Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Seperti Zombie


__ADS_3

Setelah drama ngidam makan-makanan aneh dan tidak suka jika didekati oleh sang suami selama beberapa waktu lalu sudah berhenti, kini gejala ngidam baru pun kembali muncul dan membuat Gide nyaris sama frustasinya. Saat ini Rachel selalu merasa lapar dan minta dibuatkan makanan setiap tengah malam tiba. Meskipun Rachel tidak meminta secara spesifik menu yang akan dimakannya, namun karena Rachel selalu ingin Gide yang memasak, maka mau tidak mau laki-laki itu harus begadang setiap malamnya.


"Sayang aku lapar" Rachel kembali terbangun ditengah malam dan mengguncang tubuh sang suami yang sedang terlelap di sebelahnya.


"Emmmmmm ada apa?" Gide yang masih di alam bawah sadarnya bertanya sambil mengerjapkan mata.


"Aku lapar, ingin makan" Rachel merajuk.


"Kau mau makan apa hemmm?" meskipun sangat mengantuk dan lelah karena sepanjang hari bekerja di kantor, namun Gide tetap berusaha terjaga demi istri dan anaknya.


"Nasi goreng saja biar kau tidak kerepotan" jawab Rachel.


"Baiklah, kau tunggu di sini ya, aku akan buatkan dulu" Gide langsung berdiri dari tempat tidurnya.


"Aku ikut" Rachel spontan ikut berdiri.


"Hati-hati, pelan-pelan saja berdirinya" Gide merasa ngeri melihat sang istri yang bergitu berenergi.

__ADS_1


"Iya maaf heheheh" sementara Rachel hanya terkekeh melihat ekspresi suaminya.


"Ayo" Gide pun menuntun sang istri menuju dapur.


"Papa kalau lagi masak makanan buat kita ganteng banget ya nak" Rachel berbicara kepada bayinya sambil menatap penuh cinta kepada sang suami.


"Jadi papa gantengnya kalau pas masak doang? kalo lagi gak masak gak ganteng gitu ma?" Gide yang sudah selesai memasak nasi gorengnya protes sambil menata masakannya di atas piring.


"Loh siapa bilang, kan tadi mama bilang kalau lagi masak papa ganteng banget, jadi kalau gak lagi masak ya tetep ganteng dong!" Rachel meluruskan persepsi Gide.


"Papanya siapa dulu!" setelah meletakkan nasi gorengnya di mini bar tepat di depan Rachel, Gide kemudian mengecup lembut perut sang istri untuk menyapa anak mereka.


"Sama-sama, makan yang kenyang ya sayang" jawabnya sambil duduk sejajar dengan sang istri dan kembali fokus kepada perut Rachel. Meskipun rasa kantuk begitu mendera, namun Gide tetap menahannya sampai sang istri selesai makan dan kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur malam mereka.


..........


"Kenapa matamu semakin hari semakin hitam dan berkantung sih? seperti zombie saja!" Gamal heran dengan kondisi sang adik belakangan ini.

__ADS_1


"Beberapa hari ini Rachel selalu begadang tengah malam karena kelaparan" jawab Gide dengan lesu.


"Jadi ngidamnya berubah lagi?" Dimas mengernyitkan dahinya.


"Begitulah kira-kira hufffff" ia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Apa dia masih minta yang aneh-aneh seperti waktu itu?" Gamal penasaran.


"Tidak sih, dia tidak minta yang aneh-aneh, tapi dia hanya mau makan makanan buatanku saja, jadi terpaksa setiap malam aku harus bangun hanya untuk memasakkan makanan untuk dia makan pada dini hari" Rasanya mata Gide sudah tinggal lima watt saja.


"Apa Rachel doyan masakanmu? apa dia tidak takut keracunan makanan buatanmu?" Gamal menggoda sang adik.


"Sialan, masakanku enak tau!" Gide yang dihina oleh sang kakak merasa kesal.


"Yang sabar ya bro, wanita hamil memang sulit ditebak, kita diam salah, banyak tingkah pun lebih salah, jadi jalan satu-satunya memang lebih baik kita menuruti semua kemauannya biar hidup kita tetap aman dan tentu saja jadi lancar dapat jatahnya!" Dimas menepuk bahu Gide untuk memberikan penguatan.


"Iya, kau benar" Gide merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerja Dimas sambil memejamkan mata yang sangat berat.

__ADS_1


"Kau sekarang lebih baik istirahat saja, urusan survey lapangan siang ini biar aku dan Gamal yang mengurus" Dimas kemudian mengajak Gamal keluar dari ruangannya agar Gide bisa beristirahat sejenak. Sementara yang ditinggalkan hanya diam saja tak bergeming karena sudah sangat merasa ngantuk dan lelah.


__ADS_2