
"Huhhhhh sepi sekali ya tidak ada Sera" Rachel yang biasanya selalu melakukan aktivitas di rumah utama bersama dengan Sera setiap akhir pekan menghela nafasnya dengan berat.
"Tentu saja, kan biasanya kita selalu bersama-sama" jawab Gaby yang juga merasa kehilangan Sera karena sudah berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya.
"Sedang apa ya dia disana?" Rachel menghempaskan diri di sofa yang empuk.
"Sedang cari pacar baru mungkin" jawab Gide dengan asal, membuat Gamal menatapnya dengan tatapan ingin membunuh.
"Bisa jadi, kan dia sudah putus dari Luke" Dimas menimpali, membuat Gamal makin kesal.
"Apalagi di sana banyak pria muda yang tampan" imbuh Gide.
"Ck!" Gamal yang kesal pun berdecak.
"Eh ngomong-ngomong kita main games saja yuk seperti biasa!" Rachel yang melihat suasananya sudah mulai tidak kondusif memberi usul.
"Ide yang bagus" Rafael menimpali dengan senyum paling jahil.
"Rach ambil lipstickmu" Richard menyuruh kembarannya.
"Baiklah" Rachel kemudian masuk ke kamarnya untuk mengambil lipstick sebagai hukuman.
"Ayo kita mulai!" Richard memimpin permainan dengan semangat.
__ADS_1
"Ayo" Gide dan Dimas juga bersemangat.
Mereka semua pun bermain dengan sangat seru meskipun satu personilnya tidak ada karena harus menempuh kuliah ke luar negeri.
"Ahhh kak Raf kau curang sekali sih!" Rachel berteriak kesal karena Raf mengerjainya dengan mencoret wajahnya secara brutal secara berulang kali.
"Loh kan tidak ada aturannya" Raf menyeringai jahil.
"Tau ah, kau ini mentang-mentang tidak ada Sera jadi aku yang sial deh!" Rachel sangat kesal.
"Kalau kalah ya harus terima konsekuensinya dong!" kata Raf lagi.
"Tau ahhh" Rachel menggerutu sambil berjalan ke arah taman taman belakang untuk menjauh dari Raf yang sangat senang melihat kekalahannya.
"Sini aku bantu" dengan suka rela Gide membantu Rachel membersihkan sisa lipstick di wajahnya.
"Tidak usah kak, tidak apa-apa aku saja" Rachel tidak mau merepotkan.
"Sudah sini" Gide tetap memaksa dan akhirnya membuat Rachel pasrah.
"Kak" Rachel memanggil Gide yang sedang serius membersihkan wajahnya.
"Hemmmm" hanya menjawab singkat.
__ADS_1
"Kalau aku perhatikan kakak itu ternyata ganteng juga loh" kata Rachel sambil mengamati wajah tampan Gide.
"Memangnya kau baru sadar kalau aku ini ganteng? kemana saja selama ini?" Gide menjawab tanpa mengalihkan fokusnya membersihkan sisa lipstick yang menempel di wajah Rachel.
"Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada satu pun gadis yang mau denganmu ya?" Rachel bertanya dengan sangat polos.
"Hey, jangan salah, bukan tidak ada satu pun gadis yang mau denganku, tapi memang aku yang tidak pernah mau menerima mereka semua!" harga diri Gide seperti diinjak oleh komentar pedas Rachel.
"Benarkah? kenapa memangnya kau tidak mau menerima mereka?" Rachel masih belum habis pikir.
"Ya karena aku belum menemukan yang benar-benar aku sukai!" jawab Gide apa adanya.
"Tapi kalau nanti kau jadi perjaka tua bagaimana?" Rachel masih penasaran dengan sikap dingin Gide yang selalu menolak setiap wanita cantik yang mendekatinya selama ini.
"Tidak masalah, kan masih ada kau yang juga belum mau menikah, jadi nanti kalau aku sudah mentok, aku tinggal menikahimu saja!" seloroh Gide asal.
"Dihhh siapa yang mau menikah dengan kakak, ge er sekali!" Rachel langsung melengos.
"Hahahaha, tapi kau kan juga masih jomblo, jadi tidak salahkan kalau sesama jomblo saling menikah!" Gide selalu senang melihat ekspresi Rachel yang jengah jika membahas tentang jodoh.
"Ogahhhhh!" Rachel langsung meraih tissue dari tangan Gide dan pergi dari hadapannya, membuat pria tampan itu tergelak karena reaksinya yang spontan menolak.
"Dasar anak kecil!" Gide kembali tergelak.
__ADS_1