
"Selamat pagi" Gide menyapa sang istri yang baru saja membuka mata.
"Kakak belum siap-siap berangkat kerja?" Rachel menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Aku hari ini tidak bekerja" jawab Gide dengan cepat.
"Loh kenapa? memangnya kantor sedang libur?" Rachel merasa aneh, karena setau dirinya Gide adalah pria yang sangat rajin. Suaminya itu selalu bagun di pagi hari untuk bergegas berangkat kerja, bahkan sebelum Rachel bangun.
"Karena hari ini aku ingin menghabiskan waktuku hanya untuk istri dan anakku saja" katanya sambil menarik pinggang Rachel ke dalam rengkuhannya dan mengelus perut rata sang istri.
"Jadi maksudnya hari ini kakak ingin bolos bekerja?" Rachel sangat takjub dengan sikap aneh suaminya itu.
"He em, aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu sayang" kini tangan Gide sudah mulai tidak bisa dikondisikan. Mengingat semalam mereka baru stengah jalan, maka Gide bertekad bahwa pagi ini misi mulianya harus berhasil. Ia bahkan rela bolos kerja hanya untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda akibat ulah kedua adik iparnya.
"Kak kondisikan tanganmu!" Rachel protes karena sang suami sudah membuatnya kegelian.
"Tidak bisa, aku sangat merindukanmu sayang" suara Gide terdengar begitu parau karena hasratnya sudah sangat membuncah.
"Tapi aku tidak!" Rachel yang masih merasa terusik dengan panggilan telpon dari Putri di tengah-tengah aktivitas panas mereka semalam akhirnya memilih untuk menolak bujuk rayu sang suami. Meskipun ia percaya bahwa Gide adalah pria baik-baik dan tidak akan berselingkuh, namun melihat betapa Putri sangat agresif dan sering menelpon Gide di malam hari tanpa mengenal waktu, maka rasa kesalnya seperti tidak dapat terbendung sama sekali.
__ADS_1
"Sayang apa kau tega melihatku merana begini?" Gide memasang tampang memelas.
"Minta saja sana sama sekertaris kakak yang sangat perhatian itu!" bukannya merasa iba dengan hasrat yang sudah tidak bisa dibendung lagi oleh suaminya, Rachel malah semakin tersulut api cemburu.
"Hahahahaha, apa kau masih cemburu dengan Putri? bukankah sudah aku jelaskan kalau kami bekerja sangat profesional?" Gide tergelak karena tidak percaya kalau istrinya ternyata adalah seorang yang pencemburu.
"Tidak, siapa yang bilang kalau aku cemburu?" Rachel membalikkan badannya dan memunggungi Gide.
"Kalau tidak cemburu, lalu apa namanya?" Gide yang dipunggungi malah semakin menggoda Rachel dengan menempelkan bagian yang sudah siap tempur ke tubuh istrinya.
"Ihhh lepaskan, dasar kakak mesum!" Rachel yang merasakan sesuatu sudah mengeras pada tubuh suaminya menjadi salah tingkah.
"Ahhhhh kakkkkkk" secara logika Rachel ingin sekali memberontak dan melepaskan rengkuhan sang suami, namun tubuhnya malah menginginkan yang sebaliknya. Ia hanya bisa melenguh dan bergelinjang ketika Gide semakin gencar bergerilya ditubuhnya.
"Aku sangat menyayangimu Rach" Gide meracau ditelinga sang istri, membuat sang empunya meremang kegelian.
Perlahan tapi pasti Gide membalikkan tubuh Rachel hingga terlentang dan kemudian ia pun menghimpitnya. Dengan lembut Gide mengecup setiap inci wajah istrinya hingga akhirnya bermuara di bibir manis yang sudah menjadi candunya itu. Tangannya yang sudah tidak bisa terkondisikan pun bergerak dengan lincah melucuti setiap helai pakaian dari tubuh mereka berdua hingga polos.
"Ahhhhhhh" Rachel bergetar saat kecupan Gide mulai bergeser ke bawah dan berakhir di tempat kenyalnya yang kembar serta meninggalkan jejak-jejak cinta disana. Sensasi nikmat yang diciptakan oleh sang suami membuat Rachel melupakan rasa cemburunya untuk sesaat. Tanpa sadar ia malah meremas rambut dan menekan kepala Gide agar lebih dalam lagi menempel di dadanya.
__ADS_1
"Kakkkkkkk" Rachel pun memekik ketika Gide meneroboskan jarinya masuk ke area yang sangat sensitif di bawah sana.
"Rach please?" kini Gide menatap wajah istrinya untuk meminta persetujuan.
"Kakkkkkkk" Rachel tidak bisa menjawab apapun, ia hanya memanggil Gide dengan suara yang sudah pasrah sepenuhnya.
Melihat sang istri tidak ada perlawanan sedikit pun Gide kemudian mulai memasukinya dengan perlahan.
"Awwwww" Rachel meringis kesakitan.
"Tahan sedikit ya sayang, aku akan melakukannya dengan lembut agar kau tidak terlalu merasa sakit" kata Gide.
Meskipun ini adalah kali kedua mereka melakukan hubungan, namun Rachel memang cukup sempit, butuh sedikit perjuangan bagi Gide untuk bisa menembus hingga batas ujungnya. Perlahan tapi pasti Gide bergerak-gerak dengan ritme yang sangat lembut. Meskipun pada awalnya Rachel merasakan sakit, namun dengan perlakuan Gide yang lembut, akhirnya Rachel pun bisa sangat menikmati permainan mereka.
"Kakkkkk aku tidak bisa tahan lagiiiiii" Berkali-kali Gide membawa Rachel terbang ke langit ke tujuh dengan getaran yang luar biasa.
"Rachhhhh aku hampir ahhhhhhh" Gide bergetar dengan hebat saat berada di puncak.
"Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu Rach" Gide mengecup lembut bibir Rachel.
__ADS_1
Peluh yang bercucuran membasahi tubuh keduanya, mengisyaratkan bahwa mereka telah begitu bekerja keras untuk mencapai puncak surga dunia. Setelah beberapa jam bertempur, akhirnya mereka pun beristirahat dengan saling berpelukan.