
"Kemana mereka? kok sepi sekali sih?" Gide dan Rachel yang sudah tiba di villa mendapati bahwa tempat itu kosong bak tak berpenghuni.
"Coba aku cek ke kamar mereka" Rachel kemudian naik ke atas.
"Bagaimana?" tanya Gide saat melihat Rachel turun sendirian.
"Tidak ada" Rachel kecewa.
"Ya sudah kita pulang saja yuk, yang penting kan kopernya sudah sampai" Gide memberi usul.
"Tapi kak, aku lapar" Rachel menatap meja makan yang sudah tertata rapi dengan berbagai jenis makanan mewah di atasnya.
"Ini kan punya pengantin baru, kalau kita makan bagaimana nasib mereka?" Gide ragu-ragu.
"Siapa suruh mereka merepotkan kita kesini? ya itung-itung ini bayarannya lah, makanan mewah buat kita sang kurir" Rachel langsung duduk dan mulai menyantap makan malamnya.
"Kakak tidak mau?" Rachel mengiming-iming.
"Baiklah, kau benar anggap saja ini upah kita sebagai kurir" Gide akhirnya ikut melahap makan malam mewah itu.
"Ahhh anggurnya luar biasa nikmat ya, pasti ini anggur mahal" Rachel meneguk red wine yang tersaji.
"Kau benar, luar biasa" Gide pun ketagihan.
Mereka berdua makan dan minum dengan lahap tanpa menyisakan sama sekali makan malamnya bagi kedua pengantin yang sedang berjalan-jalan menyusuri pantai.
__ADS_1
"Kak, aku kepanasan" Rachel mulai berkeringat.
"Aku juga Rach" Gide merasa suhu tubuhnya naik.
"Apakah anggur itu yang bikin kita jadi seperti ini?" Rachel mulai gelisah.
"Sepertinya begitu" Gide melepas jas yang ia kenakan dan melemparnya dengan sembarangan.
"Kak, tolong aku, aku tidak kuat berjalan" Rachel memegang tangan Gide agar bisa memapahnya ke kursi di ruang keluarga.
"Rach, bagaimana kalau kau istirahat di kamar saja, ayo aku antar" Gide kemudian merangkul tangan Rachel di bahunya dan mereka menaiki tangga dengan sempoyongan.
"Kak, aku tidak bisa tahan, ada apa dengan tubuhku" Rachel bergelinjang saat merasa gejolak dalam dirinya tak terbendung lagi.
"Rach, kau baik-baik saja kan?" Gide sesungguhnya juga merasakan hal yang sama, namun ia berusaha bertahan dan memakai akal sehatnya dengan baik.
"Kak, eughhhh, aku tidak tahan lagi kak" Rachel terus saja bergelinjang, kakinya tidak bisa diam dan terus membuat sesuatu memberontak dibagian bawah Gide.
"Rach, sadarlah ayo buka matamu" Gide menepuk pipi Rachel.
"Kakkkk" alih-alih sadar, Rachel malah memagut bibir Gide dengan ganas.
Mereka tidak bisa lagi mengendalikan diri dengan baik. Gide yang awalnya berusaha sadarpun akhirnya menyerah karena gerakan-gerakan yang dilakukan Rachel membuat bagian bawah tubuhnya benar-benar meronta ingin dimanjakan. Setelah semua terlepas dari tubuh masing-masing, mereka pun kemudian menyatu.
"Eughhhhh, kakkkkk, ahhhhhh, ishhhhhh" Rachel mengerang saat Gide menghujamnya berkali-kali dan membuatnya terbang melayang.
__ADS_1
"Rach aku sudah tidak tahan lagi, ahhhhhh, nooooo,,, eughhhhhh akuuuuu keluarrrrrr" Gide menegang saat berada di puncaknya.
Mereka yang kelelahan dan terpengaruh oleh entah apa itu, akhirnya tidak sadarkan diri dalam keadaan yang polos.
..........
"Sayang, sudah malam, ayo kita kembali ke villa untuk makan malam, mungkin saja Gide juga sudah datang" Gamal membujuk sang istri yang masih sangat betah berlama-lama menikmati pemandangan pantai yang begitu menawan dengan diterangi oleh lampu-lampu taman yang indah.
"Baiklah, tapi besok malam aku mau lagi ya?" Sera merajuk.
"Iya, besok kita kesini lagi" Gamal merangkul sang istri dan menggiringnya agar segera masuk.
"Loh kok meja makannya berantakan?" Sera terbengong-bengong.
"Bukankah ini jas milik Gide? apa anak itu yang memakannya?" Gamal curiga.
"Mungkin dia sudah tidur?" Sera menatap snag suami.
"Ayo kita cek" Gamal menarik tangan Sera dan naik ke atas.
"Tidak ada orang di kamar tamu" Gamal heran dengan keberadaan adiknya itu.
"Mungkin kah dia ada di kamar kita?" Sera menebak-nebak.
"Coba ayo lihat" Gamal kembali menarik tangan sang istri menuju kamar mereka.
__ADS_1
Ceklek,
"Astaga!" Sera terkejut dan menutup mulutnya menyaksikan pemandangan mengerikan di dalam kamar.