Cinta Anak Pengusaha

Cinta Anak Pengusaha
CAP2 Ungkapan Kekecewaan


__ADS_3

Jantung Liora berdetak sangat cepat dan semakin tak terkontrol. Ia menutup matanya ketika Aileen telah mengukungnya, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Liora. Walau ini bukan yang pertama bagi Liora dan Aileen, namun ini yang pertama bagi Liora setelah ia benar benar menyadari perasaannya pada Aileen.


"Buka mata kamu !"


Liora menggeleng cepat dengan mata yang masih terpejam.


"Buka mata kamu, atau aku bakalan terkam kamu disini sekarang juga !" Secepat kilat Liora membuka matanya dan menatap netra milik Aileen.


"Jangan macem macem mas, masih ada si mbak disini !" gugupnya dengan nafas yang tertahan.


"Kamu sekarang mulai berani main main ya sama aku Ra !"


"Ga ga gitu mas. A-aku cuma-


"Ga ada alasan. Pokoknya malam ini kamu harus terima hukuman dari aku !" kerlingan mata Aileen membuat Liora terpaku.


Aileen melepaskan Liora begitu saja dan kembali ke kamar nya untuk membersihkan diri. Ia tersenyum puas menahan tawa karena telah berhasil membalas Liora yang telah mengerjainya.


Aileen lelaki normal yang pasti tidak tahan jika didekatkan dengan seorang wanita. Apa lagi ini adalah istri sah nya yang sudah sebulan ia nikahi, dan sudah ia bobol pertahanan nya.


*****


Beberapa bulan berlalu dengan kebahagiaan yang selalu terpancar dari wajah Aileen dan Liora. Mereka yang sudah melakukan resepsi dan mengumumkan pernikahan mereka. Banyak para pengagum mereka yang merasa sangat kecewa, terutama para mahasiswi yang begitu mengidolakan Aileen.


Dania dan Salsa pun begitu kecewa, namun mereka tetap datang pada acara resepsi tersebut. Dan tentunya Dania datang dengan kedua orang tuanya yang mendapatkan undangan khusus dari pihak Aileen yang menjadi salah satu kolega perusahaan Papa Dania.


Joanna ? Ya memang dia datang di acara resepsi tersebut dan hampir saja membuat ulah karena hampir saja mencelakai Liora. Namun dengan gerak cepat beberapa pengawal yang diperintah oleh Mahendra segera meringkus Joanna dan tak membiarkan Joanna bisa masuk dalam acara tersebut.


*****

__ADS_1


Malam hari disaat Liora merasa bahagia atas apa yang ia harapkan, namun seseorang disebrang sana sedang merasa sangat kecewa dengan kehidupannya yang ia rasa sangat ingin ia akhiri.


Seorang pria muda sedang duduk termenung menatap rerumputan yang ia pijak. Bahkan ia sama sekali tak ingin mengangkat kepalanya disaat sahabat baiknya datang untuk menghibur.


"Kamu harus kuat buat semuanya. Kamu harus tatap masa depan indah kamu yang udah nunggu kamu !"


Pria tersebut hanya menoleh sesaat dan kemudian kembali menundukkan kepalanya dan kembali menatap rerumputan tersebut.


"Apa kamu ga mau tunjukkin sama dia, kalo kamu bisa bangkit dan kamu bisa bahagia walau tanpa dia ? Kalo kamu terus kaya gini, dia akan terus tertawa diatas segala kesedihan sama keterpurukan kamu !"


Sahabat pria tersebut terus mengusap usap punggung si pria, hingga akhirnya si pria mengangkat kepalanya dan menangkap tangan sahabatnya tersebut.


"Apa kamu mau buat bantuin aku bangkit dan nemenin aku buat ngedampingin aku menghadapi ini semua ?" Ucap pria itu sambil menatap mata nanar sahabatnya.


Sahabat pria itu mengangguk sambil tersenyum. Si pria tersebut ikut tersenyum dan mengarahkan pandangannya lurus kedepan menatap kelap kelip lampu lampu taman.


"Jujur. Aku masih begitu kecewa sama kehidupan yang aku jalanin. Aku ngerasa tuhan ga pernah adil sama diri aku. Aku harus kehilangan cewek yang paling aku sayang karena aku dijebak sama anak teman bisnis Papa. Aku ditinggal pergi sama kakak aku karena dia berontak sama keputusan Papa. Sekarang, aku harus terima kalo Mama pergi selamanya dan aku, aku harus hidup sendiri disini ,dengan keterpurukan aku sekarang !"


"Makasih ya. Kalo ga ada kamu sama Dodo yang selalu nemenin aku, mungkin aku udah ga sanggup buat jalanin ini semua !"


"Ga usah bilang makasih. Kamu jadi kan pulang dan kita sama sama cari kakak kamu ?"


"Aku belum ke fikiran, yang jelas aku belum bisa pulang kalo Papa belum izinin aku !"


Gadis itu memeluk erat sang pria. Nyaman, sangat nyaman bagi sang pria, hingga ia bisa menumpahkan semua air matanya yang selama ini ia tahan untuk dikeluarkan.


*****


Lima minggu berlalu, kini si pria telah mendapatkan izin dari Papanya untuk kembali pulang. Dan akan melanjutkan pendidikan di universitas yang juga ditentukan olah Papanya.

__ADS_1


Gadis yang setia menemani si pria dalam keterpurukan menjemput kedatangan si pria di bandara, dan tentunya juga ditemani oleh Dodo si pria gemulai yang juga menjadi sahabatnya.


"Aku rindu kalian !" Ucap si pria tersebut sambil memeluk tubuh kedua sahabatnya.


"Aku ga !" Sahut si gadis terkekeh. Dodo menggelengngkan kepalanya pada si gadis tersebut.


Satu jam berlalu dan si pria sudah sampai dirumah orang tuanya. Sepi, itulah sekarang yang ia rasakan semenjak kepergian ibunya. Hanya ada dua orang ART, seorang sopir dan seorang satpam yang berjaga di pintu gerbang.


"Papa kemana, Mbok ?" Tanya si pria kepada salah satu ART yang memang menyambutnya.


"Papa aden dikantor, katanya ada meeting penting. Tadi Papa aden pesen sama mbok, katanya kalo aden pulang suruh langsung aja kekantor Papa aden ajak temen aden !"


"Oh yaudah mbok kalo gitu, aku sama mereka langsung kekantor Papa aja."


Pria tersebut pun langsung pergi bersama kedua sahabatnya menuju kekantor sang Papa. Setibanya disana mereka sudah ditunggu dan langsung ke ruangan.


"Udah dateng kamu ?"


"Papa lihat sendiri kan ? Ada apa Papa suruh kita kesini ?"


"Kamu lanjut kuliah ditempat kakak kamu. Ini alamatnya, dan besok kamu bisa berangkat. Dan buat kalian, saya juga sudah daftarkan kalian ditempat anak saya !"


"Kita juga, om ?" Kejut Dodo tak percaya.


"Iya. Kalian enang aja, saya udah bicarakan sama orang tua kalian. Dan mereka setuju, karena saya yang akan membiayai kalian sampai lulus. Dengan persyaratan, kalian harus menjaga anak saya !"


"Siap, om !" Sahut Dodo sambil memberi hormat.


Sedangkan si gadis tersenyum dan menundukkan badannya sebagai ucapan terima kasih.

__ADS_1


Keesokan harinya, mereka telah bersiap dengan koper mereka masing masing. Menggunakan mobil yang dikendarai oleh Dodo menuju bandara untuk melakukan penerbangan menuju tempat yang dituju, si pria terlihat begitu senang. Dalam fikiran nya ia akan bisa bertemu dengan seorang yang selama ini masih sangat ia sayang untuk bisa menjelaskan semuanya, walau tidak mungkin mereka dapat bersatu tapi setidaknya ia tidak selalu merasa bersalah.


Sore hari mereka sampai dirumah yang telah diberikan kepada si pria tersebut dari Papanya. Walaupun ia mengingat jika sang Papa mengatakan jika ia berkuliah ditempat sang kakak, tapi mengapa ia tak tinggal juga dengan kakaknya. Dan di sini lah ia yang harus berusaha sendiri untuk kembali mendapatkan hati sang kakak yang telah lama pergi meninggalkannya tanpa kabar sedikitpun.


__ADS_2