
Tok Tok Tok,,
"Ayah, apa ayah sedang sibuk? boleh aku dan Gide berbicara sebentar?" Dimas melongokkan kepalanya ke ruang kerja milik sang ayah mertua.
"Masuklah" Mike mempersilahkan kedua pria muda itu duduk di sofa ruang kerjanya.
"Ada apa?" Mike menatap keduanya secara bergantian.
"Begini uncle, aku ingin memberitahu sesuatu yang sangat penting" Gide sesungguhnya merasa ciut di depan Mike, namun ia juga tidak mau menjadi pecundang dengan hanya diam saja tanpa mengakui perbuatannya.
"Katakanlah" Mike menatap Gide dengan penasaran.
"Ini, silahkan dilihat" Gide menyodorkan ponselnya yang memutar rekaman CCTV saat Rafael dan Richard menuangkan obat perangsang ke dalam makanan dan minuman pengantin baru di villa.
"Raf dan Rich?" Mike mengernyitkan dahinya.
"Ini juga" Gide kemudian melanjutkan memutar video kedua dimana dirinya dan Rachel mulai memakan makanan yang sudah dicampur dengan obat perangsang yang membuat mereka menjadi tidak bisa mengendalikan diri.
"Jelaskan semuanya" Mike yang masih bingung berusaha mencerna video yang dilihatnya dengan baik.
"Jadi ini adalah rekaman CCTV saat Sera dan Gamal berbulan madu di villa. Saat itu mereka berdua lupa membawa koper karena saking semangatnya berbulan madu. Kemudian Gamal meminta Gide untuk mengantar koper yang masih tertinggal di hotel. Nah karena kopernya ada sama Rachel, maka akhirnya Rachel dan Gide sepakat mengantarnya berdua ke villa agar ada teman ngobrol di jalan. Sesampainya di villa mereka berdua kelaparan dan akhirnya memakan makanan yang terhidang di meja. Mereka tidak tau kalau makanan itu ternyata sudah diberi obat oleh Raf dan Rich sebagai 'hadiah' pernikahan buat Sera dan Gamal. Karena efek obatnya tidak bisa dihentikan, akhirnya mereka pun melakukannya dalam keadaan setengah sadar" Dimas membantu Gide menjelaskan kronologinya.
"Jadi Rachel dan kau sudah melakukan hubungan itu?" Mike menatap Gide dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku sungguh tidak bisa menahan hasrat itu uncle, pengaruh obatnya sangat besar" Gide sangat takut dengan tatapan Mike.
"Bagaimana dengan kondisi Rach saat ini?" Mike mengkhawatirkan kondisi keponakannnya.
__ADS_1
"Rach sangat terpukul, ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga harta yang paling berharga dalam hidupnya itu" Gide menghela nafas panjang.
"Lalu bagaimana dengan kau sendiri?" kini Mike yang bertanya pada Gide.
"Sejujurnya aku pun merasa sangat berdosa dengan semua ini, aku merasa kasihan sama Rachel dan ingin bertanggung jawab kepadanya" Gide memberanikan diri menatap Mike.
"Kalau begitu lakukanlah" kata Mike spontan.
"Tapi Rach menolaknya, dia bahkan memohon untuk tidak memberitahukan masalah ini kepada siapa pun kecuali aku, Dimas, Gamal, Gaby dan Sera yang memang sudah tau" Gide kembali menghela nafasnya.
"Kenapa?" Mike bertanya penasaran.
"Dia masih ingin menikmati masa mudanya dan belum ingin terikat pernikahan. Dia juga bilang bahwa sudah menganggap hubungan kami layaknya kakak dan adik kandung, jadi dia tidak mau menikah denganku karena itu" kata Gide dengan berat.
"Hemmmmm" Mike berfikir dengan cepat.
"Baik yah" Dimas mengangguk cepat dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rafael dan juga Richard.
..........
Plakkkkk, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Richard. Ron yang sudah melihat dan mendengar semuanya dari mulut Gide sangat emosi.
"Dad aku mohon maafkan aku" Richard berlutut di hadapan Ron yang terlihat begitu murka saat mengetahui bahwa putri kesayangannya kehilangan kesuciannya karena ulah saudara kembarnya sendiri.
"Dad, kenapa kau hanya menampar Rich? aku juga bersalah!" Raf ikut berlutut dihadap unclenya.
"Tanyalah pada ayahmu, hukuman apa yang tepat untukmu!" Ron tidak mau menyakiti Raf karena dia sangat menghargai sang kakak.
__ADS_1
"Aku menyerahkan semuanya padamu Ron, aku menerima semua konsekuensinya, bahkan jika kau ingin membunuh Raf, maka aku akan mendukungmu!" Mike cukup bijaksana untuk tidak mengambil alih hukuman yang seharusnya memang dilakukan oleh Ron.
"Aku tidak bisa berkata-kata lagi, entah apa yang ada diotak kalian berdua hingga melakukan tindakan rendah seperti itu!" Ron berusaha berkata dengan datar meskipun suaranya bergetar menahan amarah.
"Apa yang harus aku katakan kepada mom mu untuk menjelaskan semuanya hah?" Ron membayangkan jika istri tercintanya mengetahui bahwa sang putri sudah kehilangan harta yang paling berharga karena ulah konyol putranya sendiri.
"Dad hukumlah kami seberat mungkin untuk menebus semua kesalahan ini!" Rafael merasa sangat berdosa.
"Apakah dengan menghukum kalian berdua semua akan kembali seperti semula?" Ron menatap tajam Rafael.
"Maaf" Rafael tertunduk.
"Gide, bisakah kau jemput Rachel untuk datang ke sini sekarang juga?" Ron meminta tolong kepada Gide.
"Baik uncle" Gide langsung berdiri dan melakukan apa yang diminta oleh Ron.
"Kepalaku sangat pening, aku ingin beristirahat sebentar di ruanganku, kabari aku kalau Rachel sudah tiba" Ron kemudian berjalan ke luar ruang kerja Mike menuju ruang kerjanya sendiri.
"Kalian berdua tunggulah di ruang meeting" George memerintah Rafael dan Richard.
"Baik Om" Rafael langsung mengikuti perintah George tanpa bantahan, begitu pula dengan Richard.
"Sepertinya kau menang banyak ya George, karena sebentar lagi akan besanan dengan Ron juga hahahaha" Mike terbahak-bahak membayangkan betapa sempitnya garis keluarga mereka.
Sesungguhnya di lubuk hati Mike yang paling dalam ia sangat bahagia mengetahui bahwa Rachel dan Gide berpeluang menjadi suami istri, yang artinya silsilah keluarga mereka akan semakin erat. Namun yang ia sesali adalah caranya yang tidak tepat. Andaikan saja hubungan Rachel dan Gide seperti Sera dan Gamal atau Gaby dan Dimas, maka pernikahan itu pasti akan terlihat begitu sempurna.
"Hufffff" George hanya bisa menghembuskan nafas berat tanpa bisa berkata-kata sama sekali.
__ADS_1
Sementara Dimas yang mendengarkan perkataan sang mertua hanya senyum-senyum saja tanda setuju dengan pemikiran Mike.