
Waktu berjalan begitu lambat bagi Rachel. Setelah hampir satu minggu ia dirawat di rumah sakit dan satu minggu beristirahat di rumah untuk memulihkan kondisinya, akhirnya hari pernikahan yang direncanakan oleh keluarga besar mereka pun tiba.
Tok Tok Tok,,
"Rach, apa kau sudah siap?" Sera masuk ke dalam kamar hotel sang calon pengantin wanita, sementara Gamal menemui pengantin prianya.
"Kau cantik sekali" Sera tersenyum kepada sepupunya itu untuk menghibur.
"Terima kasih" Rachel membalas senyuman Sera dengan terpaksa sambil menahan tangisnya.
"Jangan menangis lagi sayangku, percayalah semua akan baik-baik saja" Sera menggenggam tangan Rachel.
"Aku sungguh tidak siap!" Rachel kembali meneteskan air matanya.
"Dengarkan aku, pria yang akan menjadi suamimu adalah pria yang sangat baik, meskipun saat ini belum ada cinta diantara kalian, tapi aku yakin suatu saat nanti pasti cinta itu akan tumbuh diantara kalian berdua, apalagi ada dia diantara kalian!" Sera mengelus perut Rachel yang masih rata.
"Hiks, hiks hiks" Rachel hanya bisa menangis.
"Sayangkuuuuuu" Sera memeluk Rachel yang masih terguncang.
Tok Tok Tok,,
__ADS_1
"Rachhhh" Gaby muncul dari balik pintu.
"Kak" Sera menatap Gaby penuh arti untuk meminta bantuan menenangkan Rachel.
"Sayang, jangan menangis lagi ya, nanti riasan wajahmu rusak loh, acaranya akan segera dimulai, ayo kita turun ke bawah!" Gaby mengeringkan air mata di pipi Rachel dengan tissue secara perlahan agar riasan wajah calon pengantin itu tidak terhapus.
"Kakkkkk" Rachel memeluk Gaby.
"Kau gadis yang hebat, aku yakin semua akan baik-baik saja!" Gaby membalas pelukan Rachel.
"Ayo, yang lain sudah menunggu kita di bawah" Sera kemudian meraih tangan Rachel dan menuntunnya ke ballroom hotel, tempat dimana acara pernikahan akan berlangsung.
"Wahhhh cantiknya pengantin wanitanya" semua undangan berdecak kagum melihat betapa Rachel begitu cantik memukau.
"Kau sangat cantik Rach" Gide berbisik di telinga Rachel untuk menghiburnya saat mereka bertemu di depan pelaminan.
"Semua pasti akan baik-baik saja, jadi kau tidak perlu khawatir ya" Gide dengan begitu sabarnya memberi semangat kepada Rachel yang masih terlihat belum siap menghadapi hari pernikahan mereka.
"Terima kasih kak" Rachel hanya bisa tersenyum untuk menutupi rasa takut dan gugupnya.
Acara pernikahan pun berlangsung sangat sakral dan meriah. Meskipun belum ada benih cinta diantara kedua mempelai, namun mereka tetap menampilkan wajah tersenyumnya di depan para tamu undangan untuk menjaga nama baik keluarga besar Anderson.
__ADS_1
..........
"Kau mandi dulu ya, aku akan siapkan makan malam untuk kita" Gide berkata kepada Rachel yang kini sudah berada di kamar hotel. Mereka memang memutuskan untuk tidak melakukan bulan madu karena kondisi Rachel yang masih belum sehat seratus persen.
"Iya" Rachel hanya mengangguk lemah.
"Aku ke bawah dulu ya" Gide sengaja ingin memberikan ruang bagi Rachel untuk menenangkan diri setelah semua rangkaian acara pernikahan mereka berlangsung. Ia tau benar bahwa semua ini sangat menguras emosi Rachel.
"Kak" Rachel memanggil Gide.
"Ada apa?" Gide menoleh saat dirinya sudah diambang pintu keluar.
"Tolong bukakan gaunnya" Rachel memunggungi Gide. Ia merasa kesulitan membuka retseleting gaun berbentuk petikut itu karena tulang penyangganya begitu kaku dan tegak lurus.
"Sudah" Gide yang sudah selesai membukakan gaun berkata.
"Terima kasih kak" Rachel kemudian langsung berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi ke arah Gide.
"Sama-sama" jawab Gide sambil memperhatikan Rachel yang sudah menghilanh di balik pintu.
"Hufffff, semoga kau baik-baik saja ya Rach" Gide yang juga belum siap seratus persen menghadapi kehidupan berumah tangga hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
Setelah memastikan bahwa Rachel baik-baik saja dan memang benar-benar mandi, akhirnya Gide pun turun ke bawah, tepatnya di restoran hotel untuk menenangkan dirinya, ditemani oleh Gamal dan juga Dimas yang memang begitu setia kawan.