
Di jalan belakang kampus, aku sedang melamun diatas kap mobil. aku sama sekali tak menyadari kehadiran Liora, Sisi dan Juna yang sedari tadi menatapku. Hingga Liora menyenggol bahuku untuk menydarkan aku.
"Eh.. kamu udah dari tadi ya Ra ?" Sadar ku menatap Liora.
"Siang pak.." Sapa Sisi.
"Siang juga Si. hmm.. Kalian mau bareng ke cafe ?" Tanyaku menawarkan.
"Ga pak. Saya bawa motor !" Sahut Juna.
"Saya juga ga pak. Saya kan ke titipan motor Liora !"
aku hanya manggut manggut.
"Mas. Kamu baik baik aja kan ?" Tanya Liora khawatir denganku.
"hmm.. Aku baik baik aja ko Ra. Emang kenapa ?"
"Apa dia masih ganggu kamu ?" Tanya Liora lagi. Dan aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Si, Jun. Kalian duluan aja deh ke cafe nya. Oya Jun, minta laporan sama Anya ya tinggal dia aja yang belum kirim laporan ! Mungkin gue kesana agak sorean kali ya." Ucap Liora yang sepertinya sengaja ingin memberi waktu untukku.
"siap bu bos. Ayo Si. Kita permisi ya pak !" Juna langsung menarik tangan Sisi, dan Sisi pun menundukkan kepala kepadaku.
"Mas, ayo !" Ucap Liora saat melihatku yang mulai sendu.
"Ah iya Ra, ayo !" aku membukakan pintu mobil untuk Liora.
Aku melajukan mobilku perlahan menuju cafe milik Liora, namun Liora menyuruh ku memutar balik dan menyuruhku untuk ketaman. Mungkin maksud Liora supaya aku bisa bercerita padanya, setidaknya meringankan beban fikiranku.
Liora mengajak ku duduk dibawah pohon rindang yang bisa memayungi kami berdua dari teriknya matahari di siang ini. Liora memberi waktu untukku menenangkan diri, mengingat aku sangat tidak nyaman saat menerima telpon dari 'Dia'.
"Ra.." Panggil ku dengan pelan, dan Liora menoleh kearahku. "Apa setelah ini kamu akan terus percaya sama aku Ra ? Dan kamu akan tetap ngejaga rumah tangga kita ?"
Sepertinya Liora bingung dengan pertanyaan ku yang mengapa aku menanyakan hal itu padanya. Hingga Liora menatap mata ku yang mulai berkaca.
"Maksud kamu apa sih mas ? kenapa kamu ngomong kaya gini ?" Tanya Liora menyelidik.
"Dia. Dia hubungin aku lagi tadi pagi. Dan dia bilang dia mau dateng kerumah mama, bahkan dia bilang dia ga percaya kalo aku udah bahagia sama kamu sebelum dia lihat sendiri !" Jelasku membeberkan.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk segera pergi kerumah orang tuaku, untuk memastikan ucapan 'Dia' yang mengancam akan datang. Aku berharap 'Dia' tak benar dengan ucapannya.
"Ra sebentar aku terima telpon dulu, kamu duluan aja masuk !" Ucapku ketika mendengar suara ponselku yang berdering saat hendak keluar dari mobil.
Aileen yang sudah selesai dengan acara telponnya pun langsung masuk dan mencium tangan Mamanya yang masih duduk disofa ruang tamu. Liora membawa tiga gelas orange jus dan meletakkannya.
"Gimana mas ?" Tanya Liora padaku yang baru saja masuk selesai menerima telpon.
"Ya begitu Ra. Dia tetap maksa mau dateng !" Sahutku. Liora hanya manggut manggut.
Mama Keke yang tak tau maksudnya pun mulai penasaran, tapi bukannya mengeluarkan suara untuk bertanya ia malah memberi isyarat padaku.
"Mama kepo !" Sahut ku dengan senyum jahilnya.
"Dih.. awas kamu ya !" Kesal mama Keke.
"Hmm.. Ma bisa temenin Liora ga sebentar, ada yang mau Liora beli tapi Liora ga tau tempatnya !" Liora beralibi.
"Emang mau beli apa Ra ?" Tanya penasaran Mama Keke.
"Yaudah si Ma, anterin itu menantunya !" Aku memaksa.
"Kalian lagi ga sembunyiin sesuatu kan dari Mama ? Soalnya perasaan Mama sedikit ga enak ni sama kedatangan kalian yang tiba tiba gini !"
"Ma.."
"Nanti mama akan tahu sendiri. Aku ga bisa cerita sekarang Ma !" ucap kumemotong. Liora menatap sendu padaku karena tidak mau berkata yang sebenarnya pada Mama.
"Oke. Mama ga akan tanya kalian berdua sampai kalian siap cerita ke Mama. Tapi Mama harap hubungan kalian yang baru sebulan ini ga ada masalah apa apa !" Sahut Mama Keke tegas.
"Rumah tangga kita baik baik aja Ma. Cuma emang ada sedikit masalah aja ko, tapi ga berpengaruh sama sekali !" Liora meyakinkan.
"Ya. Semoga aja !"
Sore hari
Aku dan Liora terus menunggu kedatangan Joanna, dengan sikapku yang terus gelisah. Liora selalu berusaha menenangkanku agar tak di curigai oleh Mama Keke. Tapi tetap saja aku tak dapat menyembunyikan kegelisahanku.
"Mas, please.. Kamu ga usah berlebihan kaya gitu !" Ucap Liora menenangkanku.
__ADS_1
"Aku takut Ra, aku takut !" Sahutku.
"Apa yang kamu takutin mas ?" Liora menatapku dengan tajam dan mata memerah yang sedari tadi menahan tangis melihatku.
"Aku takut ga bisa kontrol emosi aku. Aku ga mau sakit lagi Ra !" Jawabku menggenggam tangan Liora.
"Kita pulang aja ya mas, kita ga usah temuin dia !" Bujuk Liora lembut.
"Tapi Ra, dia bakalan terus gangguin aku kalo aku ga temuin dia sekarang juga !"
"Mas, kalo dia lihat kamu kaya gini, yang ada dia berfikiran kalo kamu emang belum bisa move on dari dia. Kecuali emang benar kamu masih simpan perasaan buat dia mas !" Liora tertunduk lesu.
"Ra, ko kamu ngomong kaya gitu ?"
"Aku ga tau mas perasaan kamu yang sebenernya kaya gimana. Emang status kita suami istri sekarang, tapi kita menikah bukan atas dasar cinta kan mas tapi karena perjodohan !" Akhirnya tangis Liora pecah yang sedari tadi ia tahan.
Aku merengkuh tubuh Liora dalam pelukanku, aku tak tahu mengapa Liora bis berkata seperti itu. Padahal sepenuhnya aku sudah melupakan Joanna dan bahkan sekarang aku mulai mencintai Liora. Tapi aku juga tak dapat menutupi kegelisahanku jika bertemu dengan Joanna. Bukan karena masih memiliki perasaan, tapi aku hanya takut jika aku akan memaki Joanna.
"Mas. aku mau pulang !" Ucap Lior sambil terisak.
"Yaudah kita pulang Ra !" Akhirnya aku menyerah.
Liora melepas pelukannya dan menghapus air matanya. Ia menuju dapur dan mengambil segelas air yang langsung ia minum hingga tandas.
"Bi, aku sama mas Jhofan mau pulang. Nanti bilang sama Mama ya, soalnya aku ga enak bangunin Mama dia lagi istirahat !" Ucap Liora pada ART yang sedang memasak di dapur.
"Iya non, nanti bibi sampein. Hati hati ya non !"
"Iya bi. Liora pamit ya !"
Liora berjalan keluar dari dapur menuju ruang tamu dan keluar tanpa menungguku yang sedang menunggunya diruang tamu. Aku membukakan pintu mobil untuk Liora, dan Liora masuk dengan wajah yang masih meneteskan sedikit air mata.
Sepanjang perjalanan Liora hanya diam menatap keluar jendela tanpa berbicara sepatah katapun.
"Ra. Please kamu percaya sama aku Ra. Aku udah ga punya perasaan apa apa sama dia Ra !" Ucapku.
Liora tak menjawab apapun dan terus mental keluar. Hingga aku memberhentikan mobilku dipinggir jalan. Aku mendekatkan tubuhku pada Liora, dan memegang dagu Liora memutar wajah Liora untuk menghadapku.
"Ra, kamu ga percaya sama aku ?" Tanyaku pada Liora.
__ADS_1
"Ga tau mas aku percaya sama kamu atau ga ! Yang jelas sekarang aku cuma lihat bukti yang kamu tunjukkin." Sahutnya.
"Huftt... oke kalo kamu ga percaya sama aku. Biarin aku sendiri yang buat kamu percaya dan ngebuktiin sama kamu kalo aku udah ga ada perasaan apa apa sama dia Ra !" aku kembali melajukan mobilku membelah jalanan yang lumayan padat. Hingga hampir maghrib kami sampai dirumah.