Ledek Aileen.
"Gak gitu juga kali pak !" Kesal Fitra.
"Oh iya suami kamu sekarang kerja apa Fit ?" Tanya Aileen menyelidik.
"Masih sama pak, seorang bartender disebuah club." Sahutnya enteng.
__ADS_1
"Apa ga suruh pindah aja kerjanya Fit ? Biar nanti saya cariin kerjaan yang sama deh tapi jangan di club gitu !" Tawar Aileen.
"Ya pengennya sih gitu pak. Cuma udah titip lamaran disana sini belum ada yang kasih jawaban !"Fitra menyahuti.
"hmm.. semoga aja suatu saat suami kamu dapet kerjaan yang lain ya Fit !"
"Aamiin pak.. yaudah ya pak saya duluan, bapak hati hati jangan terlalu difikirin ! Titip salam buat nona ya pak." cerocos Fitra.
"iya nanti saya sampein. Kalo ada apa apa langsung hubungi saya ya Fit !"
"oke bos !" Sahut Fitra sambil menundukkan kepalanya.
Tak lama mobil Aileen melaju meninggalkan halaman kantor, Fitra langsung masuk ke dalam dan kembali dengan pekerjaannya.
Aileen memarkirkan mobilnya disisi jalan yang tak terlalu jauh dari belakang kampus, ia berniat menunggu Liora. Sebelumnya Aileen mengirim pesan pada Liora memberitahu bahwa sekarang dirinya sedang berada dibelakang kampus.
"Sisi.. Kayanya gue titip motor gue ke lo deh, mas Aileen jemput gue !" Bisik Liora karena masih ada dosen. Sisi hanya manggut manggut sambil menerima konci motor yanh diberikan Liora.
Tak berapa lama dosen pun menyelesaikan pelajarannya karena sudah satu jam lebih ia mengajar. Liora dan Sisi langsung keluar tanpa menunggu Juna yang masih merapikan tasnya.
"Belakang Jun !" Liora menyahut ikut berteriak.
Liora dan Sisi berjalan cukup cepat, hingga Juna haris berlari kecil untuk menyamakan langkahnya karena sudah cukup jauh tertinggal.
Di jalan belakang kampus, Aileen sedang melamun diatas kap mobil. Ia tak menyadari kehadiran Liora, Sisi dan Juna yang sedari tadi menatapnya. Liora menyenggol bahu Aileen untuk menydarkannya.
"Eh.. kamu udah dari tadi ya Ra ?" Sadar Aileen.
"Siang pak.." Sapa Sisi.
"Siang juga Si. hmm.. Kalian mau bareng ke cafe ?" Tanya Aileen.
"Ga pak. Saya bawa motor !" Sahut Juna.
"Saya juga ga pak. Saya kan ke titipan motor Liora !"
__ADS_1
Aileen hanya manggut manggut. Ada yang aneh dari nya hari ini, ia lebih terlihat cuek dari biasanya kepada Sisi dan Juna.
"Mas. Kamu baik baik aja kan ?" Tanya Liora khawatir dengan Aileen.
"hmm.. Aku baik baik aja ko Ra. Emang kenapa ?"
"Apa dia masih ganggu kamu ?" Tanya Liora lagi. Dan Aileen hanya mengangguk mengiyakan.
"Si, Jun. Kalian duluan aja deh ke cafe nya. Oya Jun, minta laporan sama Anya ya tinggal dia aja yang belum kirim laporan ! Mungkin gue kesana agak sorean kali ya." Ucap Liora yang sengaja ingin memberi waktu untuk Aileen.
"siap bu bos. Ayo Si. Kita permisi ya pak !" Juna langsung menarik tangan Sisi, dan Sisi pun menunduk pada pak Aileen.
Sisi faham dengan maksud Liora, karena sebelumnya Liora sudah menceritakan pada Sisi tentang mantan Aileen yang tiba tiba menghubunginya saat di taman tadi pagi.
Semoga aja Liora udah mulai mencintai pak Aileen ! Amiin.. Batin Sisi.
"Mas, ayo !" Ucap Liora saat melihat Aileen yang mulai sendu.
"Ah iya Ra, ayo !" Aileen membukakan pintu mobil untuk Liora dikursi samping kemudi dan kemudian ia masuk dan duduk di kursi setir.
Aileen melajukan mobilnya perlahan menuju cafe milik Liora, namun Liora menyuruh Aileen memutar balik dan menyuruhnya untuk ketaman. Maksud Liora agar Aileen bisa bercerita padanya, setidaknya meringankan beban fikiran Aileen.
Liora mengajak Aileen duduk dibawah poh9n rindang yang bisa memayungi mereka berdua dari teriknya matahari di siang ini. Liora memberi waktu untuk Aileen menenangkan diri, mengingat ia sangat tidak nyaman sat menerima telpon dari sang mantan nya.
"Ra.." Panggil Aileen dengan pelan, dan Liora menol3h kearahnya. "Apa setelah ini kamu akan terus percaya sama aku Ra ? Dan kamu akan tetap ngejag rumah tangga kita ?"
Liora bingung dengan pertanyaan Aileen, mengapa ia menanyakan hal itu padanya. Sekelebat fikiran Liora menjadi buruk tentang Aileen, ia merasa Aileen akan meninggalkannya dan kembali dengan Joanna setelah apa yang ia lakukan pada Liora beberapa hari lalu.
Liora menatap mata Aileen yang mulai berkaca, seolah ia sedang menahan sesuatu didalam dadanya namun sulit untuk mengungkapkannya.
"Maksud kamu apa sih mas ? kenapa kamu ngomong kaya gini ?" Tanya Liora menyelidik.
"Dia. Dia hubungin aku lagi tadi pagi. Dan dia bilang dia mau dateng kerumah mama, bahkan dia bilang dia ga percaya kalo aku udah bahagia sama kamu sebelum dia lihat sendiri !" Jelas Aileen membeberkan.
Liora tak dapat berkata sepatah katapun, karena pada dasarnya ia belum tahu isi hati Aileen yang sesungguhnya pada dia. Aileen hanya mengatakan jika ia menyukai Liora tapi belum mencintai, pun dengan Liora yang sama dengan Aileen. Walau seharusnya tanpa ucapan pun mereka sebenarnya sudah saling mencintai perlahan, semenjak Liora menyerahkan kesuciannya pada Aileen. Dan disaat Aileen mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan orang tua Liora. Tapi bagi mereka itu tak cukup membuktikan rasa cinta mereka, bahkan sekarang fikiran Liora semakin menjadi mendengar penuturan Aileen.
__ADS_1