
Hari-hari berjalan begitu cepat, sudah satu minggu sejak Rachel pulang ke rumah utama dan tinggal bersama dengan keluarga besarnya. Kondisi fisik dan psikis Rachel pun sudah semakin baik.
"Sayang" bibir Rachel mendarat sempurna di ceruk leher Gide yang sedang duduk di sofa kamar mereka sambil mengecek beberapa dokumen penting melalui ponsel yang akan dipakai dalam rapat besok pagi dengan investor.
"Hemmm?" Gide merasa bahwa istrinya mulai memberi kode ingin meminta jatah. Memang jika dihitung sejak dari mereka keluar rumah sakit, hari ini mereka sudah diijinkan oleh dokter untuk melakukan hubungan kembali.
"Kangen" Rachel merengek semakin menjadi-jadi.
"Kau ini kenapa sekarang jadi semakin nakal sekali sih?" tanpa menunggu lama Gide langsung meraih tubuh sang istri ke dalam pelukannya dan memagut bibir mungil itu dengan rakus.
"Ahhhhh" Rachel melenguh manja saat tangan Gide menelusup dibalik baju tidurnya dan menangkap salah satu benda kenyal yang bertengger cantik di dadanya itu.
"Aku juga sangat merindukan suaramu itu" Gide kemudian menggigit gemas leher Rachel dan meninggalkan banyak jejak cinta disana saat sang istri melenguh. Sesungguhnya sudah sejak lama Gide pun merindukan tubuh sang istri. Meskipun setiap hari Rachel selalu memberikan pelayanan satu arah, namun rasanya tetap berbeda dengan hubungan yang sesungguhnya.
"Sayangggggg" Rachel semakin meremang saat tangan dan bibir sang suami semakin aktif bergrilya di tubuhnya. Bagi Rachel melakukan aktivitas seperti ini adalah sebuah terapi manjur yang bisa membantunya keluar dari rasa stress. Meskipun ia hanya melayani tanpa dilayani balik karena kondisi fisiknya memang belum siap, namun perasaan puas bercampur bahagia selalu muncul saat ia melihat suaminya menegang dan terkulai lemas akibat ulahnya.
"Apa kau sudah siap?" Gide bertanya sebelum ia benar-benar bekerja keras menyatukan diri dengan sang istri.
"He em, aku sangat siap" Rachel mengangguk pasrah dengan wajah yang sudah tidak tahan.
"Baiklah, as you wish" kemudian Gide menggendong sang istri ke tempat tidur. Dengan cekatan ia melucuti semua atribut dari tubuh mereka dan memulai aksinya.
__ADS_1
"Ahhhhhh sayangggggg" setelah satu minggu ia bekerja keras melayani suaminya, maka kali ini ia hanya ingin pasrah dan menyerahkan semua tugas ini kepada sang suami.
"Awwwwwww" Rachel tersentak geli saat Gide menelusupkan kepalanya diantara kakinya. Tanpa ampun Gide beraksi diarea sensitif itu. Lidahnya dengan lihai menari-nari dengan lincah membuat Rachel menggila.
"Sayang aku sudah tidak tahan lagi ahhhhhhh" sesuatu seperti meledak dan tumpah seketika, membuat Gide tersenyum melihat sang istri bergetar dan menegang dengan hebatnya.
"Ahhhhhhhh, sudah cukuppppp, aku tidak tahan lagi" Rachel menjepit kepala sang suami dengan kedua pahanya karena sensasi luar biasa yang dia alami.
"Aku masuk ya?" pria itu kemudian menghimpit tubuh istrinya dan menautkan bibir mereka dengan sangat rakus.
"He em" Rachel hanya bisa pasrah.
"Awhhhhhh" lenguhan kembali terdengar ketika Gide menghujamnya. Dengan sekali hentakan semua masuk dengan sempurna.
"Tidak, itu sangat enak, aku suka" Rachel sudah tidak sabar.
"Baiklah" mendengar pernyataan sang istri, maka Gide pun mulai melancarkan aksinya. Ia bergerak maju mundur dengan sangat teratur.
"Ahhhhh sayangggggg euuuuggggghhhh" Pompaan demi pompaan yang dilakukan Gide selalu bisa membuat Rachel meracau tak henti.
"Sayangggg ahhhhh,, sayangggg euggghhhhh akuuu sudahhhh ahhhhhh" lagi-lagi sesuatu tumpah dibawah sana. Sudah beberapa kali Rachel menegang dan mencapai puncak cintanya.
__ADS_1
"Sayang aku benar-benar tidak tahannnnn" Bukannya berhenti, Gide malah semakin menggila saat sang istri kembali pada puncaknya.
"Kita bersama ya" Gide kemudian mempercepat laju ritme gerakannya.
"Awwwwwwww" Rachel menjerit manja saat kembali berada di puncaknya.
"Arghhhhhhhhh" sepersekaian detik kemudian Gide pun tak kalah tegang saat tembakannya melesat hebat membentur dinding rahim sang istri.
"Terima kasih sayangku" Gide mengecup kening Rachel setelah pertempuran hebat itu terjadi.
"Aku sangat mencintaimu" katanya lagi sambil merebahkan diri di samping sang istri. Peluh tampak bercucuran di tubuh keduanya, membuktikan betapa hebatnya perjuangan mereka barusan.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang" jawab Rachel.
Tanpa menunggu lama, Gide langsung menarik lembut tubuh sang istri ke dalam pelukannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Apa kau lelah?" Gide bertanya sambil merapikan anak rambut yang menempel di wajah basah istrinya.
"Sangat, suamiku ini memang sangat jago kalau disuruh membuat istrinya lelah" Rachel menjawab.
"Siapa suruh kau mancing di air keruh hemmm?" Gide menggoda sang istri dengan meremas benda kenyalnya dengan gemas.
__ADS_1
"Ishhhh dasar kau ini!" Rachel memukul dada bidang sang suami dengan manja, membuat yang dipukul tergelak.
Sejak saat itu mereka berdua merasa sangat bahagia karena sudah bisa kembali beraktivitas layaknya suami istri pada umumnya. Meskipun duka masih menyelimuti Gide dan Rachel akibat kehilangan anaknya, namun rasa optimis jika Rachel bisa kembali hamil membuat mereka semangat membuat anak setiap hari.