
"Sayang kau sudah bangun?" Gide mencium pipi sang istri yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton TV.
"Ck, sana jauh-jauh!" Rachel mendorong tubuh sang suami agar tidak mendekat.
"Sayang, kau kenapa?" Gide terkejut dengan reaksi istrinya.
"Kau dari mana saja? aku dari tadi menunggumu, tapi kau malah tidak pulang-pulang!" wanita itu merajuk.
"Loh tadi aku kan sudah pamit mau ke rumah mama dan papa sebentar" Gide membela diri.
"Kenapa lama sekali!" omelnya dengan wajah ditekuk.
"Masa sih, aku tadi berangkat jam sembilan, sekarang baru jam sepuluh kurang, artinya tidak ada satu jam aku pergi, lagian kan tadi kau lagi tidur, jadi aku pikir kalau aku keluar sebentar tidak masalah" Gide menghitung waktu kepergiannya.
"Terus saja menjawab, membela diri terus!" Rachel berdiri dari sofa dan meninggalkan suaminya begitu saja.
"Loh sayang kok marah? aku kan hanya berkata yang sebenarnya!" Gide dibuat kelabakan dengan sikap sang istri yang benar-benar sulit ditebak belakangan ini.
BRAK...
Pintu kamar tertutup dengan sempurna tepat ketika Gide berdiri di depannya.
Tok Tok Tok....
__ADS_1
"Sayang, buka pintunya dong, aku mau masuk" Gide yang dikuncikan oleh sang istri dari dalam kamar mencoba membujuknya.
"Pergi lagi saja sana, tidak usah pulang sekalian!" Rachel berteriak dari dalam kamar.
"Sayang jangan begitu donggg, plisss buka pintunya" Gide mengiba, namun yang di dalam kamar tetap tidak bereaksi sama sekali.
"Duuuhhhhh kenapa lagi sih dia, salah makan apa sih!?" pria itu mengusap wajahnya dengan frustasi karena sang istri benar-benar tidak mau membukakan pintu kamarnya.
..........
"Hey kenapa wajahmu lesu begitu hah?" Dimas menatap wajah Gide yang seperti zombie karena kurang tidur akibat stress memikirkan perubahan sikap sang istri yang sungguh diluar dugaannya.
"Biar aku tebak, pasti kau tidak dapat jatah dari istrimu kan?" wajah Gamal terlihat begitu usil.
"Rachel berubah!" jawabnya lesu.
"Belakangan ini dia bersikap sangat aneh!" kemudian Gide menceritakan secara detail setiap perubahan sikap sang istri kepada kedua kakak laki-lakinya itu.
"Apa kau sudah periksakan ke dokter?" Dimas bertanya dengan serius.
"Kemarin mama juga menyarankan aku untuk membawa Rachel ke dokter. Apa sebegitu seriusnya sampai harus dibawa ke dokter segala? memangnya kalau orang berubah sikap seperti itu, gejala sebuah penyakit ya? apa itu berbahaya? itu bisa disembuhkan oleh dokter tidak? perlu obat-obatan kah?" serangkaian pertanyaan dilontarkan Gide begitu saja dengan polosnya membuat kedua pria di depannya geleng-geleng.
"Kau itu memang benar-benar bodoh ya, gila bekerja ternyata bisa membuatmu jadi bodoh dalam hal urusan wanita!" Gamal mencibir.
__ADS_1
"Apa maksudmu!?" Gide kesal dengan ucapan sang kakak. Bukannya membantu memberikan solusi, Gamal malah mencibirnya.
"Coba kau bawa istrimu ke dokter, ceritakan seluruh gejalanya agar dokter bisa memberikan rangkaian tes yang cocok dan kemudian kau akan mendapatkan hasilnya!" meskipun Dimas sudah yakin dengan dugaannya, namun ia lebih memilih untuk mengarahkan Gide periksa ke dokter agar hasilnya lebih akurat.
"Memang sebenaranya kenapa sih Rachel itu?" Gide masih membutuhkan jawaban.
"Periksakan saja, nanti kau juga akan tau!" Dimas tetap memaksakan Gide periksa ke dokter, sementara Gamal hanya senyum-senyum saja melihat tingkah sang adik yang kebingungan setengah mati.
..........
"Bagaimana hasilnya dokter?" Gide bertanya kepada sang dokter yang baru saja selesai memeriksa sang istri.
Setelah melakukan segala macam cara agar sang istri mau diperiksa oleh dokter, akhirnya Gide dapat meluluhkan hati Rachel dan berhasil membujuknya serta membawanya ke rumah sakit.
"Selamat, tuan dan nyonya akan segera mempunyai momongan" sang dokter berkata dengan senyum yang terkembang.
"A, apa dok? istri saya hamil?" Gide tergagap.
"Iya tuan, nyonya sedang hamil, usianya sudah mencapai delapan minggu" angguk sang dokter.
"Sayang!?" Gide menatap wajah sang istri dengan penuh kebahagiaan, sementara yang ditatap hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apapun saking bahagiannya.
"Ini saya resepkan obat pereda mual, diminum jika nyonya membutuhkan saja. Kemudian ini vitamin untuk menunjang kesehatan ibu dan janinnya" kata sang dokter sambil menyodorkan resep obatnya.
__ADS_1
"Terima kasih dokter, kalau begitu kami permisi dulu" Gide yang sangat bahagia ingin segera memberikan kabar suka cita ini kepada seluruh keluarga besar Anderson.
Tanpa menunggu lama, mereka langsung melakukan panggilan video ke seluruh keluarga besar untuk memberikan kabar gembira tersebut. Duo grandma yang mendengarnya pun langsung menyambut dengan suka cita serta meminta semua anggota keluarga datang ke rumah utama untuk berkumpul sebagai tanda ucapan syukur atas kehamilan Rachel. Perasaan dan raut bahagia sontak memenuhi seluruh penjuru rumah utama. Akhirnya setelah begitu banyak drama, Rachel dan Gide kini menemukan kebahagiaan mereka yang sesungguhnya.