Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Om dan Keponakan


__ADS_3

"Kau sudah sehat?" Anjali memeluk Rachel yang baru saja tiba.


"Seperti yang kau lihat" Rachel tersenyum manis.


"Syukurlah kalau begitu" Anjali merasa senang melihat temannya sudah kembali sehat.


"Apa semuanya sudah siap?" dosen yang menjadi penanggung jawab kegiatan kunjungan bertanya kepada seluruh mahasiswa.


"Sudah pak" jawab seluruh mahasiswa serentak.


"Kalau begitu ayo kita jalan" mereka pun kemudian masuk ke dalam bus.


Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa lokasi yang dituju tidak sulit dijangkau dari kota dan waktu yang ditempuh pun tidak begitu lama. Setibanya di lokasi, seluruh mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok.


"Rachel, kita beda kelompok" Anjali berkata.


"Iya, ya sudah tidak apa-apa, kau hati-hati ya" Rachel langsung mengikuti petunjuk dari ranger hutan yang memandunya.


"Oke" Anjali pun kemudian berjalan bersama kelompoknya sendiri.


"Baiklah sebelum kita berangkat saya ingin memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Andika saya adalah ranger hutan yang bertugas melindungi hutan. Saya akan menjadi pemandu kalian sampai acara selesai nanti, jadi saya mohon kita bisa bekerja sama dengan baik. Saat ini kita akan masuk sedikit ke dalam hutan, namun kita akan tetap berada di jalur utama dan jaraknya hanya sekitar tiga kilometer saja dari sini. Disana nanti kita akan melihat penangkaran hewan langka yang saat ini habitatnya hampir punah. Saya harap teman-teman semua mempersiapkan diri dengan baik, karena di dalam hutan itu medannya mungkin agak sedikit tidak bagus" kata sang ranger yang memandu.


Tanpa menunggu lama, semua peserta langsung berjalan mengikuti arahan sang ranger.


"Apakah ada yang sedang sakit atau tidak enak badan?" tanya ranger yang memimpin kelompok Rachel.


"Rachel kak, dia baru saja jatuh dari tangga beberapa minggu lalu" jawab seorang mahasiswa.


"Rachel yang mana ya?" tanyanya lagi.


"Saya kak" sambil mengacungkan jari telunjukknya.


"Oh kamu, kalau begitu sini biar saya bantu bawa barang-barang kamu" sang ranger yang bernama Andika mengambil tas ransel milik Rachel.


"Terima kasih" Rachel tersenyum.


"Sama-sama" jawab Andika sambil membalas senyumannya.


Sepanjang perjalanan sang Ranger pun mengawasi Rachel dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.


"Apa ada keluhan?" tanyanya kepada Rachel.


"Ah tidak kak, saya baik baik saja" Rachel memang tidak memiliki keluhan.


"Kalau merasa tidak enak badan kau harus bilang ya, karena perjalanannya cukup berat" kata Andika.


"Iya kak" Rachel mengangguk.


Melihat Rachel tidak mengeluh sedikit pun meski baru saja sembuh dari sakit, sang ranger jadi merasa kagum. Menurutnya selain ramah dan sopan, Rachel juga sangat memiliki jiwa petualang yang tinggi. Obrolan ringan seputar perkuliahan, hobi dan kondisi hutan pun akhirnya tercipta diantara keduanya.


"Fisikmu ternyata cukup kuat juga ya?" kata Andika kepada Rachel.


"Iya kak, lumayan hehehe" Rachel terkekeh.


"Apa kau suka olahraga?" tanyanya penasaran.


"Saya suka ngedance kak, jadi memang biasa aktivitas fisik" jawab Rachel.


"Ohhhh pantas saja" sambil mengangguk.


Obrolan terus berlangsung seru sampai mereka tiba di penangkaran.

__ADS_1


"Oke, sekarang silahkan kalian melakukan observasi, saya akan menyerahkan kepada dokter yang bertugas di sini" sang ranger kemudian menyingkir sementara waktu.


..........


"Bagaimana tadi?" Andika bertanya kepada Rachel saat mereka hendak kembali ke pos awal.


"Menyenangkan, aku sangat suka melihat bagaimana para dokter itu menangani hewan-hewan disini seperti anak sendiri" Rachel bersemangat menceritakan pengalamannya, membuat sang ranger semakin kagum.


"Aku senang kalau kau senang" katanya sambil menatap Rachel dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Iya, sangat senang heheheheh" Rachel mulai merasa memiliki teman baru.


"Baiklah ayo semua, kita kembali ke pos depan" setelah memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dan juga barang-barang bawaan aman, mereka pun kembali ke titik awal.


Seperti sebelumnya, Rachel dan sang ranger mengobrol dengan serunya.


"Awwwww" Rachel tanpa sengaja terpeleset saat menginjak anak tangga yang berlumut tebal.


"Hati-hati" sang Ranger dengan sigap menangkap tubuh Rachel.


"Terima kasih" sepersekian detik Rachel langsung menyeimbangkan diri.


"Sama-sama" jawab Andika dengan degup jantung yang kencang karena wajahnya berhadapan begitu dekat dengan wajah cantik Rachel.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Andika sang ranger sambil melihat kaki Rachel.


"Iya tidak apa-apa kok" jawabnya jujur.


"Syukurlah" ia tersenyum.


"Ayo kita lanjut lagi" kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan bersama kelompoknya.


Setibanya di pos awal, Rachel melihat sosok Gide sedang duduk di depan pos sambil menyeruput teh hangat dan jagung rebus. Dengan spontan ia langsung menghampiri pria tampan itu.


"He em" Gide mengembangkan senyumnya.


"Maaf ya membuatmu menunggu" Rachel merasa tidak tega melihat suaminya sejak pagi hanya duduk diam menunggunya.


"Tidak, aku tadi sempat mengerjakan pekerjaan kantor secara online kok, hanya saja sudah selesai sejak setengah jam yang lalu" jawab Gide sambil menunjuk laptopnya yang ada dimeja.


"Ohhhhh" Rachel ber oh ria.


"Rachel, ini tasmu" Andika yang baru selesai melakukan laporan ke atasannya menghampiri Rachel.


"Terima kasih kak" Rachel tersenyum sambil mengambil tasnya.


"Ini siapa?" Gide bertanya kepada Rachel.


"Oh ini kak Andika, ranger hutan disini, tadi kak Andika membantuku membawakan tasku karena aku baru sembuh dari sakit" Rachel menjelaskan.


"Halo Om, saya Andika" sambil mengulurkan tangan.


"Saya Gide, terima kasih ya atas bantuannya, maaf kalau Rachel merepotkan" jawab Gide sambil tersenyum.


"Sama-sama Om, tidak kok Rachel sangat hebat, dia sangat kuat meskipun baru sembuh" Andika berusaha menunjukkan sikap ramahnya.


"Syukurlah kalau begitu" Gide tersenyum.


"Oya, acaranya mau ditutup, ayo kita kembali dulu sebentar" sang Ranger mengajak Rachel kembali.


"Oh iya, baiklah" Rachel mengangguk ke arah Andika.

__ADS_1


"Aku kesana dulu ya, nanti aku kembali lagi" Rachel berpamitan kepada sang suami.


"Iya, baiklah" Gide mengelus kepala Rachel dengan lembut.


"Mari Om" Andika berpamitan dan dijawab dengan anggukan oleh Gide.


"Ngomong-ngomong itu om kamu sayang banget ya sama kamu" Andika menyangka jika Gide adalah om nya Rachel.


"Dia suami aku kak" Rachel terkejut saat Andika mengira Gide adalah om nya.


"Hah serius? aku kira dia om kamu!" Andika tampak tidak percaya.


"Jarak usia kami memang cukup jauh, tapi kami saling mencintai kok hehehe" Rachel terkekeh.


"Duh maaf ya, aku kira kamu masih single" kata Andika sungkan.


"Tidak apa-apa kak, santai saja" Rachel berkata sambil mengulum senyumnya.


Setelah mengetahui bahwa Rachel sudah bersuami, Andika pun urung untuk meminta nomer ponsel Rachel. Secara perlahan pria itu pun akhirnya menjauh dari Rachel hingga acara selesai.


..........


"Ayo sayang kita pulang" Rachel yang sudah pamit kepada sang dosen dan teman-temannya, akhirnya pulang bersama dengan Gide menggunakan mobil pribadi mereka.


"Hemmm" jawab Gide dengan datar.


"Sayang kau kenapa?" Rachel merasa aneh saat melihat Gide yang hanya diam seribu bahasa sepanjang perjalanan pulang.


"Tidak apa-apa" jawab Gide sekenanya.


"Tidak mungkin, kalau tidak apa-apa kenapa kau diam saja sejak tadi?" Rachel tidak yakin dengan jawaban suaminya.


"Apa kau suka denga ranger tadi?" Gide akhirnya bertanya.


"Siapa? kak Andika?" Rachel sudah mulai paham.


"Hemmmm" Gide menjawab dengan malas.


"Apa kau sedang cemburu padanya?" Rachel malah menggoda.


"Tentu saja, dia tadi kan berusaha menggodamu, mana pake acara memanggil aku om segala lagi, memangnya dia pikir aku om mu?" Gide mulai menumpahkan kekesalannya.


"Duhhhh yang cemburu" Rachel menusuk-nusukkan jarinya ke pipi Gide.


"Menyebalkan!" Gide mendengus.


"Sayang, kau kalau lagi cemburu kenapa semakin ganteng sih? aku jadi gemas deh" Rachel mengulum senyumnya melihat tingkah sang suami yang kekanak-kanakan.


"Tau ah, sebel!" Gide makin bete.


"Sayang jangan marah dong, meskipun tadi dia menyangkamu adalah om ku, karena jarak usia kita jauh berbeda, tapi bagiku kau tetap suami yang paling tampan dan rupawan" Rachel menyandarkan kepalanya di bahu Gide yang sedang menyetir mobil.


"Gombal!" Gide masih merajuk.


"Ihhhh kok gak percaya sih?" Rachel menepuk lengan suaminya.


"Ck" Gide hanya berdecak.


"Suamiku, tampanku, belahan jiwaku, jangan ngambek donggggg" Rachel terus saja merayu suaminya, membuat yang dirayu menjadi luluh.


"Nanti sampai di rumah aku akan menghukummu!" Gide melirik ke arah sang istri dengan tatapan jahilnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku pasrah kok dihukum apa saja olehmu" Rachel mengodanya dengan sangan manja.


Akhirnya Gide pun luluh dengan rayuan maut sang istri. Setibanya di rumah utama, Gide tanpa basa basi langsung melancarkan hukumannya kepada sang istri. Sementara yang dihukum pun hanya bisa pasrah menerima hukumannya itu.


__ADS_2