
"Kak ada apa sebenarnya? kenapa Dad memanggilku?" Rachel yang dijemput oleh Gide di rumahnya merasa penasaran.
"Maafkan aku Rach, aku sudah menceritakan semuanya kepada Daddy, Ayah dan juga Papa" Gide menghentikan mobilnya ditempat sepi untuk sejenak berbicara dari hati ke hati dengan Rachel.
"Kak?" Rachel seperti tersambar oleh petir.
"Maafkan aku, aku tau kau pasti kecewa dan menganggap aku seorang pembohong karena telah mengingkari janjiku untuk menutup semua ini rapat-rapat" Gide menggenggam tangan Rachel.
"Kau jahat sekali kak hiks hiks" Rachel bergetar hebat. Sekali lagi ia merasa dunianya hancur karena harapan untuk melanjutkan hidupnya secara normal seperti dulu menjadi sangat tipis.
"Maaf Rach, tapi biar bagaimanapun kita memang harus tetap jujur kepada mereka semua, mereka adalah orang tua kita!" Gide hanya bisa memeluk gadis yang sedang terguncang itu dengan erat.
"Aku ingin mati saja" Rachel tidak memiliki semangat hidup lagi.
"Jangan bicara seperti itu" Gide mempererat pelukannya.
"Untuk apa aku hidup lagi? semuanya sudah hancur!" Rachel histeris.
"Rach, lihat aku, tatap mataku!" Gide memegang bahu gadis itu.
"Kau itu masih sangat muda, cantik, berbakat dan kau memiliki semua yang diinginkan oleh para gadis di seluruh dunia, masa depanmu masih sangat panjang!" Gide menatap tajam Rachel.
"Tapi aku sudah tidak suci lagi" Rachel bersikeras.
"Dengar, meskipun kau sudah tidak suci lagi, namun jika suatu saat ada pria yang benar-benar mencintaimu, aku yakin dia akan menerimamu apa adanya, jadi jangan khawatir ya" Gide menghapus air mata yang menetes di pipi Rachel.
"Hiks hiks hiks" Rachel hanya bisa menangis.
"Dan satu lagi yang perlu kau ingat adalah apapun yang terjadi aku selalu berada disisimu, kau tidak akan pernah sendirian menghadapi semua ini!" kata Gide menenangkan.
"Kita jalan ya, mereka sudah menunggu kita" Gide kembali menjalankan mobilnya.
..........
"Duduklah Rach" Mike tersenyum ramah kepada Rachel. Ia dapat melihat bahwa gadis itu sangat terpukul hebat dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Iya ayah" Rachel mengangguk.
"Dimas, panggil unclemu, katakan kalau Rachel sudah datang" kata Mike kepada menantunya.
__ADS_1
"Baik yah, oya apakah Raf dan Rich juga skalian?" tanya Dimas.
"Iya, mereka juga sekalian saja" angguk Mike.
"Kau sudah datang?" Ron berusaha bersikap senormal mungkin terhadap sang putri. Ia tidak ingin putrinya semakin terguncang jika dirinya menunjukkan emosi tertentu.
"Apa kau sudah makan?" Ron duduk di sebelah Rachel dan mengelus kepala putrinya itu. Sementara Rachel hanya bisa mengangguk saja, ia takut jika mengucapkan banyak kata maka ia tidak bisa lagi menahan tangisnya yang sudah diujung mata.
"Mau minum apa?" Ron kembali bertanya untuk mencairkan suasana.
"Aku tidak haus Dad" Rachel berusaha keras berbicara meskipun suaranya begetar.
"Oke, kalau begitu sekarang ceritakan pada Dad, apa yang kau rasakan? Hemm??" Ron menatap lekat wajah putrinya yang sangat cantik, perpaduan sempurna antara wajahnya dan sang istri.
"Hiks hiks hiks" hanya isak tangis yang keluar dari mulut Rachel.
"Sayang ada Dad di sini" Ron memeluk erat tubuh mungil gadis yang selalu dianggapnya seperti bayi itu.
"Hiks Hiks Hiks" hanya suara tangis yang terdengar di ruang kerja Mike. Sementara semua pria di keluarga Anderson, kecuali Gamal karena sedang cuti bulan madu, hanya bisa menatap Rachel dengan penuh iba.
"Maafkan aku Dad, aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik, aku sangat ceroboh" Rachel memeluk Daddynya sangat erat untuk mencari kekuatan yang sudah hilang dari tubuhnya beberapa waktu belakangan ini.
"Tapi masa depanku sudah hancur Dad, aku ingin mati saja rasanya!" Rachel mulai histeris.
"Sssssttttt, jangan bicara seperti itu, apa kau tega melihat Mom dan Dad bersedih jika kau mati?" Ron seperti menenangkan seorang anak kecil.
"Tapi aku sudah mengecewakan kalian!" Rachel kembali bergetar hebat.
"Siapa bilang? Dad tidak pernah kecewa padamu!" Ron tersenyum.
"Dad" Rachel sedikit merasa lega saat melihat sikap Ron yang jauh dari bayangannya.
"Bagi Dad, apapun yang terjadi padamu, kau tetaplah putri yang sudah membuat Dad bangga, kecelakaan itu bukanlah akhir dari segalanya, kau masih punya masa depan cerah didepan sana, kalau kau menyerah saat ini, lalu kau mau bagaimana?" Ron mengelus pipi Rachel yang merah karena menangis.
"Tapi Dad,," Rachel ingin menyangga.
"Apa kau siap jadi kuntilanak yang gentayangan karena mati bunuh diri dengan konyol? awas saja kalau sampai menghantui rumah mewahku ya, nanti kalau aku mau menjualnya kan jadi tidak laku karena kau gentayangan!" Ron berseloroh untuk menghibur Rachel.
"Dad, aku kan sedang serius!" Rachel melotot.
__ADS_1
"Aku juga serius, kalau kau mati dan tidak mengganggu sih tidak apa-apa, tapi kalau smapai gentayangan jadi kuntilanak dan merepotkan banyak orang kan jadi bikin masalah baru, nanti aku rugi bandar!" Ron kembali berseloroh dengan cueknya.
"Kau benar Ron, harga properti di komplek kita bisa turun drastis kalau diterpa issue kehadiran kuntilanak penasaran, Ck, aku bisa-bisa ikut merugi juga nih!" Mike menimpali Ron.
"Ayah!" Rachel protes kepada Mike.
"Iya juga ya, mana aku punya dua rumah lagi di dalam komplek, jatuh miskin dong aku kalau tidak laku dijual!" Dimas ikut-ikutan.
"Kak Dim!" Rachel berkacak pinggang.
Suasana yang awalnya tegang kini berubah menjadi cair karena pembahasan yang tidak berfaedah tentang kuntilanak penasaran.
"Makanya kau jangan mati bunuh diri, lihatlah kami semua yang akan merugi karena ulah konyolmu itu!" Ron tersenyum jahil.
"Lalu aku harus bagaimana?" Rachel bertanya kepada Ron.
"Apa kau tidak mau menikah dengan Gide?" celetuk Mike.
"Aku masih belum berfikir untuk menikah yah, lagi pula kak Gide itu sudah seperti kakak kandungku sendiri, mana mungkin aku menikahi kakakku sendiri?" Rachel mengutarakan alasannya.
"Lalu bagaimana kalau nanti kau hamil?" Ron bertanya dengan hati-hati.
"Entahlah, aku juga bingung!" kini Rachel sudah bisa lebih santai karena sikap Ron, Mike dan George berbeda jauh dari bayangannya, meskipun rasa takut akan hamil tetap menghantuinya.
"Apa kau tidak mau menceritakan ini kepada Mom, Bunda dan Tante?" Mike bertanya dengan wajah serius.
"Aku takut mereka kecewa padaku yah" Rachel menundukkan kepala.
"Sayang, apa kau yakin tidak ingin Gide menikahimu?" Ron berusaha membujuk Rachel.
"Aku belum mau menikah yah!" Rachel kembali tersulut emosi.
"Baiklah, baiklah, kalau begitu kita tunggu saja beberapa saat ke depan, kalau kau memang tidak hamil, maka kita anggap saja semua ini tidak pernah terjadi, toh ini adalah murni kecelakaan, aku tidak akan menyalahkan kau atau pun Gide, karena kesalahannya ada di dua bajingan tengik ini!" Ron yang sejak tadi menganggap Rich dan Raf tidak ada, akhirnya menatap mereka secara bergantian dengan tatapan ingin membunuh.
"Tapi, jika kau ternyata hamil, maka dengan terpaksa Dad akan memberitahukan ini kepada Mom, dan kalian berdua pun harus segera menikah!" Ron menarik nafas berat, seperti kata Dimas tadi pagi bahwa saat ini kesehatan mental Rachel adalah yang terpenting untuk dijaga agar tidak semakin hancur, dibandingkan kehormatan dan kesuciannya yang sudah terenggut tanpa sengaja.
"Baiklah, aku rasa itu cukup bijaksana" Mike menyetujuinya dan didukung oleh anggukan George.
Kesepakatan pun terjadi, keputusannya masih sama seperti saat mereka berada di villa. Baik Ron, Mike maupun George tidak ada yang mau memaksa Rachel untuk menikah dengan Gide, mengingat mental gadis itu yang kini sedang sangat terpuruk. Mereka lebih memilih mengambil resiko akan terkena gosip tidak sedap jika pada akhirnya Rachel benar-benar hamil di luar nikah.
__ADS_1