
"Ayo" Gide menuntun Rachel turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah baru mereka sebagai hadiah pernikahan dari Ron.
"Terima kasih kak" Rachel tersenyum kepada Gide.
"Kau mau duduk di ruang keluarga dulu atau mau langsung ke kamar?" Gide menengok ke arah sang istri.
"Langsung ke kamar saja kak" jawab wanita yang sedang hamil muda itu.
"Baiklah, ayo kalau begitu" Gide memapah Rachel menuju kamar utama yang nantinya akan menjadi kamar mereka berdua.
"Aku bisa jalan sendiri kok kak" Rachel agak risih saat Gide terlalu over protect terhadap dirinya.
"Tidak apa-apa, aku senang kok melakukannya" senyum pria tampan itu mengembang dengan sangat tulus.
Meskipun Gide tau bahwa sekarang kondisi Rachel sudah jauh lebih baik, namun ia tetap ingin memberikan yang terbaik bagi wanita muda yang kini sudah sah menjadi istrinya dan sedang mengandung anak mereka itu.
"Istirahatlah dulu, aku akan meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk kita" setelah tiba di kamar, Gide kemudian mengarahkan Rachel duduk di tempat tidur yang super besar dan mewah.
"He em" Rachel hanya mengangguk mengikuti semua arahan Gide.
"Aku turun dulu ya ke bawah" Gide ingin menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh Rachel selama di kamar agar ia tidak perlu bolak balik ke bawah.
"Iya kak" jawab Rachel sambil tersenyum.
__ADS_1
Meskipun ia tidak mencintai Gide layaknya istri mencintai suaminya, namun pada kenyataannya Rachel sangat menyayangi dan menghormati Gide sebagai figur kakak laki-laki yang sangat bertanggung jawab.
..........
"Kau sudah mandi?" Gide yang baru saja masuk ke dalam kamar mendapati Rachel yang sudah berganti pakaian tidur.
"Iya" jawab Rachel singkat.
"Aku sudah pesan kepada pelayan kalau kita akan makan di kamar saja agar kau tidak bolak balik naik turun tangga" kata Gide kepada sang istri.
"Kak, aku baik-baik saja kok, kakak tidak perlu repot-repot menyiapkan semuanya untuk aku" Rachel yang tidak nyaman karena Gide memperlakukannya bak seorang putri menjadi sungkan sendiri.
"Tidak apa-apa Rach, aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk istri dan anakku" Gide berkata dengan tulus yang sontak menyentil hati Rachel.
"Kenapa kakak begitu baik kepadaku? padahal selama ini aku selalu bertindak sebaliknya terhadap kakak?" Rachel tergelitik mencari tau bagaimana sesungguhnya perasaan Gide terhadap pernikahan mereka ini.
"Kak, maaf" mata Rachel tiba-tiba menggenang.
"Hey, kenapa?" Gide panik melihat istrinya bersedih secara tiba-tiba.
"Maaf karena aku selama ini tidak pernah membalas semua kebaikanmu padaku hiks hiks" air mata Rachel tak terbendung.
"Husssss, jangan begitu, aku paham kondisimu, ini pasti sangat berat kan? selama kau bisa menerimaku dan anakku di dalam kehidupanmu saat ini, aku sudah cukup bahagia, kita jalani saja dulu semua ini pelan-pelan, aku yakin nanti kita akan terbiasa dengan sendirinya" Gide mengelus kepala Rachel dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Terima kasih kak hiks hiks hiks" Rachel semakin terisak.
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, ini semua sudah kewajibanku, aku janji akan selalu membantumu jika kau memang membutuhkannya, jangan jadikan pernikahan kita dan kehamilanmu sebagai beban, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk mewujudkan semua impian masa mudamu meskipun saat ini kau tidak lagi seperti sebelumnya!" Gide memeluk Rachel dan mengelus punggung istrinya itu.
Tok tok tok,,,
"Tuan, makan malamnya sudah siap" seorang pelayan mengetuk pintu kamar.
"Bawa masuk" Gide membuka pintu kamarnya agar sang pelayan bisa menaruh makan malamnya ke dalam.
"Permisi nyonya" sang pelayan menyapa Rachel.
"Iya" Rachel berusaha tersenyum meskipun wajahnya masih sembab akibat menangis.
"Apa ada lagi yang dibutuhkan?" tanya sang pelayan.
"Tidak terima kasih" kata Gide.
"Kalau begitu saya permisi" kemudian sang pelayan pamit undur diri dari dalam kamar.
"Ayo kita makan" Gide menyodorkan sepiring nasi kehadapan Rachel.
"Terima kasih" Rachel menerimanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama" Gide membalas senyuman Rachel.
Malam itu mereka habiskan di dalam kamar sambil mengobrol ringan tentang rencana kuliah Rachel dan cita-citanya dimasa depan. Gide berusaha terus menghibur Rachel dan membesarkan hatinya agar tetap semangat menjalani hidup ditengah cobaan yang sedang mereka hadapi. Rachel yang bisa melihat ketulusan sang suami terhadap dirinya dan juga anak mereka, akhirnya bisa sedikit membuka hati. Meskipun ia belum menerima kehamilan serta pernikahannya, namun ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menerima Gide yang sudah sangat baik terhadap dirinya.