Cinta Karena Jebakan

Cinta Karena Jebakan
Definisi Jatuh Cinta


__ADS_3

Pagi hari berikutnya Gide kembali berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Meskipun suasana hatinya sudah cukup membaik, serta hubungannya dengan Rachel sudah kembali seperti sebelumnya, namun ia masih tetap ingin membatasi interaksinya dengan Rachel. Ia tidak mau jika hatinya terlibat terlalu jauh dengan Rachel, mengingat bahwa setelah bayinya lahir, mereka akan melangsungkan perceraian.


"Aku sudah berangkat, mungkin akan pulang larut lagi seperti semalam, jadi kau tidak usah menungguku untuk makan malam" Rachel membaca pesan dari Gide pada selembar kertas yang diletakkan di atas nakas di samping tempat tidur Rachel.


"Apa kak Gide benar-benar sangat sibuk di kantor? atau jangan-jangan dia hanya ingin menghindar dariku saja?" Rachel menduga-duga.


Tok Tok Tok,,


"Nyonya, sarapannya sudah siap" pelayan memberitahu Rachel.


"Baik, terima kasih, aku akan segera turun" Rachel menjawab sang pelayan.


Ia pun kemudian bergegas turun ke ruang makan dan menghabiskan sarapannya agar bisa segera berangkat kuliah. Karena hari itu Rachel akan cukup sibuk dengan agenda perkuliahannya di kampus, maka ia pun sejenak melupakan sikap Gide yang mulai berubah padanya.


..........


Sementara itu di kantor pusat Anderson,


"Tumben sekali kau datang pagi-pagi buta begini?" Dimas yang biasanya selalu datang paling awal terkejut melihat Gide sudah datang lebih dulu dibanding dirinya dan duduk di kantin karyawan dengan secangkir kopi ditangannya.


"Aku bangun kepagian tadi, jadi sekalian saja berangkat ke kantor lebih pagi" jawab Gide asal.


"Ohhhhh" Dimas hanya ber oh ria saja. Ia tidak mau membahas lebih lanjut tentang masalah Gide, karena pria itu sepertinya memang tidak mau menceritakan permasalahan yang sedang dihadapinya dengan sang istri.


"Apa Gamal sudah datang?" Gide bertanya tentang keberadaan sang kakak.


"Belum, mungkin sebentar lagi" Dimas melihat jam tangannya, sementara Gide meraih ponselnya dan memencet nomor milik Gamal.


"Kau di mana?" Gide kemudian menelpon Gamal.

__ADS_1


"Aku di lobby, kenapa?" Gamal yang baru tiba dan sedang menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam kantor menjawab panggilan yang dilakukan oleh sang adik.


"Datanglah ke kantin, aku dan Dimas ada di sini" kata Gide kepada sang kakak.


"Ada apa?" Gamal penasaran.


"Sudah jangan bawel, cepat kesini sekarang juga!" Gide kemudian menutup telponnya.


"Tumben kalian pagi-pagi sudah nongkrong disini?" Gamal yang baru tiba langsung duduk di kursi yang kosong. Ia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di kantin, karena posisinya memang tidak jauh dari lobby.


"Aku akan bercerai" Gide berkata to the point.


"Hahh?" Dimas dan Gamal yang terkejut merespon secara bersamaan.


"Setelah Rachel melahirkan aku akan mengurus surat perceraiannya" Gide kemudian menyeruput kopinya.


"Apa kau sudah pikirkan matang-matang?" Dimas menatap intens wajah sahabatnya yang terlihat begitu kacau.


"Kau tau dari mana?" Gamal memicingkan matanya.


"Dia masih ingin hidup bebas" mata Gide mulai basah.


"Dia hanya butuh waktu saja, aku rasa jika kau sedikit bersabar dan mencoba melakukan pendekatan, ia pasti akan bisa luluh" Dimas memberi dukungan kepada sang sahabat.


"Aku sudah mencoba melakukan berbagai cara, tapi dia tetap ingin berada di jalannya" Gide putus asa.


"Beri dia sedikit waktu lagi" Dimas mencoba menasehati Gide.


"Apa kau sudah mengujinya?" Gamal bertanya.

__ADS_1


"Menguji?" Gide tidak paham dengan maksud sang kakak.


"Iya, apa kau ingat dulu waktu aku bersikeras mengatakan masih mencintai Niken dan hanya menganggap Sera adik, kemudian Sera mengujiku dengan berpacaran sama Luke?" Gamal memberi contoh kisah cintanya.


"Maksudmu aku harus pura-pura dekat dengan wanita lain?" Gide yang sangat minim pengalaman akan cinta masih tidak nyambung.


"Yapppp, dulu waktu Sera masih single, aku menganggap bahwa hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik saja, tapi saat Sera berpaling dengan pria lain, disitu aku baru sadar kalau hatiku ternyata sudah sepenuhnya milik Sera, bahkan ketika Niken kembali pun aku sudah tidak memiliki rasa sedikit pun padanya. Seseorang tidak akan pernah tau betapa berharganya orang itu di dalam hidupnya sebelum ia kehilangan orang tersebut!" Gamal mengenang masa-masa galaunya dulu saat harus kehilangan Sera.


"Aku setuju dengan pemikiran Gamal, mungkin saat ini Rachel hanya belum sadar saja bahwa sesungguhnya kau itu adalah orang yang paling dia butuhkan di dalam hidupnya!" Dimas menimpali.


"Eh tapi ngomong-ngomong bagaimana dengan perasaanmu sendiri? apakah sekarang kau sudah mulai mencintai Rachel?" Dimas menyelidik.


"Hufffff entahlah, aku sendiri juga tidak tau!" Gide terlalu polos.


"Ck, kau ini bodoh atau apa sih?" Gamal kesal dengan keluguan sang adik.


"Apa yang kau rasakan saat berada didekat Rachel?" Dimas menggiringnya dengan pertanyaan yang lebih spesifik.


"Aku seperti terserang penyakit jantung, kadang rasanya detak jantungku terasa lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat aku melihat matanya, aku seperti terhipnotis. Bibirnya juga sangat imut, kalau dia sedang kesal aku jadi sangat gemas dibuatnya. Aroma tubuhnya juga selalu membuat aku tidak ingin jauh darinya. Apakah itu yang disebut dengan cinta?" Gide mendeskripsikan perasaannya dengan sangat polos.


"Bwahahahahahahahah" gelak tawa langsung memenuhi seisi kantin saat Gamal dan Dimas mendengarkan penjabaran Gide tentang perasaannya terhadap Rachel.


"Kau ini benar-benar ya, intelegensimu itu diatas rata-rata, tapi urusan begini saja kau tidak paham? dasar bocah dungu, pantas saja Rachel tidak menganggapmu sebagia seorang pria!" Gamal mencebikkan bibirnya.


"Semua yang kau bilang barusan itu adalah definisi dari jatuh cinta, jadi sudah bisa dipastikan bahwa hatimu itu adalah milik Rachel. Nahhhh sekarang tinggal bagaimana usahamu untuk membuatnya juga jatuh cinta kepadamu, supaya cintamu itu tidak bertepuk sebelah tangan!" Dimas mengulum senyumnya melihat betapa sahabat sekaligus adik iparnya ini begitu kelewat lugu.


"Lalu aku harus bagaimana?" Gide menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sini aku beritahu!" Dimas pun kemudian memberikan usulan kepada Gide.

__ADS_1


"Apa mereka mau membantuku?" Gide sangsi.


"Tenang saja, asal kau setuju, biar aku yang mengaturnya!" Dimas memang sangat cocok menjadi penasehat cinta.


__ADS_2