Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
George Panik


__ADS_3

"Sayang, kok tumben sih belum bangun? apa kau sedang sakit?" Gide menelusupkan wajahnya ke tengkuk sang istri yang masih setia bergelung di balik selimut, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Emhhhh aku masih ngantuk" Rachel merajuk saat sang suami mencoba membangunkannya.


"Sudah jam sembilan, ayo sarapan dulu, nanti baru tidur lagi" Gide mengguncangkan tubuh sang istri. Meskipun weekend, biasanya dengan sigap Rachel selalu bangun lebih pagi dari Gide untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.


"Kau sarapan duluan saja, aku sungguh masih mengantuk" Rachel tetap tidak bergeming dari posisi tidurnya.


"Aku sudah sarapan roti sejak tadi, hanya tinggal kau saja yang belum sarapan" Gide khawatir sang istri terserang sakit lambung.


"Ya sudah kalau kau sudah sarapan, sekarang biarkan aku tidur sebentar saja ya, kau ngapain kek sana, jangan ganggu aku dulu" Rachel benar-benar enggan beranjak dari tidurnya, bahkan hanya untuk sekedar membuka mata.


"Huffff baiklah, kalau begitu aku ke rumah mama dan papa dulu ya sebentar" pada akhirnya Gide memilih untuk menyerah membangunkan Rachel dan membiarkan sang istri kembali tidur, sementara dirinya mengunjungi kediaman kedua orang tuanya yang hanya berjarak beberapa blok dari rumahnya.


"He em" Rachel hanya menjawab sekenanya.

__ADS_1


..........


"Loh kok sendirian? mana Rachel?" Maya bertanya kepada putra bungsunya yang baru datang sambil mengedarkan pandangan ke arah luar rumah mewahnya mencari keberadaan sang menantu.


"Tidak ikut, dia masih tidur" jawab Gide dengan jujur.


"Apa Rachel sedang sakit? kenapa kau malah kesini dan meninggalkannya sendiri di rumah?" Maya yang sudah menganggap Rachel layaknya putri kandungnya sendiri merasa cemas.


"Tidak ma, dia baik-baik saja, hanya memang beberapa hari belakangan ini dia menjadi terlihat lebih malas dari biasanya" Gide menjelaskan.


"Malas?" Maya mengerutkan keningnya.


"Sudah gitu beberapa hari belakangan ini dia juga sangat sebal kalau aku menyentuhnya, katanya aku bau, padahal jelas-jelas aku sudah mandi dan pakai parfum, malahan dia yang tidak mandi" Gide mengeluhkan perubahan sikap sang istri.


"Yang paling bikin pusing adalah dia suka tiba-tiba minta makanan yang aneh-aneh, lalu saat sudah aku belikan hanya dimakan satu dua suap saja, habis itu dia tidak habiskan. Kalau aku tidak membelikannya dia pasti akan merajuk dan menangis serta mendiamkan aku. Huffffff!" Gide menghembuskan nafasnya dengan berat.

__ADS_1


"Apa kau sudah periksa ke dokter?" Maya memiliki feeling tertentu.


"Memangnya kalau orang berubah begitu perlu ke dokter? memang ada obatnya gitu ma?" Gide tidak paham dengan perkataan sang mama.


"Makanya di cek dulu ke dokter, nanti baru bisa ketauan sakit atau apa gitu" Maya menekankan lagi.


"Ada apa ini? siapa yang sakit? kok pake acara cek ke dokter segala?" George yang baru selesai mengecek pekerjaannya di ruang kerja bergabung dengan Maya dan Gide di ruang keluarga.


"Ini pa, si Rachel belakangan ini berubah, katanya jadi lebih malas, tidak suka disentuh sama Gide karena katanya Gide bau, lalu sering minta makanan yang aneh-aneh gitu" Maya menjelaskan dengan tatapan penuh arti kepada sang suami.


"Waduhhhh!" George langsung menelan salivanya saat mendengar penjelasan Maya. Sementara sang istri yang sudah paham akan reaksi sang suami hanya tersenyum geli sendiri.


"Papa kenapa? kok jadi panik gitu wajahnya?" Gide yang melihat ekspresi George berubah tegang semakin bingung sendiri.


"Tidak, tidak apa-apa kok" tapi wajahnya menunjukkan ada apa-apa.

__ADS_1


"Sabar pa, demi keturunan Anderson heheheh" bisik Maya sambil terkekeh geli melihat sang suami terserang panik. Ia bisa membayangkan wajah Ron dan juga Mike juga akan serupa jika memang benar feelingnya ini tepat.


Sementara kedua orang tuanya masih berspekulasi tentang kondisi Rachel, Gide hanya bisa menarik nafas berat karena dibuat kelimpungan oleh sikap sang istri yang benar-benar berubah.


__ADS_2