
"Astaga kaget!" Rachel terperanjak saat tiba-tiba saja tubuhnya dipeluk dari belakang oleh sang suami ketika ia hendak berganti pakaian tidur.
"Papa ih, bikin mama jantungan aja!" Gerutu wanita hamil itu.
"I miss you ma" Gide yang sudah ditinggal tidur di luar kamar oleh sang istri selama satu minggu lebih mengutarakan isi hatinya.
"Ihhh apaan sih papa" Rachel berusaha menepis tangan sang suami yang melingkar erat di pinggangnya.
"Papa kangen sama mama" bisik pria itu sambil menggigit gemas daun telinga sang istri, membuat yang digigit meremang kegelian.
"Lepasin ah, mama mau ganti baju tidur, udah ngantuk" Rachel berusaha menghindar agar tidak khilaf.
"Malam ini bobok sama papa yuk ma, udah lama deh rasanya papa gak peluk-peluk mama" Gide menunjukkan mode merayu.
"Mama sih oke-oke aja, tapi anak kamu nih yang gak mau pa, dia maunya bobok sama aunty-aunty nya terus!" Rachel berkilah.
"Emang mama gak bisa gitu bujuk si dedek biar mau bobok sama papa?" Berusaha mempengaruhi sang istri.
"Ya gak bisa lah pa, kan namanya juga ibu hamil, ngidamnya ya tergantung maunya si bayi!" Rachel hampir tertawa terbahak-bahak saat melihat raut wajah sang suami yang begitu kecewa.
"Yahhhh, ya sudah deh, terserah aja!" Gide yang polos tidak mau memaksa sang istri meskipun hatinya sangat ingin.
"Eh tapi sebenernya ada sih pa caranya biar si dedek mau tidur bareng sama papa" Rachel yang melihat suaminya mundur teratur kemudian mengajukan syarat.
"Bagaimana?" pria lugu nan tampan itu kembali bersemangat.
"Dia minta dibuatkan lalapan daun pepaya dan pare sama papa" jawab Rachel.
"Ohhhh kalau itu sih mudah ma, papa pasti bisa kabulkan" kata Gide dengan percaya diri.
"Bener?" Rachel menatap ragu.
"Pasti dong" angguk pria tampan itu.
__ADS_1
"Oke, besok pagi mama siapkan bahannya, papa tinggal masak ya" sang istri melanjutkan.
"Siap ma, asalkan papa bisa bobok sama mama lagi, apapun pasti papa lakukan" jawab Gide sambil berkobar-kobar.
..........
"Ma, ini gak salah segini banyaknya daun pepaya dan pare? ini kan lebih dari satu porsi!" Pagi berikutnya Gide terkejut saat sang istri habis berbelanja dengan kedua kakak perempuannya dari pasar tradisional untuk membeli daun pepaya dan juga pare.
"Enggak pa, kan Kak Gaby dan Sera juga pengen icip-icip" jawab Rachel dengan santainya.
"Ohhhh" Gide hanya ber oh ria saja, ia merasa senang karena ngidam sang istri termasuk kategori yang mudah dikabulkan dibandingkan ngidam kedua kakak iparnya yang lalu.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Gide untuk mengolah semua bahan mentah tersebut menjadi sayur lalapan yang siap untuk disantap.
"Wahhhh papa hebat ya, segar banget ini kelihatannya" Rachel mencicipi sepotong pare kukus dengan cocolan sambal terasi.
"Hemmm lezat" katanya.
"Enakkkkk" Sera yang juga ikut mencicipi daun pepayanya berkomentar.
Ketiga wanita hamil itu pun kemudian menikmati lalapan sayur serba pahit tersebut.
"Kalau begitu papa ke depan dulu ya ma, sama Dimas dan Gamal" Gide yang melihat ketiga ibu hamil itu makan dengan nikmat berpamitan.
"Ehhhh papa mau kemana? papa ikutan juga dong!" Rachel menahan sang suami.
"Gak usah ma, buat mama aja" Gide berkata.
"Papa nolak permintaan dedek?" Rachel menunjukkan wajah sedihnya.
"Bukan gitu ma, papa masih kenyang" Gide kelabakan saat melihat sang istri hampir menangis.
"Hiks hiks" Rachel pun berpura-pura menangis.
__ADS_1
"Loh kok mama nangis?" Gide takut bukan main.
"Kakak sih nolak!" Sera menyalahkan adik iparnya.
"Ma, jangan nangis dong, maaf ya, iya deh papa ikut makan" Gide pada akhirnya mengalah.
"Bener papa mau makan?" Rachel berhenti menangis seketika.
"Iya, demi mama dan dedek papa ikut makan juga" angguknya.
"Kak Gide tunggu, bisa minta tolong panggilkan papanya Syeba tidak? aku juga mau ngajak dia makan hehehe" Sera yang sibuk mengunyah meminta tolong kepada adik iparnya.
"Sekalian papanya Divo juga ya" Gaby pun ikut minta tolong.
"Oke" jawab pria polos itu pada akhirnya dengan pasrah.
..........
"Ma, papa kan gak suka pahit" Gamal memelas kepada sang istri saat disuapi sepotong pare dengan cocolan sambal.
"Papa gak sayang mama lagi ya?" Sera yang sudah mengangkat tangannya ke depan mulut sang suami langsung merubah raut wajahnya.
"Sayang dong ma" Gamal khawatir melihat raut wajah sang istri yang berubah.
"Kalau sayang kenapa gak mau makan makanan yang mama suapin?" Sera cemberut.
"Mau kok ma, mau" dengan berat hati ia menjawab.
"Ya sudah kalau begitu aaaaaaa, buka mulutnya, mama suapin sampai habis" kata sang istri.
"Aaaaaa" Gamal pun menurut.
Sementara itu Dimas yang sudah ditatap dengan horor oleh sang istri hanya bisa menelan salivanya dan mengikuti semua instruksi sang istri tanpa banyak komentar.
__ADS_1
Pada akhirnya menu lalapan daun pepaya dan pare yang super pahit itu di habiskan oleh ketiga menantu pria Anderson dengan penuh keterpaksaan demi menghindari murkanya para istri.
"Selamat menikmati pahitnya lalapan papa sayang, anggap saja kalian sedang merasakan bagaimana pahitnya hati kami para istri yang dikerjai oleh kalian dengan taruhan itu" senyum kemenangan tersungging di bibir para istri.