
Melihat sang istri yang tidak melakukan penolakan sama sekali, bahkan justru merespon tindakannya saat mengeskplor bibir mungil Rachel itu, membuat Gide berada diatas angin. Ia dengan lembut menelusuri garis wajah sang istri dengan jari-jemarinya, membuat sang istri merinding dengan sensasi sentuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perlahan tapi pasti Gide menjelajah dan menggigit kecil telinga istrinya. Ia terus turun hingga bagian leher dan meninggalkan jejak cintanya di sana.
"Sayang, aku sangat menginginkanmu" bisik Gide di telinga Rachel, membuat bulu kuduk wanita hamil itu spontan berdiri.
"Eumpphhhh" Rachel yang sudah tidak memiliki daya lagi untuk menolak sang suami yang mengecupnya secara bertubi-tubi hanya bisa melenguh dan pasrah.
Dengan lembut Gide mengangkat tubuh mungil Rachel layaknya sepasang pengantin baru yang hendak berbulan madu dan meletakkannya secara perlahan di atas tempat tidur. Setelah melihat posisi sang istri sudah cukup nyaman, Gide pun kemudian memposisikan dirinya di atas tubuh sang istri dan menghimpitnya hingga tidak ada jarak sama sekali antara mereka berdua. Suasana romantis membuat keduanya sangat larut dalam sensasi sentuhan yang saling memberi dan menerima.
"Kakkk ahhhhh" Rachel melenguh ketika tangan Gide bergrilya menelusup dibalik pakaian tidur milik Rachel dan bermain di tempat yang paling kenyal itu.
"Sayang, aku sangat menginginkanmu" Gide benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Rachel lebih jauh lagi.
"Ahhhhhh" hanya ada lenguhan yang keluar dari mulut Rachel saat sang suami memainkan aset berharganya yang kembar dan kenyal di dalam mulutnya. Tanpa sadar ia menekan kepala Gide seperti sedang memberi kode kepada suaminya untuk bertindak lebih dalam lagi.
Setelah mendengarkan nasehat dari Gaby dan Sera saat sedang berada di mall tadi siang, Rachel pun akhirnya menyadari bahwa hati kecilnya tidak menginginkan adanya sebuah perceraian di dalam pernikahan mereka. Oleh sebab itu Rachel memutuskan untuk belajar menerima Gide, meskipun saat ini di dalam hatinya memang belum ada cinta untuk suaminya itu, namun ia bertekad untuk memupuknya secara perlahan.
"Rach, apakah aku boleh?" Gide yang sudah diliputi oleh kabut asmara bertanya dengan sendu. Sementara Rachel yang sudah pasrah hanya bisa menganggukan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
"Terima kasih sayang" Gide mengecup kembali bibir sang istri. Perlahan tapi pasti Gide melucuti semua yang dipakai oleh dirinya dan juga Rachel. Tangannya pun sudah tidak bisa terkondisikan lagi dan bergrilya di daerah yang sangat sensitif.
"Kakkkkkk ahhhhh" Rachel bergelinjang semakin tak karuan.
KRINGGGGG...
Tiba-tiba ponsel Gide yang berada di atas nakas berbunyi dan menunjukkan nama Putri1 melakukan panggilan.
"Kak telponmu berbunyi" Rachel memberitahu Gide yang masih sibuk mengeksplor tubuh polosnya dan tidak peduli dengan panggilan itu.
"Biarkan saja sayang, kita lanjut saja" Gide tidak menghiraukan dering ponselnya.
"Sayanggggg" Gide yang sudah kepalang tanggung merasa terusik, namun Rachel tetap memakasanya mengangkat telpon itu.
"Angkat dulu!" Rachel memberi titah, membuat Gide tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkatnya.
"Halo ada apa menelponku?" Dengan berat hati Gide menerimanya.
__ADS_1
"Kak kami punya rencana baru!" Raf dan Rich yang ada di sebrang telpon berbicara secara bersamaan dengan semangat.
"Besok saja, aku sekarang sedang tanggung bersama istriku!" Gide yang merasa terganggu oleh panggilan dari kedua adik iparnya tidak mau banyak berbicara.
"Apa kalian sedang melakukan itu?" Raf dan Rich yang mendengar perkataan Gide langsung cekikikan geli membayangkan mereka melakukannya.
"Iya, dan kalian mengganggu kami!" Gide langsung menutup telponnya tanpa basa-basi.
"Ayo sayang" Gide kembali menatap Rachel dengan penuh damba. Ia yang sudah tidak sabar ingin merasakan nikmatnya surga dunia bersama sang istri langsung melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
"Loh kok!?" ia ternganga saat melihat sang istri sudah berpakaian lengkap kembali dan bersiap untuk tidur.
"Sayang kita tidak jadi?" Gide menatap kecewa ke arah Rachel.
"Tidak, aku ingin tidur saja!" Rachel yang tadi secara tidak sengaja melihat nama sang penelpon adalah Putri1 menjadi kesal sendiri. Ia kemudian langsung memakai semua pakaiannya kembali dan menarik selimut sampai ke dada karena moodnya sudah terlanjur buruk.
"Sayang!?" Gide hanya bisa gigit jari dan mengutuki kedua adik iparnya yang mengganggu aktivitas perdananya saat mereka sedang setengah jalan menuju puncak kenikmatan. Dengan terpaksa ia pun harus melepaskan semua hasratnya di dalam kamar mandi seorang diri.
__ADS_1
"Huffff sialnya aku!" Gide mendengus dengan kesal.